Chiapas

Print Friendly, PDF & Email

Oase-IPRAKYAT jelata membuat sejarah. Tidak percaya? Mari palingkan wajah sejenak ke dunia seberang. Hari itu, 1 Januari 1994. Usai hingar-bingar pergantian tahun baru, dunia sontak menoleh ke Chiapas, provinsi termiskin di Meksiko. Tiga ribu petani angkat senjata. Mereka merangsek ke kota, memprotes pemerintah Meksiko yang bersekutu dengan Amerika Serikat dan Kanada meneken perjanjian kawasan perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA). Akibat liberalisasi perdagangan itu, petani miskin – kebanyakan masyarakat adat Indian – dipaksa bersaing dengan pemodal raksasa dari negara-negara besar.

Hasilnya jelas: petani miskin itu kalah. Maka tak ada pilihan kecuali  menyusun barisan perlawanan.

01-ezln-http-www-losangelespress-org-mirada-ezln

Tak tanggung-tanggung, perlawanan bersenjata. Dipimpin EZLN, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista, mereka bergerilya dengan senjata-senjata rakitan sendiri. Targetnya tentara pemerintah bersenjata canggih, yang selama itu menjadi tukang pukul kapital. Kehilangan puluhan anggota pasukan, mereka berhasil mendesak pemerintah menetapkan otonomi khusus bagi masyarakat adat. Apa lacur, pemerintah menghianati perjanjian dan malah menambah jumlah pasukan militer menyerbu Chiapas.

Perlawanan bersenjata ini tak terlalu sukses. Tapi ia menjadi penanda bangkitnya perlawanan kaum tertindas dari kepungan neoliberalisme di seluruh dunia. Slogan ‘Tak ada alternatif’ di luar neoliberalisme, yang selama itu melilit jiwa kaum tertindas, sukses dirontokkan. Dari Chiapas, kaum tertindas di seluruh dunia memasuki sejarah baru kehidupan mereka. ‘Selalu ada alternatif.’

Usai perang fisik, Zapatista mengubah haluan perjuangan. Dari lereng pegunungan Lacandon, mereka melancarkan propaganda lewat berbagai tulisan. Menggalang dukungan masyarakat sipil nasional dan internasional.

Di jalur perlawanan ini, mencuat nama Subcomandante Marcos, ikon perlawanan Zapatista  yang mempesona jagat raya. Penampilannya khas: menunggang kuda dengan balutan baju tentara coklat tua, syal merah membebat leher, head phone tersambung ke telepon satelit dan pipa cangklong terselip di balik topeng balaclava yang menyembunyikan wajahnya. Ditambah kepiawaian mengemas seruan anti neoliberalisme dalam bahasa yang puitis, kadang satir, kadang romantis, membuat marah dan sekaligus menggugah.

Ribuan esai, puisi, roman, dongeng-dongeng hingga novel tersebar lewat internet dan koran-koran. Seruan-seruan Marcos terus berkibar dan membetot perhatian dunia.

‘Kami hasil dari 500 tahun perjuangan. Pertama berjuang melawan perbudakan, lalu melawan Spanyol semasa perang kemerdekaan, kemudian menolak dihisap oleh imperialisme Amerika Utara, lantas ketika meresmikan konstitusi kita dan mengusir pergi kekaisaran Perancis dari tanah ini. Namun hari ini kami serukan. Ya Basta! Cukup sudah!”

Hingga kini, kata-kata adalah senjata, mantra dari Chiapas itu masih menggetarkan bumi. Neoliberalisme yang habis-habisan mereka lawan, memang hanya berikan dua pilihan: terjerumus miskin atau bangkit berontak.

Dan tengoklah data pemberontakan petani di bumi Khatulistiwa, sepanjang empat bulan terakhir saja:

23 November 2012, ratusan masyarakat adat Pagu, Halmahera Utara, termasuk ibu dan anak-anak berjajar menutup jalan utama ke PT Nusa Halmahera Mineral (NHM). Mereka memprotes pembabatan hutan adat mereka oleh perusahaan tambang Australia  itu. Seluas 50 hektar wilayah masyarakat adat di pegunungan Diur dan Imur, termasuk kebun cengkeh dan situs sejarah, dibabat habis untuk kegiatan eksplorasi.

19 Desember 2012, 73 petani dari Pulau Padang, Kepulauan Meranti, Riau ramai-ramai menjahit mulut dan mogok makan di depan gedung DPR. Berbelas tahun mereka melakukan aksi, mulai dari kelurahan, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi menuntut tanah yang dirampas oleh PT. Riau Andalan Pulp and Paper. Tak ada respon. Maka jahit mulut dan mogok makan adalah teriakan paling akhir.

‘Sebagian besar tanah di Pulau Padang adalah tanah gambut. Jika terjadi penebangan hutan terus menerus, tanah akan turun. Pulau kami bisa tenggelam. Makanya, kami berjuang hidup mati untuk menyelamatkan pulau itu!’

20 Januari 2013, ratusan warga Morotai, Maluku Utara serentak mencabut 104 buah patok lahan milik TNI AU. Mereka menuntut penyelesaian sengketa lahan dengan TNI AU. Sejak zaman kolonial, warga Morotai mendiami tanah tersebut, dan tiba-tiba tentara mematoknya sekaligus menggusur puluhan ribu pohon kelapa milik warga.

22 Januari 2012, 75 petani dari Suku Anak Dalam Jambi dan Mesuji Lampung sampai di Jakarta. Setelah selama 45 hari berjalan kaki sepanjang 1000 kilometer menyusuri jalur lintas timur Sumatera. Tanah yang selama ini mereka garap dirampas oleh pengusaha perkebunan dengan dalih konservasi. Tergabung dalam Pasukan GNP’33, slogan Pasal 33 UUD 1945: Tolak Dominasi Modal Asing dan UUPA 1960: Tanah untuk Rakyat bergema sepanjang jalan.

30 Januari 2012, 120 petani dari Blitar, Jawa Timur yang tergabung dalam Front Perjuangan Petani Mataraman, selama 21 hari, menggotong merah putih, menerjang hujan terpanggang matahari, berjalan kaki menempuhi lebih dari 800 kilometer menuju istana negara. Mereka menuntut dikembalikannya lahan yang diserobot pemerintah pasca-peristiwa 1965. Juga menagih janji Presiden SBY saat kampanye untuk menyerahkan tanah seluas 9,25 juta hektar untuk petani miskin.

5 Februari 2013, ratusan petani tembakau di lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah, melakukan aksi cap jempol darah. Ujung jari ditusuk sebilah jarum, darah yang muncrat ditorehkan pada bentangan kain putih sepanjang 109 meter, simbol penolakan terhadap PP 109 tahun 2012 tentang pengendalian produk tembakau yang membunuh mata pencaharian mereka.

Mati urip mbakoora sah wedi PP 109! Sebab tembakau adalah sumber penghidupan!’ teriaknya. Mereka juga mengancam tak akan membayar pajak dan mencoblos dalam Pemilu.

Perlawanan petani menjalari seantero negeri. Buah neoliberalisme yang mencengkeram dari hulu hingga hilir. Kini rakyat terdesak kehilangan lahan, dikuasai tentara atau dicaplok korporasi. Sumber-sumber tambang dieksploitasi habis-habisan. Tanah untuk tanaman pangan dikonversi dengan tanaman ekspor seperti kelapa sawit. Sumber irigasi ludes dikuasai perusahaan air minum. Petani miskin dipaksa terjun bebas dalam mekanisme pasar. Sementara generasi muda terdidik lebih berbangga menjadi buruh tambang asing berupah ribuan dollar.

02-EZLN-1-http-desinformemonos-org

Dari pegunungan Lacandon, Zapatista menyusun perlawanan lewat nuestra palabra es nustra arma. Kata-kata adalah senjata. Di sekujur nusantara, petani miskin telah menempuhi segala daya: tanda tangan darah. Mogok makan. Menjahit mulut. Menghadang traktor. Menggotong merah putih berjalan kaki ribuan kilometer. Hingga mati bersimbah darah, di ujung bedil tentara, di atas tanah yang dibelanya.***

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.