Materialisme Historis, Gender, dan Evolusi Keluarga

Fransiskus Hugo, Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran, anggota Perhimpunan Muda

 

Judul: Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara
Penulis: Frederick Engels
Editor: Joesoef Isak
Penerbit: Kalyanamitra, 2011
Tebal: 258 halaman

Asal-Usul-Keluarga-cvr

 

‘Karena eksploitasi dari satu kelas terhadap kelas lainnya adalah basis peradaban, maka seluruh perkembangannya bergerak di dalam kontradiksi yang berkelanjutan.’ Frederick Engels

 

 

Pengantar

Frederick Engels adalah nama yang sering kita dengar dibalik nama Karl Marx. Hampir dalam semua tulisan-tulisan Marx, terdapat banyak kontribusi dari Engels. Ini dapat kita lihat dari pencatatan nama Engels dibelakang nama Marx dalam beberapa tulisannya. Seperti contohnya dalam The Holy Family (1845), The German Ideology (1845), The Communist Manifesto (1848) dan beberapa karya serta surat-surat lainnya. Namun, ternyata Engels juga menyumbangkan salah satu karya terbesarnya sendiri yaitu The Origin of the Family, Private Property and the State yang ditulisnya pada tahun 1884 setelah kematian kawan seperjuangannya. Tulisan ini pertama kali dipublikasikan pada Oktober 1884 di Hottingen-Zurich. Pada cetakan keempat Engels membuat perbaikan terhadap buku ini, khususnya pada bagian pengantar yang baru dengan data tambahan yang berkaitan. Edisi perbaikan tersebut diterbitkan pada 1891. Baru pada tahun 1942 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Alick West.[1] Pada April 2004, penerbit Kalyanamitra dengan editor Joesoef Isak[2] menerbitkan buku pertama The Origin of the Family, Private Property and the State dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Buku ini merupakan salah satu karya penting yang pernah ditulis oleh Engels. Selain itu, buku ini wajib dibaca oleh kita, mengingat pentingnya metode berpikir Engels serta isi tulisannya yang patut dicontoh. Dalam tulisan ini, Engels menggunakan data-data penemuan yang dimiliki oleh antropolog Lewis Henry Morgan[3] dan Johan Jakob Bachofen.[4] Ia mampu mengkombinasikan data-data dari kedua antropolog tersebut serta dibaca dan diolah dengan metode materialisme dialektis dan historis sehingga terbitlah The Origin of Family, Private Property The State. Engels berusaha menunjukan bahwa masyarakat yang hadir hari ini bukanlah masyarakat yang sama dengan masyarakat yang pernah ada sebelumnya, atau dengan kata lain masyarakat tidaklah statis dan terus berubah. Asal Usul Keluarga juga sering digunakan oleh para aktivis feminisme dalam perjuangan mereka. Maka dari itu, dalam tulisan ini saya akan mengaitkan Asal Usul Keluarga dengan fenomena gender, khususnya feminisme.

Laki-laki dan perempuan sudah hadir sebagai pemeran utama di bumi ini sejak beralihnya mereka dari cara hidup yang arboreal[5] hingga ke terrestrial[6] dalam kisah panjang evolusi. Seiring perkembangan zaman, mereka saling melengkapi satu sama lain, bereproduksi terus menerus hingga meramaikan bumi. Namun, dewasa ini keduanya seakan terpisah. Ada jarak diantara laki-laki dan perempuan. Selain dari jenis kelamin, juga ada jarak yang dinamakan dengan gender. Jarak yang seakan alamiah, sehingga mereka pun kini membedakan dan menyebutnya dengan sebutan ‘pria dan wanita’. Pengertian jenis kelamin atau seks menurut Mansour Fakih (1996) adalah pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis. Misalnya, jenis laki-laki memiliki penis, memproduksi sperma dan memiliki jakun. Sedangkan, jenis perempuan memiliki vagina, memiliki ovarium dan payudara sebagai alat menyusui. Jenis kelamin ini, seperti disebutkan oleh Mansour Fakih, secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat (Mansour Fakih, 1996:8). Sedangkan gender merupakan suatu sifat yang melekat pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan secara kultural.

Akhir-akhir ini, mulai dari pakaian, toilet, angkutan umum, hingga benda seperti deodorant pun dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini menciptakan jarak, dan jarak ini menjadi kesenjangan. Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan ini akhirnya berujung pada pertentangan. Ada apa sesungguhnya dibalik fenomena gender ini? Melalui karya Engels inilah saya akan menunjukan apa yang sesungguhnya terdapat dibalik fenomena serta konflik-konflik yang berkaitan dengan gender.

 

Sumbangsih Marxisme dalam Memandang Gender

Kini pertanyaan yang muncul: sesungguhnya ada apa dibalik pertentangan ini? Apakah pertentangan ini baru saja hadir dalam sejarah manusia? Mungkin kali ini kita akan menjawab pertanyaan ini melalui beberapa teori yang disebut dengan teori konflik. Banyak teori konflik, atau yang Mansour Fakih (1996) sebut dengan paradigma konflik dalam Feminisme. Diantara berbagai teori yang ada adalah feminisme radikal, feminisme marxis, feminisme sosialis, eco feminism, black feminism, muslim feminism dan lain-lain.[7] Dalam kesempatan ini kita akan mulai membahas dari awal teori konflik, yaitu dari filsafat Hegel.

Filsafat Hegel adalah filsafat yang menekankan pada relasi internal. Relasi internal merupakan pandangan yang melihat bahwa esensi atau identitas sesuatu dikonstitusikan oleh relasinya dengan hal yang lain dan ini berlaku universal.[8] Contohnya adalah pernyataan buku adalah bukan botol, sehingga identitas buku hanya dapat hadir apabila direlasikan dengan benda-benda yang bukan buku. Hegel menyebut ini dengan negasi internal.[9] Dalam buku itu terdapat identitas buku itu sendiri dan bukan buku. Hegel juga mengembangkan teori yang disebut dengan dialektika, yaitu ketika suatu tesis selalu memunculkan antitesis yang pada akhirnya melahirkan sintesis, yang kelak sintesis tersebut akan menjadi tesis yang akan ditentang kembali oleh antitesis.

Meski pandangan filsafat Hegel sudah dibantah, filsafat ini cukup berpengaruh kepada pemikir-pemikir yang lain selanjutnya. Salah satu pemikir tersebut ialah Karl Marx dan kawan seperjuangannya, Frederick Engels. Marx mengembangkan pandangan dialektika dari Hegel melalui tulisannya pada tahun 1845 yaitu Theses on Feuerbach. Tak hanya mengembangkan, Marx juga melengkapi dengan menggabungkan pandangannya tentang relasi internal Hegel dengan Hupokeimenon[10] yang diwariskan oleh filsafat Aristoteles. Sehingga cara berpikir Marx yaitu esensi dari benda-benda mengkondisikan relasi-relasinya. Berbeda dari Hegel yang menjelaskan sifat hadir terlebih dahulu dibanding adanya sesuatu, Marx berangkat dari adanya sesuatu terlebih dahulu yang menjadi landasan bagi keberadaan sifat-sifat tersebut. Marx sampai kepada suatu ontologi yang disebut dengan materialisme historis, yaitu basis atau realitas alam mengkondisikan supratruktur atau realitas sosial. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi suprastruktur untuk mengkondisikan basis, sejauh memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan.

Marx menjelaskan dalam The German Ideology (1847) bahwa premis pertama dari sejarah manusia ialah keberadaan manusia yang hidup. Mereka mulai dibedakan dari hewan ketika mereka menciptakan sarana pemenuhan kebutuhannya.[11] Karena tidak seperti mamalia lainnya, manusia memiliki keterbatasan fisik. Maka manusia membutuhkan sarana penyokong kehidupannya. Sarana kebutuhan yang dibuatnya tersebut sudah pasti berasal dari alam. Alam sebagai penyokong kehidupan manusia dan manusia menggunakan alam tersebut untuk mengkondisikan hidupnya. Maka terciptalah kegiatan produksi, atau kerja, yaitu kegiatan mengolah benda-benda yang berada di luar diri manusia. Di sinilah pertemuan antara realitas alam dan realitas sosial, melalui produksi memenuhi kebutuhan, yang tak lain adalah kegiatan ekonomi. Oleh karena itu perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat dilihat dari apa yang disebut Marx dengan basis atau mode produksi suatu masyarakat. Lalu, dalam mode produksi tersebut terdapat relasi produksi dan kekuatan produksi. Oleh karena itu mode produksi merupakan penghubung antara realitas alam dengan realitas sosial itu sendiri.

Dalam tulisannya Pre-Capitalist Economic Formations (1857), Marx memaparkan bahwa dalam sejarah perkembangan masyarakat manusia terdapat banyak jenis-jenis mode produksi. Salah satunya mode produksi komune primitif, asiatik, romawi-yunani atau antik yang nantinya akan beralih bertahap menjadi mode produksi feodalisme dan setelah itu berkembang menjadi kapitalisme. Setiap mode produksi diatas memiliki relasi produksi dan kekuatan produksinya masing-masing. Kapitalisme merupakan mode produksi terbaru dan termutakhir diantara mode produksi yang pernah ada sebelumnya. Kapitalisme memiliki relasi produksi kerja upahan dan kekuatan produksi seperti modal, uang, tanah dan lain-lain, sehingga membuatnya menjadi mode produksi paling rasional. Namun, peralihan-peralihan ini tidak dengan sendirinya karena takdir Yang Maha Kuasa, melainkan peralihan ini dikondisikan oleh manusia yang dalam sejarah merupakan peran utamanya. Dalam kisah panjang ini pasti ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang menindas dan ada yang ditindas, ada juga yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi. Dalam istilah Marx, dalam kapitalisme terciptalah dua kelas yaitu kapitalis yang memiliki sarana produksi dan proletariat yang tidak memiliki sarana produksi. Di sini pertentangan pun terjadi sangat kontras. Di satu sisi, untuk kepentingan produksi komoditi, kapitalis membutuhkan kerja dari kaum proletariat, di sisi yang lain, proletariat tak memiliki sarana produksi untuk hidup sehingga hanya bisa hidup dengan menjual tenaga kerjanya kepada kapitalis. Namun, pertentangan tentang kelas ini tidak akan dibicarakan dalam tulisan ini, mungkin dalam tulisan yang lainnya.

Seperti juga Marx, menurut Lewis H. Morgan, dalam sejarahnya manusia melewati tahap-tahap perkembangan dari Masa Kebuasan, Masa Barbarisme dan Masa Peradaban.[12] Ini yang kemudian akan kita bahas di sini, dimana Engels menggabungkan pemikiran materialisme historisnya dengan tahapan sejarah serta catatan-catatan yang dipaparkan Lewis H. Morgan melalui karyanya The Origin of the Family, Private Property, and The State (1884). Dalam karya ini Engels membuktikan beberapa penemuan yang sebelumnya dipaparkan oleh J. J. Bachofen yaitu analisis tentang perubahan bentuk-bentuk keluarga dan pertalian darah didalamnya. Hal ini mengingat keluarga merupakan prasyarat dari penggunaan tanah untuk sarana produksi dan karenanya pula tercipta pembagian kerja.[13] Menurut Engels, bentuk keluarga yang ada hari ini adalah merupakan bentuk keluarga yang diciptakan dalam sejarah. Bentuk keluarga juga memiliki tahap-tahap perkembangannya yaitu dari yang paling primitif yaitu keluarga Consanguine, keluarga Punaluan, keluarga Pairing atau keluarga Berpasangan dan keluarga Monogami. Dengan permasalahan gender yang dewasa ini mulai hangat dibicarakan, penjelasan dalam tulisan Engels ini nampaknya dapat menyentil kebudayaan kita hari ini, karena bebapa penjelasan dan bukti yang diberikan berbeda dengan yang hari ini kita alami.

Keluarga2

 

Asal Usul Keluarga

Tahap perkembangan keluarga paling awal adalah keluarga Konsanguin (Consanguine). Engels menjelaskan bahwa dalam tahap ini manusia masih mengawini kerabat dalam satu keluarga dekat. Mereka saling kawin antar laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki dapat mengawini perempuan serta lebih dari satu, begitu juga perempuan dapat mengawini laki-laki lebih dari satu. Anak-anak mereka merupakan saudara kandung dan dapat juga menikah antar mereka. Mereka semua merupakan suami dan istri untuk semua dan mereka semua juga kakak beradik. Mereka hanya dipisahkan lewat usia. Misal, generasi kakek, generasi anak, dan generasi cucu. Sayangnya, contoh untuk keluarga Konsanguin ini sudah tak dapat lagi ditemukan, karena bentuk keluarga ini merupakan bentuk keluarga paling awal dalam sejarah manusia.

Dalam keluarga Punaluan, yaitu perkembangan keluarga setelah keluarga Konsanguin, anggota keluarga mengenali pemisahan antara ayah, ibu dan anak-anaknya seperti dalam bentuk keluarga sebelumnya. Dalam keluarga ini juga sudah adanya pembatasan perkawinan, seperti contohnya pelarangan perkawinan antara saudara kandung atau kakak beradik khususnya yang masih satu keturunan dari satu ibu. Pelarangan perkawinan antara saudara sedarah pun akhirnya berkembang menjadi pelarangan perkawinan dengan sepupu. Pelarangan tersebut berkembang dalam peraturan-peraturan. Dalam keluarga ini dimulailah apa yang disebut dengan gens. Mereka yang merupakan kumpulan dari anak perempuan keturunan ibu mewarisi apa yang disebut dengan gens tersebut, sedangkan anak laki-laki tidak mewarisinya. Mengapa? Karena seorang anak tak mengenal siapa ayahnya, namun ia mengenal siapa ibunya dan hanya ibu yang juga mengenal siapa saja anak-anaknya. Melalui apa yang disebut dengan mother-right gens mereka tinggal dalam suatu keluarga yang satu keturunan ibu.[14] Mereka mengelola tanah, rumah, anak-anak dan lain-lain secara bersama/sosial. Engels menyebutnya dengan masyarakat Komunis Primitif.

Setelah itu hadirlah keluarga yang baru yaitu keluarga Pairing atau keluarga Berpasangan. Pelarangan-pelarangan dalam perkawinan yang telah ditetapkan sebelumnya membuat perkawinan grup menjadi sulit sehingga muncullah keluarga Berpasangan ini. Dalam tahap ini sudah terlihat jelas pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, khusunya di belahan dunia lama[15] yang menemukan domestifikasi hewan, penemuan roda serta penggunaan logam. Karena sudah tinggal menetap dan bertani di suatu tempat, kegiatan perburuan sudah tidak lagi menjadi kegiatan sehari-hari. Ini merupakan masa dimana kembalinya laki-laki ke dalam wilayah domestik atau rumah tangga, ia tak lagi berburu melainkan bertani. Dalam tahap ini terjadi perubahan-perubahan yang berpengaruh bagi kelanjutan sejarah manusia. Perubahan tersebut ialah perubahan tentang pewaris gens. Awalnya dengan mother-right, hanya anak-anak perempuan dari keturunan ibu yang mendapatkan warisan, namun karena pengaruh ekonomi-politik yang kuat juga dimiliki oleh laki-laki, kini anak-anak laki-laki pun juga mendapatkan warisan, warisan dari ayah. Engels menulis:

‘Dengan demikian, ketika secara proporsional kekayaan meningkat, maka di satu sisi, hal ini memberikan status lebih tinggi pada laki-laki didalam keluarga ketimbang perempuan –pada sisi lain menciptakan dorongan untuk menggunakan kekuatan posisinya guna menggulingkan pengaturan pewarisan tradisional lewat garis ibu, demi kepentingan anak-anaknya. Tetapi, hal ini tidak mungkin terjadi selama keturunan didasarkan lewat garis ibu. Maka, hak lewat garis ibu harus digulingkan, dan rupanya terjadilah penggulingan itu. Hal ini tidak terlalu sulit dilakukan, seperti yang mungkin kita bayangkan sekarang. Karena revolusi ini –salah satu peristiwa paling menentukan yang pernah dialami manusia- mampu mengambil-alih tempat tanpa menganggu seorang pun anggota keluarga gente yang hidup. Seluruh anggota gente tetap dapat hidup seperti biasa. Keputusan yang cukup sederhana yaitu bahwa dimasa depan anak cucu laki-laki harus tetap di dalam gente ayah, tetapi anak perempuan harus dikeluarkan dari gente dengan cara ditransfer ke dalam gente ayah mereka. Dengan cara demikian, garis keturunan pada garis perempuan dan hak pewarisan melalui ibu digulingkan, digantikan oleh garis keturunan menurut laki-laki dan hak pewarisan melalui ayah.’ (Engels, 2011: 38)

Jelas dengan yang dipaparkan Engels diatas, terjadi perubahan dalam keluarga. Ini bukan merupakan asali dari sejak kehadiran manusia, namun sebuah ciptaan atau rekayasa dari manusia sendiri. Oleh karena perubahan ini maka mother-right ditumbangkan dan berarti pula kekalahan dari para perempuan. Dari saat itulah perempuan mulai mendapatkan perlakuan yang berbeda dari laki-laki.[16] Dengan mengelompokan diri masing-masing untuk anak laki-laki dari satu keturunan, serta memiliki sarana produksi seperti hewan ternak serta budak, mereka mulai memisahkan diri dan mulai menciptakan nama dari nama ayah bagi keturunan anak laki-laki.

Tahap perkembangan selanjutnya merupakan tahap keluarga Monogami yang merupakan perkembangan dari keluarga berpasangan. Keluarga monogami ini merupakan tanda dari dimulainya suatu peradaban. Keluarga Monogami bercirikan supremasi laki-laki dan hak-hak waris yang jatuh ke anak laki-laki dari ayah. Mother-right yang pernah ada sudah ditumbangkan. Perkawinan-perkawinan yang ada sebelum masa ini seperti perkawinan kelompok sudah dianggap tabu. Dalam bentuk keluarga Monogami inilah penindasan laki-laki terhadap perempuan semakin menampak. Semakin terkondisikannya pemahaman bahwa laki-laki pencari nafkah di luar rumah dan perempuan sebagai penerima nafkah bekerja hanya dibidang domestik. Pemahaman seperti ini yang hingga hari ini masih dominan diadopsi masyarakat dunia.

 

Bicara Gender Artinya Bicara Moda Produksi

Kita sudah melihat bagaimana pertentangan antara laki-laki dan perempuan sejak kehadirannya di bumi. Pertentangan tersebut terlihat jelas dalam bentuk keluarga-keluarga yang telah diceritakan diatas. Pertentangan itu muncul dari awal sejarah manusia yaitu pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan untuk siapa yang harus merawat anak[17] hingga yang kini ada di negara-negara Arab modern seperti misalnya perempuan yang tidak boleh mengendarai mobil sendiri. Hal ini merupakan fenomena yang terlihat di dunia modern hari ini, meskipun pada kenyataannya kapitalisme telah membawa keluar perempuan dari rumah mereka untuk masuk ke dalam pabrik-pabrik. Melalui penindasan yang dikemas secara halus, lewat konstruksi kultural dan sosial, beberapa dari perempuan hari ini pun terlihat tidak sadar akan posisi seharusnya dalam masyarakat. Mereka lebih menerima dengan lapang dada apa yang terjadi dalam dunia yang penuh dengan supremasi laki-laki ini.

Pembentukan konsep gender ‘pria dan wanita’ hingga perkembangannya hari ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat perempuan, juga laki-laki, merasa hal ini adalah sesuatu yang kodrati. Dalam terminologi marxian, pemisahan gender berada dalam ranah suprastruktur seperti kebudayaan, politik, olahraga, seni hingga fashion yang bertopang pada basis, yaitu realitas ekonomi. Pembagian kerja yang berada di aras basislah yang menciptakan pandangan tentang bagaimana semestinya sifat dari suatu jenis kelamin dan bagaimana mereka berperilaku, yang pada dasarnya merupakan konstruksi manusia hasil dari perubahan-perubahan dan revolusi. Padahal, bila kita kembali membaca tulisan dari Engels ini, kita sadari bahwa masyarakat yang seperti ini baru muncul setelah keluarga Monogami terbentuk, yaitu, yang menurut Morgan ketika peralihan dari Barbarisme ke Peradaban; ketika terjadi peralihan hak milik warisan yang tadinya diturunkan kepada anak-anak perempuan dari satu ibu kini anak-anak laki-laki dari satu ayah. Maka, adalah hal yang aneh dan merupakan sebuah ketidakadilan apabila kita melihat tatanan suprastruktur yang saat ini membuat posisi perempuan subordinat terhadap laki-laki, mengingat dalam masyarakat Komune Primitif peran perempuan justru sangat dihormati.[18]

Bila kita menggunakan cara pandang Engels, kita melihat bahwa apa yang dinamakan dengan kekuatan produksi yang tadinya dimiliki oleh perempuan, kini dimiliki oleh laki-laki. Hal ini membuat laki-laki memiliki kekuatan untuk menguasai tak hanya sarana produksi, namun juga lawan jenisnya yaitu kaum perempuan. Pandangan ini yang digunakan salah satu teori konflik yaitu teori dari Marx dan Engels.

Seiring dengan penindasan antara satu kelas terhadap kelas lain, yaitu kelas kapitalis terhadap kelas proletariat, kita juga harus menyadari bahwa penindasan atas kaum perempuan ini disatu sisi sangat menguntungkan kapitalisme. Tanpa tenaga kerja dibawah kendali kapitalisme, uang tetaplah uang, bukan kapital. Begitu juga sarana produksi dan bahan baku yang tidak dalam proses kerja oleh kerja manusia hanyalah seonggok barang, bukan kapital. Untuk itu kapitalis membutuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan efisiensi kerja.[19] Penindasan terhadap perempuan ini dilanggengkan karena, pertama guna membuat pekerja laki-laki yang bekerja untuk lebih produktif; kedua upah buruh perempuan yang lebih murah daripada buruh laki-laki, yang akhirnya menguntungkan akumulasi kapital, dan; ketiga, masuknya perempuan sebagai buruh juga menguntungkan sistem kapitalisme dengan reproduksi tenaga kerjanya yang semakin lancar yang nantinya digunakan untuk mencapai nilai lebih dalam proses sirkulasinya. Hal ini mengingat usia dan jenis kelamin tidaklah menjadi masalah untuk mengekstraksi nilai-lebih dalam sirkulasi ekonomi kapitalisme.[20] Oleh karena itu, bicara soal kesetaraan gender berarti bicara tentang basis ekonomi apa yang ada di dalam suatu masyarakat dalam suatu waktu dan ruang tertentu. Dengan kata lain, bicara soal gender hari ini tak lepas juga dari bicara soal kapitalisme. Bicara soal kapitalisme berarti bicara soal relasi antara siapa yang memiliki sarana produksi dan siapa yang tidak memilikinya. Dibalik fenomena gender ada suatu sejarah serta mekanisme yang terjadi pada tatanan moda produksi. Hal inilah yang harus kita ketahui supaya kita tidak terjebak oleh kenyataan-kenyataan yang hadir hanya secara empiris.

Akhir kata, sama seperti moda produksi feodalisme yang dihancurkan oleh kapitalisme, begitu pula yang akan terjadi pada moda produksi kapitalisme. Sebagaimana kata dari guru saya di sela-sela perkuliahan, ‘selama itu masih bikinan manusia, maka masih bisa dihancurkan dan bisa diubah.’

 

Daftar Pustaka:

Engels, F. (2011). Asal Usul Keluarga, Kepemilikian Pribadi dan Negara. Jakarta: Yayasan Kalyanamitra.

Engels, F. (1970). The Origin of the Family, Private Property and the State. New York: International Publishers.

Fakih, M. (1992). Analisis Gender Transformasi sosial. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Knight, C. (1991). Blood Relations: Menstruation and the Origin of Culture. New Haven: Yale University Press.

Marx, K. (1972). Pre-Capitalist Economic Formations. New York: International Publishers.

Marx, K., & Engels, F. (1848). The Communist Manifesto. Retrieved from marxists.org: http://www.marxists.org/archive/marx/works/1848/communist-manifesto/index.htm

Marx, K., & Engels, F. (1998). The German Ideology. New York: Promotheus Books.

Mulyanto, D. (2012). Genealogi Kapitalisme. Yogyakarta: Resist Book.

Suryajaya, M. (2012). Materialisme Dialektis : Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Resist Book.

 

 

[1] Alick West (1895-1972) merupakan seorang penerjemah, sastrawan dan ilmuwan Marxis asal Inggris.

[2] Joesoef Isak (1928-2009) merupakan seorang intelektual kiri asal Indonesia, jurnalis, penerjemah dan pendiri penerbit Hasta Mitra.

[3] Lewis Henry Morgan (1818-1881) merupakan antropolog dari Amerika Serikat yang meneliti tentang masyarakat Indian Iroquois serta ahli pada bidang entografi, kekerabatan dan struktur sosial.

[4] Johan Jakob Bachofen (1815-1887) merupakan antropolog dari Swiss yang ahli pada bidang masyarakat matriarki.

[5] Arboreal mengacu pada hidup atau kehidupan di pepohonan.

[6] Terestrial mengacu pada hidup atau kehidupan di atas permukaan tanah.

[7] Lih. Mansour Fakih, 1996:84

[8] Lih. Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer (Yogyakarta: Resist Book), 2012, hlm. 3.

[9] ‘Mengatakam bahwa ‘meja adalah bukan kursi’ berarti menyatakan bahwa ‘kursi’ hadir di dalam ‘meja’ sebagai sesuatu yang negatif, yang dinegasi sekaligus disyaratkan oleh identitas ‘meja’ sebagai ‘meja’’ Ibid. hlm. 3.

[10] Hupokeimenon merupakan bahasa Yunani yang artinya ‘Hal yang melandasi’, digunakan Aristoteles untuk menjelaskan agar ada sifat-sifat tertentu, landasan tempat sifat-sifat itu harus ada terlebih dahulu.

[11] ‘They themselves begin to distinguish themselves from animals as soon as they begin to produce their means of subsistence, a step which is conditioned by their physical organization.’ (Marx Engels: 1845)

[12] Dikutip oleh Engels dalam bukunya Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (2011: 2-8) dari tulisan Lewis H. Morgan yaitu Ancient Society (1877).

[13] ‘The first prerequisite of this earliest form of landed property appears as a human community, such as emerges from spontaneous evolution [naturwuchsig]: the family, the family expanded into a tribe, or the tribe created by the inter-marriage of families or combination of tribes.’ (Marx: 1972)

[14] ‘The ‘matrilineal clan’ or ‘mother-right gens’ (as lewis Morgan usually termed it) was a group of women and men united by blood, descended from a common ancestral mother, sharing joint ownership in land, longhouses, children and other valuables, and based on a strict rule stipulating marriage outside the clan.’ Chris Knight, Blood Relations (New Haven: Yale University Press), 1991, hlm. 23.

[15]Dunia lama merupakan sebutan untuk masyarakat yang berada di benua-benua selain benua Amerika sebelum benua Amerika ditemukan sebagai Dunia Baru.

[16] ‘Penggulingan hak-ibu adalah peristiwa sejarah dunia kekalahan perempuan. Laki-laki juga mengambil alih komandi di dalam rumah, perempuan didegradasi pada tugas pelayananm posisinya menjadi pemuas nafsu laki-laki dan semata-mata menjadi instrument memproduksi anak.’ (Engels, 2011: 39)

[17] ‘The first division of labor is that between man and woman for the propagation of children.’ (Marx: 1972)

[18] ‘Among all savages and all barbarians of the lower and middle stages, and to a certain extent of the upper stage also, the position of women is not only free, but honorable.’ (Engels, 1970)

[19] Lih. Dede Mulyanto, Genealogi Kapitalisme (Yogyakarta: Resist Book), 2012, hlm. 162.

[20] ‘Differences of age and sex have no longer any distinctive social validity for the working class.’ The Communist Manifesto (Marx:1848)


comments powered by Disqus