Tuhan Di Bumi

Tentang Teologi Materialis

MENYAMBUNG renungan Natal dari Martin Suryajaya, tulisan ini hendak menawarkan rute lain dalam meretas jalan menuju suatu teologi yang punya daya emansipasi, bahkan daya konfrontasi—hal-hal yang kita butuhkan saat ini untuk melakukan perlawanan terhadap sistem eksploitatif kapitalisme hari ini. Keberatan saya terhadap Martin hanya pada caranya dalam memperlakukan teologi. Ibarat seorang pemandu bakat, ia mengaudisi teologi dalam standar-standar yang ia tentukan sendiri sebelumnya. Tidak heran, pertanyaan yang diajukannya adalah ‘[b]agaimana mungkin materialisme historis dan materialisme dialektis mengakomodasi teologi?’  Akibatnya, kita seakan diperlihatkan pada suatu panorama abad pertengahan dengan versi terbalik: teologi harus tunduk pada gada logika.

Keberatan ini bukan muncul dari suatu aspirasi konyol akan kesetaraan dan keseimbangan di antara keduanya. Sama sekali bukan ini. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa tidak hanya potensi emansipatoris, namun bahkan potensi konfrontatif sistemik telah terdapat secara inheren dalam teologi itu sendiri. Sehingga, tidaklah perlu kita mengaudisinya sesuai dengan rambu-rambu revolusioner kita. Inilah yang juga akan saya coba tunjukkan melalui tulisan ini: memunculkan watak revolusioner dari teologi itu sendiri. Karena tulisan ini masih berada di sekitar perayaan Natal, maka saya akan pakai teologi Kristen untuk ini.

Hal pertama yang penting untuk diklarifikasi terlebih dahulu adalah pertanyaan mendasar seperti: apa itu materi dalam materialisme? Pandangan standar mengenai filsafat materialisme biasanya berkisar pada keyakinan naif bahwa tidak ada segala sesuatu yang berada di luar determinasi materi. Ide, misalnya, tidak lebih dari mimpi di siang bolong. Pandangan seperti ini juga menjalar ke ekonomi politik, bahwa basis material, yaitu relasi sosial produksi, adalah yang menentukan segalanya—regulasi, negara, ideologi, institusi, dst. Begitu pula bagi ilmu kebudayaan, yaitu bahwa seluruh sistem kebudayaan terdeterminasi oleh basis materialnya, yaitu ideologi borjuis/kapitalis. Agama dan ajarannya, misalkan, akan dilihat sebagai manifestasi sekaligus konstitutif bagi langgengnya struktur dominan di masyarakat. Epistemologi demikian—yaitu terdapat suatu struktur material yang serba menentukan dan mengatur segala sesuatunya—akhirnya mendudukkan yang material sebagai semata-mata manifestasi dari strukturnya. Akhirnya, tidak akan ada suatu apa pun yang lepas dari jeratan struktur material ini.

Tulisan ini merupakan ungkapan keberatan saya terhadap pandangan materialisme yang demikian ini.  Beberapa alasan akan dikemukakan pada bagian berikutnya. Terlebih, penekanan akan diberikan pada implikasi-implikasi filosofis (dan teologis) dan politis dari keberatan tersebut.

Materialisme mesianik

Dari penjabaran di atas, setidaknya terdapat tiga keberatan sentral yang saya ajukan: pertama, asumsi tentang totalitas yang inheren. Struktur material diasumsikan utuh pada dirinya sendiri. Masalahnya, bukankah dengan mengasumsikan totalitas yang demikian ini materialisme justru jatuh pada transendensi versi lain? Hal ini lantas membawa saya pada keberatan kedua, bahwa telah terjadi re-transendentalisasi materialitas. Dengan kata lain, saat para materialis ini menolak transendensi, mereka malah memindahkan kualitas-kualitas transenden, yang entah dari mana asal-usulnya (thus, ahistoris), ke dalam materi. Materi, akhirnya memiliki sifat-sifat transenden. Mirip animisme.

Keberatan ketiga saya adalah sifat keter-mediasi-an dari materi yang seakan-akan disepakati oleh keseluruhan pendukung materialisme ini, sekalipun terdapat perbedaan trivial di antara mereka. Manifestasi material dilihat sebagai suatu sistem obyek yang diproduksi secara sosial yang, tentu saja, produksinya dihegemoni oleh segelintir orang (kelas dominan?). Namun tetap saja, memahami materialitas seperti ini harus dimediasi oleh manusia sebagai penghuni ‘segelintir orang’ ini. Kubu relativis/pascastrukturalis, juga sama, hanya saja ia memberikan kesempatan privilese hegemonik tersebut tidak pada segelintir orang saja, tapi pada kita semua sepanjang kita bertindak sebagai produsen narasi sejarah. Akhirnya, kita akan selamanya menantikan ‘orang’ atau ‘segelintir orang’ tertentu (baca: pemimpin, partai, ratu adil, mesias) yang dapat memproduksi sistem obyek material yang revolusioner.

Keberatan ini sebenarnya bukan disebabkan karena kesirikan saya atas gestur ‘kembali ke tuhan/transendensi’ per se, melainkan lebih kepada kepasrahan milenarian yang memotivasi gestur tersebut. Materialisme akhirnya menjadi tidak lebih dari ritual asketis menunggu kedatangan sang mesias. Untuk keluar dari deadlock ini, nampaknya kita perlu merumuskan semacam ‘materialisme kultural pasca-konstruktivis.’[1] Upaya untuk mempertimbangkan keberatan-keberatan di atas, dan tentu juga  mencarikannya jalan keluar, tersebut mendapatkan momennya pada era saat ini di mana perubahan dan alternatif radikal mendesak diperlukan saat umat manusia, di satu sisi dihadapkan pada kegagalan seluruh korelat modernitas (sekulerisme, rasio, negara bangsa, kapitalisme, demokrasi), namun di sisi lain, sudah tidak tersisa lagi aspek-aspek material yang tidak terjamah (baca: termediasi, terkonstruki, terdeterminasi) korelat modernitas tadi (terutama kapitalisme dan negara bangsa)—membuat semua tak lebih dari sekedar faktor produksi dan/atau komoditas. Urgensi untuk merangsek keluar dari belenggu ini tidak cukup dengan senantiasa tawakal dan menunggu kehadiran sang penyelamat agung. Perlu upaya yang lebih proaktif dan militan dari sekedar menanti-nanti.

Menuju Materialisme Transendental

Salah satu upaya teoritik yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah cara pandang terhadap materialisme itu sendiri. Determinasi aspek material tidak selamanya harus berwajah milenarian, melainkan ia tetap dapat berwajah materialis. Materialisme ini, dengan demikian, melihat tuhan bukan dari atas sana, melainkan tuhan yang secara imanen telah selalu ada di dalam materi itu sendiri. Inilah tugas utama materialisme, atau untuk tujuan pembeda, saya akan menyebutnya ‘materialisme transcendental:’ memikirkan transendensi dalam imanensi material; suatu ketak-terhinggaan dalam keterhinggan; suatu tuhan di bumi—dan bukan di surga.[2] Dengan definisi seperti ini, para pembelajar teologi akan segera teringat akan definisi umum dari teologi. Itulah mengapa saya tekankan di awal bahwa materialisme sebenarnya sudah inheren di dalam teologi itu sendiri.

Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengemban tugas tersebut. Salah satu yang terpenting adalah memecahkan apa yang dapat disebut ‘misteri materialitas,’ yaitu berkaitan dengan pertanyaan ‘mengapa materialitas yang seperti itu, dan bukan yang lainnya?’ Menerapkan model pertanyaan seperti ini ke problem materialisme, maka pertanyaanya bisa menjadi: mengapa ideologi dominan memanifestasi dalam suatu sistem obyek yang partikular tersebut, dan bukan lainnya? Pertanyaan ini akan mengarahkan analisis untuk memahami spesifisitas materialisasi tersebut, dan bukan prinsip struktural general yang melandasinya. Spesifisitas ini berlaku temporal dan spasial. Analisis spesifisitas yang dimaksud sama seperti, di antaranya, Roland Barthes memahami penari telanjang,[3] Adrian Mackenzie mempelajari sintaks sistem operasi Linux,[4] dan Alex Galloway mempelajari algoritma perangkat lunak video game.[5] Hal ini penting karena seperti juga telah ditandaskan Freud tentang mimpi, yaitu bahwa misteri ketidaksadaran bukan pada ‘makna’ (isi laten) mimpi tersebut, melainkan justru pada bentuk tampilannya, yaitu materialitasnya, demikian pula misteri materialitas bukan terletak pada makna sosio-kultural atau siapa yang berkepentingan di baliknya, melainkan justru pada bentuk material/kongkritnya.

Langkah di atas berikutnya membuka jalan bagi langkah berikutnya. Memahami bahwa misteri telah selalu terkandung dalam materi, sama saja melihat materi tersebut sebagai sesuatu yang berkekurangan. Terdapat lubang abadi yang akan selalu mencegah materi tersebut menjadi absolut. Memahami lubang keabadian dalam suatu materialitas ini agaknya mustahil tanpa berputar pada psikoanalisis Jacques Lacan. Lacan menunjukkan bagaimana logika ketak-terhinggaan dalam keterhinggaan ini adalah logika beroperasinya hasrat manusia: tak pernah cukup terpuaskan.[6] Hasrat manusia bak lubang hitam yang menyedot segala sesuatu demi suatu kepuasan yang mustahil. Bagaimanapun juga, hal ini menunjuk pada kemungkinan untuk memahami suatu ketak-terhinggaan dalam keterhinggan.

Keberadaan ketak-terhinggaan ini memiliki dua konsekuensi yang sifatnya ambigu: pertama, ia akan membuat kontainer materialnya, yang serba terhingga, senantiasa berada pada kondisi tak menentu; seketika saja saat ketak-terhinggaan ini mencuat keluar, kontainer itu akan menderita krisis. (Bayangkan, misalnya, saat keseharian kita diganggu oleh perasaan cinta yang absurd—dalam artian ketak-terhinggaan dan ketak-terjelaskanan—maka semuanya akan berantakan!). Kedua, sekaligus sebaliknya, ia merupakan sumber segala kemungkinan yang dapat mengubah materialitas tadi. Inilah tuhan[7] materialis: di satu sisi ia sumber bencana dan deviasi, tapi di sisi lain, ia sumber potensialitas.[8] (Bukankah potensialitas ilahi ini yang hari-hari ini diperlukan untuk mendatangkan bencana bagi mesin raksasa kapitalisme dan Goliath negara-bangsa?). Dengan konsepsi tuhan seperti ini, maka perlu pula dilakukan revisi bagi gagasan teologi yang notabene merupakan ‘bidang studi’ yang mengkaji ‘Tuhan.’

Teologi Materialis dan Iman Ateis

Tugas utama teologi materialis bukan hanya memahami tuhan materialis, namun terlebih ia juga menginvestigasi segala daya upaya untuk mengondisikan kehadirannya. Hal ini utamanya dilakukan dengan menetapkan dimensi ontologis dari materi, yaitu sebagai suatu totalitas yang sepaket dengan negativitasnya, lack-nya. Mengapa demikian? tuhan yang imanen dalam materi tidak akan pernah kompatibel dengan sifat keterhinggaan materi tersebut; ia akan selalu melubangi materi. Totalitas, dengan kata lain, bukanlah suatu absolusitas; ia selalu berkekurangan. Dalam materialitas Kapitalisme-Neoliberal, misalnya, Burger King yang lezat adalah sepaket dengan nasi aking yang dimakan orang di Yahukimo; pembangunan Disneyland di California sepaket dengan perampasan tanah di India, Nepal, Cina, Papua, dst.; sorak gembira ABG labil di konser Korean-Pop adalah sepaket dengan jeritan anak-anak saat tentara AS mendobrak pintu-pintu pemukiman di Baghdad, dst.; tawa menggemaskan SBY juga sepaket dengan jerit geram Sondang Hutagalung saat membakar dirinya di depan istana. ‘”Material reality is non-all” […] is the true formula of materialism,’ tandas Žižek.[9]

Tanpa negativitas ini, materialitas hanyalah menjadi nama lain bagi transendensi. Kemustahilan (untuk menjadi utuh, dalam artian absolut) adalah fitur utama materialitas realitas semenjak negativitas, ketiadaan, atau kehampaan senantiasa menghantuinya. Lalu pertanyaannya kemudian, apabila realitas material yang kita jalani sehari-hari adalah suatu kemustahilan, bagaimana bisa ia (dan kita yang ada di dalamnya) bertahan? Di sinilah letak keajaiban materialisme transendental: realitas dapat berjalan tanpa dikendalikan oleh Tuhan transenden![10] Ketimbang pembacaan anarkis, yaitu bahwa semuanya berjalan secara acak, hal ini sebaiknya dibaca sebagai akibat dari suatu kenyataan bahwa terdapat agen lain (tersembunyi, namun sepenuhnya nyata) yang mengonstruksikan realitas kita sebagai suatu dunia yang tersimulasi.[11] Jadi jelas di sini bahwa agensi sebenarnya bukan pada Tuhan transenden, melainkan pada tuhan yang imanen pada realitas material.

Mencoba memformulasikan agensi tuhan materialis yang imanen pada realitas material ini, saya kira ada perlunya merefleksikan konsepsi realitas yang memungkinkan kehadiran agensi tersebut. Setidaknya ada tiga bentuk penampakkan realitas: jika realitas pertama adalah realitas obyek yang independen dari pemahaman manusia (ini umumnya merupakan bidang kajian filsafat realisme), dan realitas kedua adalah realitas pemahaman manusia akan obyek (bidang kajian fenomenologi), maka realitas ketiga, sekaligus yang paling kompleks, adalah realitas dimana sang obyek secara obyektif dan spesifik menampakkan dirinya kepada sang subyek. Žižek memformulasikannya dengan baik terkait petunjuk untuk memahami ini melalui suatu pertanyaan pemantik atas apa yang saya sebut ‘realitas ketiga:’ “[t]here is the way things really are. There is the way things appear to [our perception]. There is the way things objectively appear to us even if we do not know how they appear to us.’[12] Adalah bentuk ketiga ini di mana kita dapat saksikan agensi pada sisi materi itu sendiri, dan lepas dari seluruh kontruksi dan mediasi manusia. Untuk dapat melihat agensi ini, maka teologi materialis akan membantu kita untuk menolak dan menegasikan seluruh upaya-upaya pemaknaan transenden bagi realitas material.

Lalu bagaimana melihat agensi ini? Dengan iman tentunya. Namun, bukan iman dalam pengertian agama-agama konvensional. Iman yang dibutuhkan adalah iman ateis, karena hanya ateis saja yang bisa benar-benar percaya. Ateis yang dimaksud bukanlah suatu identitas yang fixed, yang dengan gagahnya memproklamirkan ‘tuhan tidak ada’ dengan argumen empirik naif—klaim konyol: ‘karena tuhan tidak terlihat maka tuhan tidak ada.’ Ateisme yang saya rujuk di sini adalah sebentuk mentalitas, etos. Mentalitas ateistik akan selalu menolak upaya-upaya untuk menjelaskan segala sesuatunya melalui narasi agung nan mulia Tuhan transenden—agama, moral, HAM, demokrasi, kebaikan, keadilan, kemanusiaan, ke-Timur-an, dst. Ateis selalu berkeras bahwa realitas bukanlah dikendalikan oleh Tuhan-Tuhan transenden ini. Bahkan, ateis memandang bahwa dunia ini tidak berarti apa-apa (meaningless)—dalam artian pascamodern, yaitu tidak ada makna, fondasi dan penjamin bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ateisme adalah afirmasi tuhan materialis yang mewujud dalam bentuk negasi tanpa ampun terhadap narasi Tuhan transenden. Jelas di sini, ateisme bukan sebentuk selebrasi dan pasifitas; ateisme selalu berupa aktif-itas perlawanan.

 

http://www.upsidelearning.com/blog/wp-content/uploads/2013/02/take-a-leap-of-faith-with-mobile-learning.jpg

 

Peperangan Rohani dan Teladan Paradigmatik Yesus

Menutup tulisan ini, saya akan menyajikan dua cerita: yang pertama pembacaan kisah Ayub dengan pembacaan teologi materialis, kedua tentang tuhan yang menderita bersama kita. Sebagaimana diketahui, Ayub adalah seorang abdi Tuhan.[13] Suatu saat Tuhan bertaruh dengan Iblis tentang apakah Ayub akan tetap menjadi abdi yang setia apabila berkat-berkat Tuhan dicabut darinya. Tuhan pun sepakat, maka dicabutlah kekayaan, keluarga dan kesehatannya. Sawahnya dirampok, rumahnya hancur terkena bencana, yang juga merenggut ketiga anaknya. Ayub sendiri terkena kusta yang menjijikan. … tapi Ayub masih bertahan.

Lalu masuklah sang istri Ayub dalam cerita. Ia menyuruh Ayub untuk meninggalkan Tuhan; tapi Ayub menolak sembari menekankan bahwa ia tidak bersalah. Akhirnya istri Ayub meninggalkannya untuk menikahi pria lain. Lalu datanglah tiga orang kawan Ayub. Ketiganya mencoba menasehati Ayub: ‘mungkin kamu kena tulah’—Ayub menolak; “mungkin kamu melakukan kesalahan pada Tuhan”—Ayub menolak; ‘mungkin ini dosa turunan’—Ayub menolak; bahkan, Ayub mengusir mereka. Ayub berbalik pada Tuhan dan melayangkan protesnya! Ayub marah! Ayub bersikeras bahwa tidak ada penjelasan bagi penderitaannya. Ayub meminta pertanggungan-jawab Tuhan atasnya, dan bukan pemaknaan! (Andai saja Ayub tahu bahwa penjelasannya adalah keisengan Tuhan dan Iblis, ia pasti akan balas mengumpat ‘sekarang aku, nanti rasakan saat anakmu Yesus harus di-bully di kayu salib. ’[14]) Inilah iman Ayub, suatu iman ateistik, yang karena militansinya, ia mendapatkan ganjaran setimpal: kekayaannya dilipat-gandakan, dikarunia keluarga baru, dst.

Cerita kedua, dalam film Shooting Dogs,[15] saat orang-orang Hutu di Rwanda memburu orang-orang Tutsi, scene diarahkan pada suatu pembicaraan sekelompok Tutsi yang bersembunyi di sebuah sekolah. Tahu bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk lari lagi, seorang guru muda bertanya kepada pendetanya: Bapa, dimana Tuhan saat ia kita butuhkan untuk mencegah pembantaian ini semua? Jawab sang pendeta, ‘God is now present here more than ever, He is suffering here with us.’ Iman ateistik Ayub dan tuhan yang menderita dan berjuang bersama kita seperti inilah yang kita butuhkan saat ini, dan bukan tuhan di atas sana yang dengan isengnya mengontrol segala sesuatu dengan remote sembari duduk di kursi malasnya. Tuhan materialis adalah tuhan yang memimpin manusia yang percaya padanya dalam suatu peperangan rohani.

Peperangan rohani, menggunakan terminologi Paulus, bukanlah menumpas habis orang-orang yang berbeda (secara suku, agama, ras, golongan, kepentingan politik, kelas, dst.).

 ‘[K]arena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.’[16]

Dengan demikian, peperangan rohani, secara materialis adalah peperangan untuk mengonfrontasi seluruh proses-proses di luar manusia (‘darah dan daging’)/ nir-manusia yang mengarahkan dunia ini ke jurang krisis dan bencana. Ketimpangan, diskriminasi, ketidak-setaraan yang kerap menghiasi pelataran media informasi-komunikasi cetak, digital, visual dan jejaring kita hari-hari ini bukanlah sekedar akibat dari problem ‘darah dan daging’—misal: keserakahan, kurangnya kepemimpinan, kendornya supremasi hukum, degradasi moral, dst. Lebih dari itu, semuanya merupakan efek dari pengkondisian sistemik yang deviasional. Pengkondisian sistemik inilah yang semestinya diperangi. Bukankah ini yang dimaksud Paulus saat menyebut musuh kita sebagai ‘roh-roh jahat di udara.’

Lalu bagaimanakah berperang dengan berangkat dari telogi materialis ini? Untuk ini, Yesus, dengan memberi diri disalibkan, memberi contoh paradigmatik yang baik— dan bukan contoh mentah-mentah bahwa orang harus disalib untuk melawan! Yang dicontohkannya adalah dengan berperang dengan cara yang tak terpahami. Pelajaran paradigmatik perlawanan Yesus adalah bahwa Ia, dengan memberi diri disalibkan, tidak hanya melawan maut alias rezim penindasan sang Iblis. Lebih dari itu, dengan memberi diri disalibkan, Yesus melawan sistem pengondisian yang membatasi jangkauan kemungkinan cara perlawanan terhadap sistem itu dilakukan![17] Yesus masuk ke jantung sistem dan menghujamnya dengan telak. Yang dilakukan Yesus tidak hanya menumpas sistem perbudakan dosa, lebih dari itu, Ia juga menghajar sistem yang memungkinkan sistem perbudakan dosa tersebut. Yesus mampu keluar dari dan berbalik melawan anggapan umum tentang perlawanan yang mungkin, sebagaimana disediakan oleh sistem berpikir dominan seperti misalnya yang diolok-olokkan orang Yahudi kepadanya saat disalib: memanggil sebatalion malaikat, menggunakan kuasa Allah untuk turun dari salib, dst.[18].

Berpaling kepada ide-ide muluk nan melangit tentang hak asasi manusia dan kemanusiaan universal, atau pada ide-ide munafik (hipokrit) sehari-hari seperti ‘kasihan’, ‘iba’, dan kedermaan filantropis (charity), seperti yang kerap disuntikkan rangsangannya oleh berbagai rupa reality show dan film-film seperti Laskar Pelangi, adalah mengulangi kebodohan menyedihkan murid-murid Yesus yang hanya bisa menganga dungu sembari mengantar kenaikan gurunya dengan tatapan lugu.[19] (Penting: baca catatan kaki!)[20] Berharap ada orang di luar sana—pemimpin ideal yang berkarakteristik, bergelar lulusan ‘luar negeri,’ berpakaian dan beratribut relijius—sama saja mengingkari dan menolak kenyataan bahwa api Pentakosta telah dihinggapkan pada kita semua sehingga kita semua memiliki segala potensialitas yang dibutuhkan untuk memerangi seantero musuh.[21]

Mengikuti teladan Yesus bukanlah menjiplak mentah-mentah yang tertera dalam Alkitab. Namun yang lebih penting adalah memetik teladan paradigmatik darinya dan menerapkannya dalam kehidupan hari ini. Ke-hari-ini-an berbicara tentang aktualitas yang spesifik secara temporal. Konsekuensinya, ‘hari ini’ satu milenium lalu berbeda dengan ‘hari ini’ seabad yang lalu, atau sewindu yang lalu. “Hari ini” berbicara tentang suatu kondisi kekinian yang ‘aktual terjadi’ (actually existing). Tanpa pendasaran pemahaman obyektif (baca: riset!) tentang tentang apa yang secara aktual sedang terjadi—krisis, eksploitasi, penindasan—maka Alkitab tidaklah lebih sebagai skriptura antik yang tidak memiliki relevansi hari ini. Akibatnya, para pembaca Alkitab akan berakhir pada kesimpulan a la Dan Brown, yaitu Yesus berhubungan seksual dengan Maria. Memperlakukan teladan Yesus sebagai teladan paradigmatik, maka akan membuat orang untuk kembali ke pergumulan dan penderitaannya sehari-hari—Ya! Anda harus menderita!—dan berperang dari sana.

Penutup

Pembahasan mengenai Ayub, peperangan rohani, dan teladan salib Yesus ini sekiranya dapat menunjukkan bagaimana potensi konfrontatif sistemik yang kita butuhkan hari ini untuk melawan kapitalisme dan neoliberal, sebenarnya telah ada dan inheren dalam teologi itu sendiri. Dengan mengubah sedikit cara pandang kita terhadap teologi ke arah yang materialis, maka bisa kita lihat dan manfaatkan potensi revolusioner dari teologi tersebut. Yang saya lakukan barusan adalah menggali dari teologi Kristen. Tidak lantas berarti saya hendak mempromosikan agama ini. Yang hendak saya sampaikan adalah bahwa upaya serupa juga perlu dilakukan pada teologi dari agama lainnya secara spesifik. Bukankah ini konsekuensi berpikir secara materialis, yaitu dengan masuk dan mengkonfrontasi langsung ke spesifisitas doktrin teologi—sebagai materialitas—tersebut?***

Hizkia Yosie Polimpung, peneliti Jaringan Riset Kolektif (JeRK); mahasiswa Program Doktoral Filsafat, UI

Catatan redaksi: Versi terdahulu dari makalah ini pernah disajikan sebagai bahan diskusi pada panel ‘Agama dan Materialisme’ kelas Filsafat Religi, Program Doktoral Filsafat, Univ. Indonesia, Depok, 12 Desember 2012. Penulis menyampaikan terima kasih untuk segenap kritikan yang masuk dari para partisipan diskusi tersebut. Kritik dan komentar dapat disampaikan langsung atau melalui email: yosieprodigy@gmail.com


[1] Adrian Mackenzie, ‘Book Review: N. K. Hayles, My Mother Was a Computer: Digital Subjects and Literary Texts,’ Theory, Culture & Society, 25, 5 (2008), hal. 148.

[2] Pandangan saya dalam tulisan ini banyak terinspirasi dari materialisme baru a la Slavoj Žižek, Parallax View (MIT Press, 2006); dan materialisme teologis a la Clayton Crockett and Catherine Malabou, ‘Plasticity and the Future of Philosophy and Theology,’ Political Theology, 11, 1 (2010). Untuk konsep ‘materialisme transendental’ saya pinjam dari Adrian Johnston, Žižek‘s Ontology: A Transcendental Materialist Theory of Subjectivity (Northwestern Uni Press, 2008).

[3] Roland Barthes, Mythologies (Noonday Press, 1972), hal 84-8.

[4] Adrian Mackenzie, ‘The Performativity of Code: Software and Cultures of Circulation,’ Theory, Culture & Society 22, no. 1 (2005).

[5] Alexander Galloway, Gaming: Essays on Algorithmic Culture (Uni Minnessota Press, 2006).

[6] Lihat pembahasan Lacan tentang ‘kepadatan’ (compactness) sebagai struktur topologis dari penikmatan akan Liyan (Jouissance of the Other). Jacques Lacan, The Seminar of Jacques Lacan Book XX: Encore, On Feminine Sexuality, The Limits of Love and Knowledge (W.W. Norton, 1998 [1972-3]), hal 9.

[7] ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) yang imanen dalam materialitas, untuk membedakan dari ‘Tuhan’ (dengan ‘T’ besar) yang merupakan suatu transendensi.

[8] Deleuze dan Guattari juga menyadari hal ini, untuk kemudian mengeksploitasinya dengan brilian. Lihat Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia (Minnessota Uni Press, 1983). Lihat juga Daniel W. Smith, ‘The Inverse Side of the Structure: Žižek on Deleuze and Lacan,’ Criticism, 46, 4 (2004) dan Luke Caldwell, ‘Schizophrenizing Lacan: Deleuze, [Guattari], and Anti-Oedipus,’ intersections, 10, 3 (2009).

[9] Slavoj  Žižek, ‘Towards a Materialist Theology,’ Angelaki: Journal of Theoretical Humanities 12, no. 1 (April 2007), hal. 24.

[10] …dan kita, yang ada di dalamnya, bisa bertahan karena kita menciptakan semacam mekanisme pertahanan dengan menciptakan fantasi (Lacan menyebutnya fundamental fantasy) untuk menambal (to suture) bolongan ketidak-utuhan realitas tadi, memberinya dengan rupa-rupa pemaknaan atas ketak-bermaknaan realitas.

[11] Ibid., hal. 23.

[12] Slavoj Žižek, ‘Hegel as Critic of Marx: King, Sex, Rabble and War,’ ceramah pada konferensi ICI dengan tema ‘One Divides into Two: Dialectics, Negativity and Clinamen,’ Berlin, 29-30 Maret 2011. Penekanan dari Žižek. [Video rekaman bisa diakses di www.ici-berlin.org/de/docu/one-divides-into-two/].

[13] Mulai dari sini,  saya akan mengikuti versi Alkitab saat menulis kata ‘Tuhan’ (‘T’ besar). Untuk cerita Ayub ini saya ambil dari Alkitab, kitab Ayub.

[14] Bdk. Slavoj Žižek, John Milbank, Creston Davis, The Monstrosity of Christ: Paradox or Dialectic (MIT Press, 2009), hal. 56.

[15] Ditayangkan tahun 2005; disutradarai oleh Michael Caton-Jones. Di Amerika Serikat, film ini dirilis dengan judul Beyond the Gates pada tahun yang sama.

[16] Efesus 6: 12, Alkitab (terj. LAI).

[17] Sistem yang saya maksud telah-selalu melakukan mekanisme bertahan yang demikian: ia mengantisipasi perlawanan telak (dan bukan yang sekedar menggelitik) padanya dengan menyediakan, mengatur dan kemudian mensosialisasikan koridor kemungkinan (field of possibility) perlawanan terhadapnya. Akibatnya perlawanan yang dilangsungkan masih dalam koridor kemungkinan tersebut, nasibnya cuma satu: gagal. Perlawanan yang telak adalah perlawanan yang pertama-tama keluar dari koridor kemungkinan (dengan demikian masuk pada dimensi ketidak-mungkinan) dan berbalik melawan sistem yang menyediakan koridor kemungkinan tersebut. Inilah yang dilakukan Yesus.

[18] Lihat Matius 27: 39-44; Markus 15:29-32; Lukas 23:35-39, Alkitab.

[19] Lihat Kisah Para Rasul 1:11, Alkitab.

[20] Teramat penting untuk diklarifikasi! Saya katakan munafik, karena secara psikoanalitis, perasaan-perasaan ini menyembunyikan suatu hasrat narsisisme-egois yang sama sekali kontradiktif dengan efek filantrofis-dermawan yang ditampakkannya. Contohnya, iba kepada orang miskin, menyembunyikan dua lapis kemunafikan: perasaan iba muncul karena seseorang merasa lebih “beruntung,” sehingga ia merasa berdosa dan akan sangat kejam jika tidak membagi keberuntungan tersebut melalui bersedekah/beramal. Tidak ada yang salah. Melainkan dimensi hipokrit segera terasa: orang melakukan sedekah dan amal tersebut semata-mata untuk menghilangkan perasaan bersalah tadi—dan bukan maksud tulus membantu. Hipokrisi kedua adalah bahwa tindakan amal tadi adalah ungkapan malas yang bersangkutan untuk benar-benar “membantu” orang miskin tadi. Di katakan malas karena ia tidak pernah mau secara militan berpikir ruwet untuk melihat kondisi-kondisi apa yang membuat orang tersebut termiskinkan. (Kemalasan ini tentunya terima kasih kepada kultur instan, praktis, pragmatis yang mewarnai kehidupan sosial hari ini). Absennya militansi paradigma pikir ini membuat amal/sedekah tadi tidak akan mampu benar-benar menolong si miskin. Hal ini tidak hanya dalam artian mengentaskannya dari kondisi yang memproduksi si miskin tersebut dan para miskin lainnya, melainkan juga melawan kondisi tersebut yang notabene merupakan proses yang membuat kita (yang merasa ‘beruntung’) dan si miskin (yang ‘malang’) setara, suatu proses yang membuat si miskin harusnya juga ‘beruntung’—atau sebaliknya, yang membuat kita harusnya juga ‘malang.’

[21] Api Pentakosta adalah api spiritual yang dikirim Tuhan 40 hari setelah kenaikan Yesus ke surga. Api ini memampukan rasul-rasul melakukan hal-hal ajaib, di luar akal pikir manusia. Lihat Kisah Para Rasul 2: 1-13, Alkitab.


comments powered by Disqus