Agam Wispi: Tentang Menjadi Eksil, Puisi Eksil, dan Indonesia (Bagian 3 – Habis)

Print

[3]

Sastra Awang-Awang

Teks di bawah ini transkrip wawancara Hersri Setiawan (HS) dengan Agam Wispi (AW) tentang soal-soal tersebut di atas, dan berbagai soal sekitar itu. Wawancara berlangsung di Verlengde Kerkweg 2 Kockengen Nederland, pada 22 November 1992. 

Baca bagian pertama bisa dilihat di sini dan bagian kedua di sini.

 

HS:    Karena tadi sudah bicara banyak tentang tanah air dan luar-tanah air, dan Agam sudah bilang sekarang menulis untuk Manusia, jadi bagaimana sekarang gambaran Agam tentang “Tanah air”? Kalau kau mendengar kata “Indonesia”, apa itu? Apa yang masih tersisa sekarang?

AW:  Yang ada hanya kebanggaan saja. Kebanggaan bahwa tanah air saya itu indah, ada kelebihannya ini-itu… hanya tinggal kebanggaan. Tapi tidak ada…

HS:    Keterikatan?

AW:  Ya. Keterikatan sudah tidak ada lagi. Saya ini barangkali Bung, kalau bisa dirumuskan, saya ini sudah jadi Orang Indo. Indo (tertawa) yang di Belanda. Indo Indonesia yang ada di Belanda. Ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berakar.

HS:    Nah, ini kan problem sebagai seniman? Terus bagaimana?

AW:  Ya! Artinya saya hidup di awang-awang. Ya, hasil saya hasil awang-awang itulah!

HS:    Bung tidak merasa punya akar?

AW:  Tidak. Sekarang tidak merasa integrasi betul dengan masyarakat Belanda ini. Ya, toh artinya? Belumlah. Katakanlah belum. Yang berakar itu kan artinya saya bisa betul-betul mencerminkan perasaan saya sebagai orang yang tinggal di Belanda. Tapi kan saya masih juga cinta, ada rasa kepada Indonesia itu. Alat saya, bahasa saya Indonesia. Inilah ikatan yang satu-satunya. Tinggal bahasa Indonesia itu saja.

HS:    Tapi kau masih mimpi dalam bahasa Indonesia?

AW:  O ya! Ya. Ya, jelas.

HS:    Jadi bawah sadar Bung masih Indonesia?

AW:     Masih. Masih itu tetap. Cuma kan tidak berpucuk dia. Tidak berpucuk itu karena tidak menghirup udara Indonesia. Udara indonesianya ini yang hilang. Jadi kalau aku ditanya sekarang, saya mau pulang, untuk apa? Untuk menghidupkan ini. Pucuk-pucuk ini. Lain tidak. Karena akarnya sudah ada. Tapi saya berada di negeri Belanda. Dia tidak berakar di sini. Berpucuk pun kurus….

HS:    Jadi apakah, pada suatu ketika, yang namanya sastra eksil selalu sastra awang-awang?

AW:  Rasa awang-awang dilihat dari…, bahwa dia hidup di dua dunia. Itu. Dua dunia. Maka itu tadi aku bilang jadi Indo, bukan? Dua dunia. Satu dunia Indonesia, satu dunia luar negeri. Ini sastra awang-awang. Tapi sebagai sastra tentu dia konkret dengan kehidupan eksil. Kehidupan eksil itu kan konkret. Itulah sebenarnya sumbangan kepada sastra Indonesia. Kalau dia mau tulis kedudukannya sebagai orang yang hidup di awang-awang. Saya tidak akan menyanyi “Wilhelmus”, saya akan tetap menyanyi “Indonesia Raya”. Begitulah umpamanya, ya tokh? Tapi saya tidak akan menyanyikan “Indonesia Raya” di sini. Nah, itu juga kan?

HS:    Tidak ada gunanya.

AW:  Tidak ada gunanya. Tidak ada fondamennya. Ya, tidak bisa melahirkan nyanyi itu. Tapi kalau saya mendengar keroncong, kan tetap saya merasa bisa “Okh…, kembali Indonesia itu.” Atau saya baca sastra-sastra, hasil sastra Indis umpamanya. Timbul itu… kembali itu… apa itu namanya… melankoli… atau, atau… kerinduan kepada Indonesia zaman mereka itu hidup. Yang saya juga pernah hidup pada zaman itu.

HS:    Karena tadi sudah bicara soal menulis untuk Manusia. Siapa saja di mana saja… terus bagaimana Agam melihat Indonesia sekarang? Apakah sistem politiknya, dinamika masyarakatnya… dan apa masih merasa ada komitmen dengan apa yang terjadi di Indonesia?

AW:  Barangkali pun sudah tidak ada. Saya harus bisa melihat apa yang terjadi di Indonesia itu dari sudut manusianya tadi. Jadi ambillah umpamanya masalah Wiji Thukul. Konkret. Saya kan melihat manusianya. Manusia Wiji Thukul. Jadi, umpamanya, waktu begitu dapat kabar tentang Wiji Thukul, pikiran yang terutama timbul pada saya bagaimana nasib anak-istrinya. Kan itu? Bahwa ada soal rezim, itu jelas. Itu tidak perlu lagi dibicarakan sama saya. Itu sudah soal yang jelas. Tapi bagaimana Wiji Thukul sebagai seorang penyair muda yang sedang tumbuh dalam dunianya sendiri? Jadi timbul protes yang bersifat kemanusiaan. Kalau kita bicara soal kemanusiaan, ya sebenarnya melihat dari sudut manusia. Jadi reaksi yang pertama pada waktu saya mendengar kabar dari Bung tentang Wiji Thukul itu  adalah bagaimana anak-istrinya. Ini sebenarnya manusia saja, kan? Tidak soal rezim tidak soal apa. Itu sudah diketahui dunia. Sudah jelas.

HS:    Bagaimana sikap Agam dalam melihat rezim di Indonesia. Bekas tanah air Bung?

AW:  Sekarang….

HS:    Apakah juga masih ada rasa committed dengan perkembangan situasi di Indonesia seandainya nanti menjadi baik? Apa ada harapan begitu, atau ya biarlah itu berjalan dengan waktu?

AW:  Yang terakhir itu yang ada pada saya. Sebab itu tidak bisa dipaksa. Saya pikir hampir persis seperti pendapat Pram sekarang. Revolusi itu hanya suatu yang dibikin-bikin. Bukan lahir dari bawah. Hanya dibikin-bikin. Dan apa yang hanya dibikin-bikin, ya  pada akhirnya gagal. Tapi akan ada perkembangan tokh? Cuma saya melihat Indonesia itu sudah mencapai suatu taraf perkembangan baru. Dan taraf perkembangan baru ini lama tentu.

HS:    Apa yang dimakud dengan perkembangan baru?

AW:  Artinya kalau kita lihat kegiatan sastranya, kegiatan kebudayaannya… sudah lebih dari yang dulu. Dia lebih meluas, dan mulai mencakup banyak hal, tidak sempit. Walaupun dia belum seperti yang kita inginkan. Itu saja.

HS:    Belum seperti yang kita inginkan itu, yang kita inginkan sekarang atau kita inginkan dulu?

AW:  Yang kita inginkan sekarang. Yang dulu sudah tidak ada. Nonsens itu! Sudah omong kosong. Buat saya sudah berakhir. Jadi buat saya yang dulu itu sudah selesai. Oleh karena itu, kalau ada orang mau kembali mengungkit-ungkit apa yang kita lakukan dulu, buat saya sudah ketinggalan. Ketinggalan zaman. Termasuk ide-ide soal “Seni untuk Rakyat”, “Politik adalah Panglima”… semua sudah ketinggalan. Sekarang harus lebih daripada itu. Nah, rezim ini kan rezim yang anti-manusia sebenarnya. Ini yang harus kita lihat. Bagaimana mengangkat manusia. Jadi penglihatan pada rezim itu harus dilihat juga dari sudut ini. Dari sudut bagaimana penilaian rezim ini dalam nilai-nilai manusia.

HS:    Tapi tentang rezim-rezim yang anti-manusia itu, bagaimana menurut Bung, dalam hubungannya dengan kreativitas sastra atau seni lainnya, apakah tidak perlu dipikirkan?

AW:  O ya, o ya! Saya ambil satu contoh saja. Untuk pertama kalinya saya datang di Belanda ini, baru saya tahu kejahatan terhadap penyair Mandelstam umpamanya. Di situ baru, kalau dulu orang bicara soal Stalin pernah membunuh sekian ribu orang…, masih ya…, saya belum terbuka. Mengerti maksudku? Dalam arti yah…, mungkin disebut propaganda, atau ya… belum dibuktikan. Segala macam alasan bisa dicari. Tapi sesudah saya membaca tulisan Mandelstam, dan karena itu dia dibuang sampai mati di Siberia, dan tidak pernah lagi ketemu istrinya seumur hidup, kuburannya pun tidak diketahui, saya luka. Nah ini. Rasa luka ini rasa manusia. Jadi tidak peduli. Kalau umpamanya, ambil saja masalah hukuman mati. Atau kekejaman-kekejaman yang bersifat teror. Kan tidak peduli? Di mana saja harus kita lawan? Apakah di Indonesia, ataukah yang namanya di negeri sosialis yang pernah kita puja?! Itu juga harus dilawan. Sama saja. Kalau di negeri-negeri demokrasi terjadi, ternyata ya, rakyat di sini kan juga bangkit? Tidak akan mau mereka diperlakukan begitu. Nah, di situ kita menemui salurannya. Oleh karena itu, pada mula saya datang ke mari sikap saya berhubungan dengan gerakan-gerakan yang ada di sini. Karena… termasuk gerakan Belanda sendiri. Oleh karena mereka sebenarnya berjuang untuk mempertinggi tingkat manusia itu. Mempertinggi… apa namanya, nilai manusia!

HS:    Harkat manusia.

AW:  Harkat. Mempertahankan nilai manusia itu. Kalau saya mendengar umpamanya perjuangan untuk milieu sekarang. Bagaimana dengan perjuangan milieu di Indonesia? Kan itu hancur?! Kita kan pernah bicara soal haiku*. (lihat Catatan 1) Haiku itu betul-betul memberi saya satu senjata. Artinya kepada saya diajarkan, bahwa pohon itu juga bernyawa. Yang dulu tidak pernah saya pikir. Batu juga berhak untuk hidup. Nah, sekarang? Hutan-hutan ditebas seenaknya di Indonesia? Sedang orang sudah bicara tentang ozon yang bolong segala macam… Tidak ada perlawanan! Di sini segera muncul Green Peace atau segala macam. Kan kita bisa ikut serta? Dengan ini sebenarnya kalau mau dikatakan dengan komitmen seperti tadi itu. Komitmen manusia dan alam. Jadi sekarang saya lebih melihat Manusia dan Alam, bukan lagi Indonesia. Akar Indonesia itu sudah hilang kalau dilihat dari sudut ini.

HS:    Suatu ketika apakah tidak akan timbul problem dalam masalah cara berekspresi, atau alat berekpresi? Karena alat ekspresi sastrawan bahasa, dan dalam hal ini bahasa Indonesia. Tapi Bung mau menjadi juru bicara Manusia yang menjadi non-bahasa. Apa suatu ketika tidak akan timbul problem?

AW:  Saya kira problem itu sudah saya lewati. Di dalam gaya, gaya puisi, ada periode sampai tahun 55 di Indonesia. Semua “Gaya Dharta”* (lihat Catatan 2). Yang begini-begini… pelan-pelan itu surut. Dan masing-masing mencari, menemui dirinya sendiri. Saya kembali, saya lepas dari problem ini terutama sesudah di Angkatan Laut. Karena saya bisa melihat Indonesia seluruhnya, dan jauh dari… ada afstand dari kegiatan politik sehari-hari di Jakarta, sehingga saya berdekatan dengan alam. Jadi kembali lagi pada haiku tadi. Saya pikir begitu. Tidak akan merusak puisi. Puisi akan mendapatkan ekspresinya sendiri. Menemukan ekspresinya sendiri di dalam problem manusia ini. Bahkan sekarang saya kira belum cukup. Belum. Menurut saya belum menemukan sebenarnya. Belum betul-betul menemukan. Ini yang masih saya cari. Haiku itu kan salah satu usaha pencarian. Ya tokh? Dan kita teruskan dengan sasafas* (lihat Catatan 3). Itu sebenarnya satu usaha pencarian.

HS:    Pencarian bentuk atau pencarian apa yang dimaksud?

AW:  Pencarian nafas. Nafas baru. Pengucapan baru. Ungkapan baru. Itu yang aku cari. Jadi umpamanya, katakanlah, seperti… apa ya, ungkapan baru contoh-contohnya agak rumit juga dicari itu dalam hasil-hasil saya. Tapi ada itu. Yang saya pikir… sudah sama sekali… yang penting sudah mulai hapus bombasme itu. Pada saya sudah hapus….

***

Catatan:

 

  1. Haiku ialah puisi Jepang kuno yang menggunakan khayal dan perbandingan yang diambil dari alam; terdiri dari 17 suku kata dalam tiga baris, yaitu baris pertama dan ketiga masing-masing 5 suku kata, dan baris kedua 7 suku kata. Sekitar 1962 Iramani, nama pena Njoto, telah menulis (di Harian Rakjat) puisi-puisi pendek demikian yang dinamainya “haiku modern”. Agam Wispi sendiri akhirnya mengembangkan puisi tiga baris, bukan haiku, tapi terzina.
  2.  Dharta, yaitu A.S.Dharta, juga dikenal dengan nama pena Klara Akustia; penyair, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Lekra periode pertama, sebelum digantikan oleh Joebaar Ajoeb (1958).
  3. “Sasafas”, singkatan dari “sajak satu nafas”; eksperimen bentuk Agam Wispi, yaitu sajak-sajak “satu kali tarikan nafas”, terkadang berupa satu kalimat panjang, terkadang dua baris. Contoh: “pohon-pohon tak berdaun di akhir tahun, apa kalian tak kedinginan?” atau: “lapangan-rumput berselimut embun beku putih pagihari / dibangunkan matahari” (dari “Detik-detik Waktu, Detak-detak Jantung” dalam kumpulan “Dokumentasi Hersri”). Kockengen, 5 Januari 2003.

 


comments powered by Disqus