Moyes

Print Friendly, PDF & Email

FANS Manchester United mungkin saat ini lagi dirundung kegalauan yang akut. Setelah sang pelatih berganti, ternyata Setan Merah –julukan Manchester United— tak lagi menyeramkan. Mereka dirundung berbagai kekalahan. Terakhir, posisi mereka di Liga Premier ada di peringkat tujuh. Menyedihkan, untuk ukuran Setan Merah.

Semua telunjuk kini menuding pada satu kepala: David Moyes, sang pelatih anyar. Ia seperti punya beban mental untuk meneruskan kejayaan Setan Merah, baik di Eropa maupun Liga Premier. Sebelum di MU, Moyes memang sukses mengangkat nama Everton di panggung Liga Inggris. Tapi, tentu saja MU bukan Everton dan Old Trafford bukan Goodison Park.

Moyes baru setahun menggantikan Sir Alex Ferguson. Nama terakhir memang jadi legenda di Old Trafford. Gelar Sir di belakang namanya didapat dari sepakbola –padahal gelar itu datang dari Ratu. Orang Skotlandia ini memang sudah kadung melekat dengan si Setan Merah: melatih sejak 1986 dan baru pensiun tahun lalu. Hitung-hitung, ia sudah berada di MU selama 27 tahun.

Ada satu kata yang mungkin menggambarkan Sir Alex Ferguson bagi Manchester United: ‘ratu adil.’ Istilah Jawanya: ‘satrio piningit’ –juru selamat bagi orang Jawa yang sedang terpuruk dan akan membawa mereka kepada cahaya kesejahteraan.

Konon, orang Jawa percaya  bahwa ada suatu masa ketika huru-hara itu sedang terjadi di muka bumi. Goro-goro, istilahnya. Huru-hara itu terjadi di mana-mana, dan hanya akan berakhir ketika si Satrio Piningit datang. Orang itu bak Batman di Kota Gotham; tiba-tiba datang dan menjadi ‘pahlawan’ bagi masyarakat. Mas Satrio Piningit inilah yang dipercaya dan ditunggu-tunggu bakal datang ke muka bumi.

Bagi fans Setan Merah, Sir Alex bisa jadi hampir seperti itu. Ia bagaikan ‘juru selamat,’ orang yang membawa MU dari kegelapan zona degradasi menuju cahaya Liga Eropa. Tahun 1986, Sir Alex (yang awalnya cuma pelatih Aberdeen, tim sepakbola Skotlandia) datang ke Liga Inggris untuk menggantikan Roy Atkinson –pelatih MU sebelumnya. MU waktu itu sepertinya memang kena goro-goro: terpuruk di urutan ke-11 di Liga Inggris dan kalah 6 kali di pertandingan awal. Wajar kalau Atkinson kena pecat.

Dan di sinilah Sir Alex membuktikan diri jadi Satrio Piningit: musim berikutnya, ia langsung membawa MU ke peringkat dua liga. Musim berikutnya, juara piala FA. Lalu menang Piala Winners. Terus menanjak: hingga akhirnya bisa mengklaim Treble Winner di musim 1998/1999.

Jadilah dia dipercaya kayak Satrio Piningit. Berkali-kali ia ingin pensiun, tapi tetap saja gagal. Hingga akhirnya sampai 27 tahun. Prestasi yang, bisa jadi, hanya bisa disaingi jenderal Suharto yang berkuasa di Indonesia selama 32 tahun. Eh, ini cerita yang lain lagi.

Tapi tentu saja, tangan dinginnya itu punya batas. Walaupun begitu perkasa mengarsiteki Si Setan Merah, ia tetap manusia yang akan merasakan usia tua. 27 tahun di Manchester United, rupanya tetap membuatnya ingin pensiun dari lapangan hijau dan merasakan sisa-sisa usianya dengan damai.

Maka, di tahun 2013, ia mengumumkan kepada publik untuk pensiun. Kali ini permohonannya dikabulkan. Bulan Mei 2013, ia resmi mengundurkan diri dan digantikan oleh David Moyes, pelatih yang sebelumnya bekerja keras mengangkat nama Everton.

Dan di sinilah kita bisa melihat batas kepemimpinan ‘Ratu Adil’ yang dibangun oleh Sir Alex Ferguson. Moyes ternyata bukan ratu adil; ia harus tertatih-tatih dan berjuang dari nol. Padahal di timnya ada pemain-pemain berbakat: sebut saja Rooney dan van Persie, misalnya.

Apa yang salah dari MU? Persoalannya bukan sekadar pelatih yang tidak kapabel, tapi sebetulnya juga lebih mendasar –tim yang sudah terlalu nyaman dengan Sir Alex karena sudah ‘kadung’ dianggap Ratu Adil.  Akibatnya, ketika si Ratu Adil harus pergi, rakyat tidak siap. Mereka menyalahkan pemimpin yang tidak bisa mengulang ‘kenyamanan’ zaman sebelumnya. Di sinilah kesalahan Sir Alex: ia tidak menyiapkan tim untuk menyambut pelatih yang akan menggantikan dirinya, menjadikan dirinya sebagai ‘pusat’ dari segala kekuasaan atas tim.

Celakanya, hal serupa sangat sering kita jumpai dalam politik. Banyak orang –termasuk aktivis gerakan— yang menganggap bahwa pemimpin itu layaknya Satrio Piningit. Serahkan semua pada pemimpin, maka goro-goro bakal usai. Lalu pasrah dan membiarkan si Satrio Piningit –tentu saja palsu— menjarah apa yang ada di negeri ini.

Hari-hari ini, kita disuguhi oleh banyak orang yang berlomba-lomba ingin jadi Satrio Piningit. Namanya macam-macam, ada yang khas Jawa macam Joko atau Bowo, ada pula Rizal atau Mamat. Ciloko-nya, banyak yang mengipasi. Ada yang bilang si ini peduli sama buruh, si itu berjuang buat petani, si itu punya pengalaman.

Padahal, di belakangnya tetap saja sama: berandal dan preman yang siap membunuh rakyat dengan karambit, palu, atau tongkat baseball. Jadinya, yang muncul tak lain hanya ilusi –datang jelang pencoblosan, hilang setelah yang bersangkutan dapat kursi dan meja.

Hal-hal semacam ini yang membuat kita semacam gagal move on dari perbincangan soal Pemilu dan Calon Presiden. Si Capres alay bukan Sir Alex Ferguson dan tentu saja Joko, Bowo, Rizal, atau Ucup itu bukan Satrio Piningit atau Nabi.

Siapapun  yang terpilih, musuh yang kita hadapi masih bakal tetap sama: orang-orang fasis dan kapitalis di belakang mereka yang menganggap kita ini tak ubahnya kambing. Apalagi kalau orang yang dianggap ‘ratu adil’ itu datangnya dari antah-berantah. Padahal, ada yang lebih penting dari sekadar mencari Satrio Piningit itu: cari pemain dan bangun tim!  Artinya, lupakan Satrio Piningit dan Sir Alex Ferguson! Mereka adalah masa lalu. Masa depan-lah yang harus dipikirkan—dan semuanya bergantung pada apa yang akan dilakukan, dari mana kita mulai.

Ada satu ilustrasi lagi. Dulu, ada satu hal yang dilakukan oleh Sir Alex ketika awal-awal jadi arsitek MU:  merenovasi sekolah sepakbola dan mencari bakat-bakat baru dari sana. Inilah satu kunci kesuksesan MU ketika awal-awal ia memimpin: dari akademi, lahir bakat-bakat muda yang ‘organik’ dari MU –David Beckham, contohnya.

Bergerak juga semacam itu. Kita tak butuh pemimpin yang bekerja sendirian dan membiarkan orang lain memuja-muja dia. Yang kita perlukan adalah mecetak intelektual progresif, agitator dan propagandis handal, orator yang bisa mengambil hati massa, para professional gerakan yang tidak hanya bisa kerja keras, tapi juga kerja cerdas.

Atau dengan kata lain: kita butuh partai….***

 

Kota gudeg, di akhir pekan yang panjang.

 

 

 

 

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.