Kontradiksi Kerja-Upahan dan Kapital

wage-labour-capital-karl-marx-paperback-cover-art-194x300

Judul: Wage-Labour and Capital
Sumber: Wage-Labour and Capital & Value, Price and Profit
Penulis: Karl Marx
Penerbit: International Publishers, New York, 1976
Tebal: 45 hlm.

 

WAGE-Labour and Capital (Kerja-Upahan dan Kapital, selanjutnya akan disebut ’Wage-Labour saja) pertama kali terbit dalam bentuk artikel berseri di surat kabar Neue Rheinische Zeitung, dimulai sejak 4 April 1849. Artikel berseri ini berisikan kumpulan ceramah Marx di Klub Pekerja Jerman (German Workingmen’s Club) di Brussels pada 1847. Seperti yang dikatakan Marx dalam Bab Pendahuluan, tulisan ini bertujuan untuk ’memeriksa secara lebih dekat kondisi ekonomi di atas mana berdiri keberadaan kelas kapitalis serta kekuasaan kelasnya, dan juga perbudakan para pekerja.’[1] Dalam pamflet ini, juga dibahas basis ekonomi dari kontradiksi yang tak terdamaikan antara kelas kapitalis dengan pekerja.

Pada awalnya, Marx berencana membahas tiga topik besar dalam artikel berseri itu, yaitu (1)  relasi kerja-upahan dengan kapital, perbudakan pekerja, kekuasaan kapitalis; (2) kehancuran yang tak terelakkan dari kelas menengah dan rakyat biasa di bawah sistem saat itu; serta (3) eksploitasi dan penundukkan komersial atas kelas-kelas borjuasi di berbagai negara Eropa oleh penguasa pasar dunia yang despotik, yaitu Inggris. Namun, Marx tidak pernah menyelesaikan artikel berseri itu. Frederick Engels  dalam kata pengantarnya mengatakan, penyebabnya karena saat itu terjadi invasi Hungaria atas Rusia dan pemberontakan di Dresden, Iserlohn, Elberfeld, Palatinate, dan Baden, yang mengakibatkan represi atas surat kabar Neue Rheinische Zeitung. Surat kabar itu pun berhenti terbit pada 19 Mei 1849. Nyaris semua pembahasan Marx dalam pamflet ini adalah tentang topik besar yang pertama, yaitu relasi kerja-upahan dengan kapital.

Sebagian kalangan mungkin menganggap, karena tulisan ini diterbitkan jauh sebelum karya kritik ekonomi politik Marx yang matang, Capital (1867), maka pamflet ini tidak lagi valid. Kritik ini ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Dalam kata pengantarnya, Engels memang mengatakan bahwa Marx belum menuntaskan kritik ekonomi politiknya sampai ia berumur akhir 50-an tahun, sementara tulisan ini diterbitkan pada saat ia berumur 31 tahun (Marx lahir pada 5 Mei 1818). Tetapi, versi yang digunakan dalam tinjauan ini adalah versi yang terbit pada 1891 dan sudah dimodifikasi oleh Engels agar sesuai dengan pemikiran matang Marx. Dalam kata-kata Engels sendiri, ’pamflet ini tidaklah seperti yang Marx tulis di tahun 1849, tetapi kira-kira sama dengan apa yang akan ditulis Marx pada 1891.’[2] Marx sendiri sudah meninggal pada saat itu. Menurut hemat saya, sekalipun tidak bisa menggantikan Capital, pamflet ini merupakan pengantar yang bagus untuk mengenal kritik ekonomi politik Marx, karena bentuknya yang ringkas.

Modifikasi yang dilakukan oleh Engels berkisar di satu pokok pikiran, yaitu pembedaan antara kerja dan tenaga-kerja. Dalam versi asli tulisannya, Marx masih menulis bahwa pekerja menjual kerjanya, sementara dalam versi yang sudah dimodifikasi oleh Engels, pekerja menjual tenaga-kerjanya. Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan diintegrasikan dalam bagian pembahasan dari tinjauan ini. Pamflet ini sendiri terdiri dari sembilan Bab. Bab I berisikan pendahuluan; Bab II membahas hakikat upah; Bab III membahas determinan harga komoditi; Bab IV membahas determinan upah; Bab V membahas hakikat dan pertumbuhan kapital; Bab VI membahas relasi kerja-upahan dengan kapital; Bab VII membahas hukum umum yang menentukan naik dan turunnya upah serta keuntungan; Bab VIII membahas pertentangan diametral antara kepentingan kerja-upahan dan kapital; Bab IX membahas efek persaingan kapitalis pada kelas kapitalis, kelas menengah dan kelas pekerja.

 

Apa Itu Upah?

Marx membuka pembahasan dalam pamflet ini dengan pendiskusian tentang hakikat upah. Pada penampakkannya, upah seolah-olah dibayar oleh kapitalis untuk kerja buruh. Namun, menurut Marx, hal ini merupakan sebuah ilusi. Apa yang dibayar oleh para kapitalis dengan upah adalah tenaga-kerja, dan bukan kerja buruh. Di sini terdapat perbedaan antara kerja (labour) dengan tenaga-kerja (labour-power). Dan perbedaan ini bukan sekedar permainan kata-kata. Perbedaan ini riil, ada dalam realitas objektif, meski tidak begitu kasat mata, dan direfleksikan dalam pikiran oleh Marx dengan kategori kerja dan tenaga kerja.

Wage-Labour tidak memberikan banyak penjelasan tentang perbedaan kerja dan tenaga-kerja. Namun, penjelasan mengenai perbedaan itu bisa kita temukan dalam Capital. Dalam Capital, Marx mendefinisikan tenaga-kerja atau yang ia sebut juga dengan kapasitas-kerja (labour-capacity) sebagai ’kumpulan kemampuan mental dan fisik yang ada dalam bentuk fisik, dalam pribadi yang hidup, dari seorang manusia.’[3] Sementara, kerja adalah kerja aktualnya, di mana tenaga kerja digunakan. Atau dalam kata-kata Marx, ’penggunaan tenaga-kerja adalah kerja itu sendiri.’[4] Jadi, sebelum seseorang melakukan kerja, seseorang sudah memiliki tenaga-kerja dalam tubuh fisiknya, yang akan digunakannya ketika bekerja.

Karena tidak menyadari perbedaan ini, para ekonom-politik klasik sempat kebingungan ketika membahas nilai sebuah komoditi. Dalam Kata Pengantar Wage-Labour, Engels memaparkan bahwa para ekonom-politik klasik sebelum Marx menyatakan, nilai sebuah komoditi ditentukan oleh kerja yang terkandung dalam komoditi tersebut. Sepintas, tidak terlihat adanya masalah. Tetapi, di saat mereka harus menerapkan teori ini ke dalam komoditi ’kerja,’ mereka terjatuh ke dalam kebuntuan. Nilai dari kerja (K1) ditentukan oleh kerja (K2) yang dikandung di dalam kerja (K1), tapi berapa nilai dari kerja (K2)?

Para ekonom-politik klasik pun beralih ke konsep ongkos produksi. Nilai sebuah komoditi ditentukan oleh ongkos produksinya, sehingga nilai dari komoditi kerja ditentukan oleh ongkos produksi dari kerja, tapi berapa ongkos produksi dari kerja? Lagi-lagi, para ekonom-politik klasik menemukan kebuntuan. Pada akhirnya, mereka beralih ke si pekerja. Ongkos produksi dari kerja adalah ongkos produksi si pekerja, yang mana adalah sejumlah alat-alat kebutuhan hidup agar ia tetap bisa bekerja, dan ongkos pemeliharaan anak untuk menggantikan si pekerja kalau ia meninggal kelak.

Namun, mereka menemui kebuntuan lagi ketika hendak menjelaskan asal-usul keuntungan. Katakanlah, ongkos produksi kerja seorang pekerja dalam 1 hari adalah Rp20.000. Seorang kapitalis mempekerjakan pekerja itu untuk memproduksi komoditi X dengan upah Rp20.000 per hari. Untuk memproduksi komoditi X diperlukan juga bahan baku dan penyusutan mesin-mesin yang nilainya Rp50.000. Total biaya bahan baku, penyusutan mesin-mesin, dan kerja si pekerja untuk memproduksi X adalah Rp70.000. Si kapitalis pun menjual komoditi X dengan harga Rp95.000 di pasar dan mendapat keuntungan sebesar Rp25.000. Darimana datangnya keuntungan sebesar Rp25.000 itu?

Para ekonom-politik klasik berangkat dari asumsi bahwa komoditi dijual sesuai dengan nilainya, sehingga keuntungan tidak mungkin tercipta melalui pertukaran. Menurut mereka, keuntungan berasal dari kerja pekerja. Kembali ke ilustrasi di atas, Rp25.000 yang menjadi keuntungan si kapitalis, dengan demikian, berasal dari kerja si pekerja. Tapi, si pekerja hanya memperoleh upah Rp20.000, dan bukan Rp45.000, karena memang demikian ongkos produksi kerjanya. Hanya ada dua kesimpulan dari situasi ini: bahwa kerja memiliki dua macam ongkos produksi, atau Rp20.000 = Rp45.000. Kedua kesimpulan ini sama-sama absurd!

Marx berhasil memecahkan kebuntuan ini dengan menemukan perbedaan antara kerja dan tenaga-kerja. Komoditi yang dijual oleh si pekerja kepada si kapitalis adalah tenaga-kerja, bukan kerja. Dan ongkos produksi kerja yang ada dalam pikiran para ekonom-politik klasik sebenarnya adalah ongkos produksi tenaga-kerja. Berbeda dengan komoditi pada umumnya, komoditi tenaga-kerja memiliki keunikan berupa kegunaannya untuk menciptakan nilai yang lebih besar dari nilai yang dikandungnya. Setelah si kapitalis membeli tenaga-kerja dengan membayar ongkos produksi tenaga-kerja sebesar Rp20.000, si kapitalis pun menggunakan tenaga-kerja itu dengan membuat si pekerja melakukan kerja. Dengan kerja, tenaga-kerja menciptakan nilai baru sebesar Rp45.000. Selisih antara nilai baru dengan ongkos produksi tenaga kerja, yaitu Rp45.000 – Rp20.000 = Rp25.000, menjadi sumber keuntungan si kapitalis. Inilah yang disebut dengan nilai surplus.

Jadi, upah merupakan harga dari tenaga-kerja, yang sudah ada di tubuh si pekerja sebelum ia bekerja. Upah, dengan demikian, bukanlah share dari pekerja dalam komoditi yang diproduksi oleh pekerja. Adapun tenaga-kerja hanya menjadi komoditi dalam cara produksi kapitalis. Di cara produksi lain, ia belum tentu menjadi komoditi. Kapitalisme telah mengonsentrasikan alat-alat produksi di tangan segelintir orang dan membuat mayoritas orang lainnya tidak memiliki akses atas alat-alat produksi, sehingga untuk bertahan hidup, mayoritas orang ini harus menjual tenaga-kerja mereka kepada pemilik alat-alat produksi. Dan sekalipun seorang individu pekerja bisa berpindah-pindah kerja dari satu kapitalis ke kapitalis lain, tetapi ia tidak bisa meninggalkan keseluruhan kelas kapitalis, kecuali jika ia tidak ingin hidup lagi.

Ilustrasi: Hugo Gellert

Apa Determinan dari Upah?

Upah merupakan harga dari komoditi tenaga kerja. Dengan demikian, penentu atau determinan dari upah sama dengan determinan dari harga komoditi lain. Pertama-tama, determinan dari harga adalah relasi penawaran dan permintaan yang pada dasarnya adalah relasi sosial persaingan. Ada tiga lapis persaingan dalam relasi itu: (1) persaingan antar-penjual yang mendorong harga turun; (2) persaingan antar pembeli yang mendorong harga naik, dan (3) persaingan antara pembeli dan penjual, di mana pembeli hendak membeli semurah mungkin, sementara penjual hendak menjual semahal mungkin. Siapa yang akan menang dalam persaingan penjual-pembeli ini tergantung dari persaingan internal di kedua kubu itu.

Relasi persaingan tiga lapis itulah yang mengemuka dan ditangkap oleh ilmu ekonomi sebagai hukum penawaran-permintaan. Jika jumlah penjual jauh lebih banyak dari pembeli, maka persaingan antar-penjual akan jauh lebih tinggi dari persaingan antar-pembeli, sehingga harga akan turun. Di sini, yang memenangkan persaingan penjual-pembeli adalah pembeli. Demikian pula sebaliknya, jika jumlah pembeli jauh lebih banyak dari penjual, maka persaingan antar-pembeli akan jauh lebih tinggi dari persaingan antar-penjual, sehingga penjual akan menang dan harga akan naik.

Meski Marx mengakui adanya relasi penawaran-permintaan sebagai sebuah kenyataan faktual yang terkonstruksi secara historis (bukan kodrati), namun Marx juga melihat bahwa relasi penawaran-permintaan, pada pokok terakhir, dideterminasi oleh ongkos produksi. Ongkos produksi adalah standar atau titik nol dengan mana kapitalis mengukur keuntungan-kerugian. Harga di atas ongkos produksi berarti untung, sementara harga di bawah ongkos produksi berarti rugi. Begitu pula, misalnya, komoditi X dan Y masing-masing berharga Rp100.000 dan Rp120.000, sementara ongkos produksi X Rp50.000 dan ongkos produksi Y Rp80.000, maka keuntungan komoditi X lebih besar dari Y, meski harga Y secara nominal lebih tinggi dari X.

Apa yang terjadi jika harga sebuah komoditi naik akibat tingginya permintaan dibandingkan dengan penawaran? Maka sejumlah besar kapital akan masuk ke bidang produksi komoditi yang menguntungkan itu, sehingga penawaran akan naik mengimbangi permintaan, dan harga akan turun. Tetapi, ketika harga sebuah komoditi turun sampai di bawah ongkos produksinya, maka kapital akan menarik diri dari bidang produksi komoditi yang merugi tersebut, sehingga penawaran akan turun mengimbangi permintaan, dan harga naik kembali.

Secara aktual, harga akan selalu berada di atas dan di bawah ongkos produksi. Namun, kenaikan harga sebuah komoditi akan selalu diimbangi dengan penurunan kembali harga komoditi itu. Dalam jangka waktu tertentu, ketika naik-turunnya harga dipertimbangkan secara bersamaan, maka akan terlihat bahwa harga sebuah komoditi, pada pokok terakhir, dideterminasi oleh ongkos produksinya. Dan ongkos produksi sebuah komoditi sebenarnya sama dengan waktu-kerja yang diperlukan untuk memproduksi komoditi itu, yang mencakup waktu-kerja yang sudah terkandung dalam alat-alat produksi (karena alat produksi juga dibuat oleh kerja manusia) dan waktu-kerja dari ‘kerja langsung’ untuk membuat komoditi tersebut.

Hukum yang berlaku pada harga komoditi secara umum juga berlaku untuk upah. Upah juga naik-turun sesuai dengan relasi penawaran-permintaan di pasar tenaga kerja. Namun, pada pokok terakhir, upah dideterminasi oleh ongkos produksi tenaga-kerja. Terdiri dari apa saja ongkos produksi tenaga-kerja ini? Pertama, ongkos produksi tenaga-kerja mencakup ongkos yang diperlukan untuk memelihara si pekerja sebagai pekerja, termasuk di dalamnya ongkos untuk pendidikan dan latihannya. Ini kenapa pekerja terdidik upahnya cenderung lebih besar, karena ongkos produksi tenaga-kerjanya mencakup biaya pendidikannya. Sementara, untuk pekerja tak terdidik (simple labour), yang diperlukan hanyalah biaya kebutuhan dasar untuk sekadar menyambung hidup. Kedua, ongkos produksi tenaga-kerja juga mencakup ongkos pemeliharaan anak yang kelak akan menggantikan si pekerja ketika ia sudah meninggal.

 

Apa itu Kapital?

Selanjutnya, Marx membahas kapital. Bentuk fisik dari kapital adalah alat-alat produksi dan konsumsi yang digunakan untuk memproduksi alat-alat produksi dan konsumsi baru. Tetapi, bukan bentuk fisik dari kapital yang menjadikan kapital sebagai kapital. Alat-alat produksi dan konsumsi hanya menjadi kapital di bawah relasi sosial-produksi borjuis atau kapitalis. Di luar relasi sosial-produksi kapitalis, alat-alat produksi dan konsumsi tidak akan menjadi kapital. Apa yang dimaksud dengan relasi sosial-produksi di sini adalah relasi sosial antar-individu dalam memproduksi, yang bisa berbeda-beda bentuknya dalam masyarakat yang berbeda. Dalam masyarakat kapitalis, relasi sosial-produksinya adalah relasi sosial-produksi pekerja-upahan dengan kapitalis.

Dalam relasi-sosial produksi kapitalis, alat-alat produksi dan konsumsi menjadi komoditi, yang mengandung nilai tukar. Apa yang dimaksud dengan nilai tukar di sini adalah ukuran bagi sebuah komoditi untuk ditukar dengan komoditi lain, yang jika diekspresikan dalam bentuk uang, adalah harga. Dengan demikian, kapital, dalam kata-kata Marx, ’bukan hanya terdiri dari sejumlah barang-barang material, tetapi juga sejumlah komoditi, sejumlah nilai tukar, sejumlah besaran sosial.’[5] Penubuhan fisik dari nilai tukar bisa berubah-ubah tanpa mengubah nilai tukarnya sendiri. Seseorang yang menjual X dengan harga Rp1 juta dan menggunakan Rp1 juta tersebut untuk membeli Y telah mengubah X menjadi Y di tangannya, tetapi nilai tukarnya tetap Rp1 juta.

Jadi, kapital terdiri dari sejumlah komoditi atau nilai tukar, tetapi tidak semua nilai tukar adalah kapital. Nilai tukar hanya menjadi kapital jika ia memelihara dan melipatgandakan dirinya. Dalam Capital, Marx juga menyatakan hal yang sama, meski dengan menggunakan konsep ’nilai,’ dan bukan ’nilai tukar.’ Ia menyatakan, ’Karenanya, sekarang nilai menjadi nilai dalam proses, uang dalam proses, dan dengan demikian, kapital. Ia keluar dari sirkulasi, masuk kembali ke dalamnya, memelihara dan melipatgandakan dirinya dalam sirkulasi, keluar darinya dengan ukuran yang lebih besar, dan memulai siklus yang sama secara berulang-ulang.’[6] Pelipatgandaan diri secara terus-menerus adalah watak dasar dari kapital.

Dengan cara apa kapital melipatgandakan dirinya? Dalam Wage-Labour, Marx tidak membahas penghisapan nilai-surplus, tetapi sudah ada gagasan bahwa kapital memelihara dan melipatgandakan dirinya dengan ‘kerja hidup’ (living labor) atau ‘kekuatan kreatif’ (creative force) pekerja.[7] Dalam Capital, dijelaskan bahwa nilai melipatgandakan dirinya melalui penghisapan nilai surplus dari pekerja.[8] Jadi, kapital sebenarnya membutuhkan keberadaan kerja-upahan. Namun, pekerja juga hanya bisa menjual tenaga-kerjanya jika ada kapital. Dengan demikian, kapital dan kerja-upahan sebenarnya berada dalam relasi saling mensyaratkan. Yang satu tidak bisa ada tanpa yang lain. Keduanya adalah dua sisi dari satu relasi sosial-produksi yang sama, yaitu relasi sosial-produksi kapitalis.

Ilustrasi: Hugo Gellert

Kontradiksi Kerja-Upahan dan Kapital

Relasi saling mensyaratkan antara kerja-upahan dan kapital, oleh banyak kalangan, terutama pemikir borjuis, sering diekspresikan secara keliru di tingkat pikiran dengan gagasan bahwa pekerja dan kapitalis memiliki kepentingan yang sama. Inilah landasan dari pernyataan, buruh tidak boleh terlalu ngotot menuntut kenaikan upah, karena akan rugi sendiri jika perusahaan collapse. Apa yang tidak bisa mereka lihat adalah bahwa selain memiliki relasi saling mensyaratkan, kerja-upahan dan kapital juga berada dalam relasi kontradiksi yang tak terdamaikan.

Marx memperlihatkan adanya kontradiksi ini bahkan dalam kondisi yang favourable. Dalam membahas hal ini, ia mengintrodusir tiga konsep upah. Pertama, upah nominal, yaitu angka uang dari upah yang kita terima. Kalau upah saya di bulan Januari Rp1 juta, sementara di bulan Februari Rp1,1 juta, itu berarti upah nominal saya naik. Kedua, upah riil, yaitu nilai upah berbanding dengan harga-harga komoditi lain. Upah nominal dan upah riil tidak harus sama. Bisa terjadi situasi di mana upah nominal naik, tetapi upah riil turun. Jika upah saya yang sebesar Rp1 juta di bulan Januari bisa membeli barang-barang senilai Rp1 juta, tetapi di bulan Februari, upah saya yang naik menjadi Rp1,1 juta tidak bisa lagi membeli barang-barang tersebut, karena barang-barang itu naik harganya menjadi Rp1,2 juta, maka sekalipun upah nominal saya naik, tetapi upah riil saya turun.[9]

Konsep yang ketiga adalah upah relatif, yakni porsi pekerja dalam nilai baru yang diciptakannya, dalam hubungannya dengan porsi kapital atau keuntungan dalam nilai tersebut. Menurut Marx, kontradiksi kerja-upahan dan kapital bisa dilihat dari relasi upah relatif yang berbanding terbalik (inverse proportion) dengan porsi keuntungan. Jika porsi keuntungan naik, maka upah relatif turun; jika porsi keuntungan turun, maka upah relatif naik. Adapun upah relatif bisa turun di kala upah nominal dan riil naik. Misalnya, upah nominal pekerja Rp20.000 dan keuntungan pengusaha Rp30.000. Upah relatifnya 40% dan porsi keuntungannya 60%. Jika upah pekerja naik Rp25.000, tetapi keuntungan naik Rp40.000, maka upah relatifnya turun 38,5%, sementara porsi keuntungan naik 61,5%.

Marx menggunakan konsep upah relatif, karena beranggapan bahwa ‘Kebutuhan dan kesenangan kita berasal dari masyarakat; karenanya, kita mengukur mereka dalam hubungannya dengan masyarakat; kita tidak mengukurnya dalam hubungannya dengan obyek yang memuaskan mereka. Karena mereka bersifat sosial, maka mereka bersifat relatif.’[10] Jadi, dalam kondisi yang favourable, di mana pertumbuhan kapital meningkat dan upah riil serta nominal naik, upah relatif tetap bisa turun, karena kenaikan upah bisa tidak sebanding dengan peningkatan keuntungan, sehingga ketidakpuasan pekerja tetap bisa terjadi. Di sini, meskipun posisi material pekerja membaik, tapi posisi sosialnya memburuk, dan kesenjangan sosial antara pekerja dan kapitalis meningkat.

Dengan demikian, kondisi yang favourable dalam kapitalisme tetap tidak menghilangkan pertentangan kepentingan pekerja dan kapitalis. Pasalnya, upah relatif selalu berbanding terbalik dengan porsi keuntungan. Tetapi, apakah kondisi yang favourable ini merupakan kecenderungan umum dalam kapitalisme? Apakah pertumbuhan kapital selalu diikuti oleh kenaikan upah riil dan nominal? Tidak, kata Marx. Pertumbuhan kapital bermakna pertumbuhan jumlah kapital individual. Ini berarti peningkatan persaingan di antara para kapitalis. Untuk bisa memenangkan persaingan, si kapitalis harus menjual komoditinya dengan harga lebih murah dari kapitalis lain. Dan untuk itu, ia harus memproduksi dengan ongkos lebih murah. Karenanya, ia harus meningkatkan produktivitas pekerjanya setinggi mungkin.

Dengan cara apa si kapitalis meningkatkan produktivitas pekerjanya? Dengan  memerinci pembagian kerja dan meningkatkan teknologi mesin-mesin. Pembagian kerja yang semakin rinci dan peningkatan teknologi mesin-mesin membuat si kapitalis bisa memproduksi lebih banyak komoditi dengan jumlah kerja yang sama, sehingga harga per satuan komoditinya menjadi lebih murah. Tetapi, ia harus menjual lebih banyak komoditi, apalagi peningkatan teknologi produksi yang dilakukannya memiliki ongkos tersendiri. Dengan menjual lebih banyak komoditi yang harga satuannya lebih murah, ia bisa memenangkan persaingan dari kapitalis lain.

Jadi, para kapitalis berlomba-lomba untuk terus memerinci pembagian kerja dan meningkatkan teknologi mesin-mesin agar bisa menang bersaing. Apa dampaknya bagi pekerja? Pertama-tama, pembagian kerja yang semakin rinci membuat satu orang bisa melakukan pekerjaan banyak orang. Pembagian kerja yang semakin rinci juga membuat pekerjaan semakin sederhana dan mudah dipelajari, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang ada semakin terbuka bagi semakin banyak orang. Akibatnya, persaingan antar-pekerja semakin meningkat, sehingga upah cenderung turun. Pekerjaan yang semakin mudah juga mendorong turunnya ongkos produksi tenaga-kerja yang menjadi determinan upah, karena yang dibutuhkan kemudian adalah pekerja tak terdidik.

Peningkatan teknologi mesin-mesin juga memiliki efek yang serupa. Mesin-mesin yang semakin canggih membuat pekerjaan semakin mudah. Begitu pula, semakin canggih dan produktif mesin-mesin itu, semakin sedikit tenaga-kerja yang diperlukan. Akibatnya, pengangguran bertambah dan persaingan antar-pekerja semakin meningkat, sehingga upah cenderung turun. Dan untuk mempertahankan penghasilannya di tengah penurunan upah, pekerja pun melakukan kerja lembur. Padahal, kerja lembur semakin meningkatkan persaingan antar-pekerja, sehingga upah cenderung semakin turun. Jadi, alih-alih menaikkan upah, pertumbuhan kapital meningkatkan persaingan antar-kapital individual, yang mendorong peningkatan teknologi mesin-mesin dan semakin rincinya pembagian kerja, yang pada gilirannya, meningkatkan persaingan antar-pekerja dan mendorong upah untuk turun.

Di bagian akhir Wage-Labour, Marx juga membahas pengusaha kecil yang tidak akan bisa bertahan dalam persaingan antar-kapitalis, sehingga akan mengalami ’kejatuhan kelas’ ke kelas pekerja. Lalu, Marx juga berbicara tentang krisis overproduksi, di mana produktivitas yang meningkat akibat persaingan, menyebabkan berlimpahnya komoditi di pasar, padahal kemampuan pasar untuk menyerap komoditi itu terbatas. Adapun keterbatasan pasar dalam menyerap komoditi ini, menurut saya, juga dipengaruhi oleh menurunnya upah dan daya beli pekerja, yang disebabkan oleh meningkatnya produktivitas akibat persaingan antar-kapitalis.

 

Catatan Penutup

Pembahasan Marx dalam Wage-Labour bisa berguna untuk memahami kontradiksi kerja-upahan dan kapital dalam kapitalisme. Namun, kalau kita baca dengan teliti, Marx sebenarnya sedang membahas kapitalisme dalam bentuk kompetitifnya, bukan dalam bentuk lainnya, seperti bentuk monopolinya. Ketika Marx mengatakan bahwa kenaikan harga sebuah komoditi akan diimbangi oleh penurunan harga komoditi itu, karena kapital akan masuk ke bidang produksi komoditi yang menguntungkan tersebut, sehingga penawaran akan naik mengimbangi permintaan, maka di situ terdapat asumsi bahwa secara umum para kapitalis memiliki akses yang relatif sama terhadap sumberdaya yang diperlukan untuk memproduksi komoditi itu, sehingga memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke bidang produksi komoditi tersebut.

Begitu pula, Marx menggunakan asumsi yang sama ketika berbicara tentang kebutuhan para kapitalis untuk terus memerinci pembagian kerja dan meningkatkan teknologi mesin-mesin, di mana pada saat satu kapitalis mengintrodusir pembagian kerja yang lebih rinci dan mesin yang lebih canggih, maka tidak lama kemudian, para kapitalis lain akan menggunakan pembagian kerja dan teknologi mesin yang sama, sehingga kemenangan satu kapitalis dalam persaingan tidak pernah lama. Kebutuhan para kapitalis untuk memerinci pembagian kerja dan meningkatkan teknologi mesin-mesin itu sendiri muncul dari kondisi persaingan yang tinggi akibat cukup banyaknya jumlah kapitalis individual. Ini merupakan situasi kapitalisme kompetitif.

Pertanyaannya, bagaimana dalam kapitalisme monopoli? Apakah di saat para kapitalis tidak memiliki akses yang relatif sama terhadap sumberdaya, karena misalnya monopoli teknologi oleh segelintir kapitalis, maka penjelasan Marx mengenai kenaikan harga yang akan selalu diimbangi oleh penurunannya, tidak lagi berlaku? Begitu pula, dalam situasi di mana jumlah kapitalis individual tidak banyak, apakah persaingan antar-kapitalis akan tetap tinggi dan memunculkan kebutuhan untuk memerinci pembagian kerja dan meningkatkan teknologi mesin-mesin? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dipikirkan. Apalagi Marx sendiri, dengan menyatakan, para pengusaha kecil akan disapu oleh kapitalis besar dalam persaingan, sebenarnya telah berkata bahwa kapitalisme kompetitif memiliki kecenderungan bergerak menuju kapitalisme monopoli.

 

Mohamad Zaki Hussein, Anggota Partai Rakyat Pekerja (PRP), Redaktur Pelaksana Left Book Review (LBR). Penulis beredar di Twitterland dengan id @mzakih

 

Pustaka Tambahan

 

Hussein, Mohamad Zaki. “Upah Nominal VS Upah Riil Buruh Industri.” Ada di http://zetetick.blogspot.com/2012/02/upah-nominal-vs-upah-riil-buruh.html. Diakses 8 Maret 2013.

 

Marx, Karl. Capital: A Critique of Political Economy. Jilid I. Diterjemahkan oleh Ben Fowkes. Middlesex: Penguin Books, 1976.

 


[1] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: “to examine more closely the economic conditions themselves upon which is founded the existence of the capitalist class and its class rule, as well as the slavery of the workers” (hlm. 16). Semua terjemahan Indonesia dalam kutipan adalah oleh saya sendiri.

[2] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: ‘this pamphlet is not as Marx wrote it in 1849, but approximately as Marx would have written it in 1891.’ (hlm. 6).

[3] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: ‘the aggregate of those mental and physical capabilities existing in the physical form, the living personality, of a human being.’ Karl Marx, Capital: A Critique of Political Economy, Jilid I, diterjemahkan oleh Ben Fowkes (Middlesex: Penguin Books), 1976, hlm. 270.

[4] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: ‘The use of labour-power is labour itself,’ ibid., hlm. 283.

[5] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: “Capital, consequently, is not only a sum of material products, it is a sum of commodities, of exchange values, of social magnitudes.” (hlm. 29).

[6] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: ’Value therefore now becomes value in process, money in process, and, as such, capital. It comes out of circulation, enters into it again, preserves and multiplies itself within circulation, emerges from it with an increased size, and starts the same cycle again and again.’ Karl Marx, Capital, op. cit., hlm. 256.

[7] Misalnya, ia menyatakan bahwa ‘Capital does not consist in the fact that accumulated labour serves living labour as a means for new production. It consists in the fact that living labour serves accumulated labour as the means of preserving and multiplying its exchange value’ (hlm 30). Atau di bagian lain ia menyatakan, ‘but the capitalist receives…the productive activity of the labourer, the creative force by which the worker not only replaces what he consumes, but also gives to the accumulated labour a greater value than it previously possessed.’ (hlm. 31). Apa yang dimaksud Marx dengan ‘accumulated labour’ di sini adalah komoditi atau nilai tukar yang jika melipatgandakan dirinya, menjadi kapital.

[8] Lihat Karl Marx, Capital, op. cit., hlm. 293-306.

[9] Konsep upah nominal dan upah riil juga ada dalam ilmu ekonomi mainstream, bahkan BPS pun menghitungnya. Lihat Mohamad Zaki Hussein, ‘Upah Nominal VS Upah Riil Buruh Industri,’ diakses 8 Maret 2013 dari http://zetetick.blogspot.com/2012/02/upah-nominal-vs-upah-riil-buruh.html.

[10] Kata-kata dalam versi Inggrisnya: ‘Our wants and pleasures have their origin in society; we therefore measure them in relation to society; we do not measure them in relation to the objects which serve for their gratification. Since they are of a social nature, they are of a relative nature.’ (hlm. 33).


comments powered by Disqus