Kedai Kopi Oriental

CERITA PENDEK

Fragmen I

LAKI-LAKI dan perempuan pertengahan 20-an tahun bergandengan masuk ke kedai kopi di ujung jalan. Mereka melepaskan gandengan tangan ketika seorang waitress perempuan di depan pintu menyapa mereka, ”selamat sore,” dengan senyum menawan sedikit genit. Si Perempuan cemberut yang memaksa Si Lelaki mengeluarkan lima enam kalimat rayuan. Mereka mendapat meja di sudut kiri kedai itu. Setelah masing-masing menghunus sebatang rokok dari kotak rokok berwarna hitam berkepala bunga matahari dan setelah waitress datang membawa pesanan; Italian Hot Ekspreso dan Vietnam Ice Coffee, tak ada lagi cemberut, mubasir kalimat rayuan. Mereka seperti sepakat bahwa cinta mereka melampaui kebiasaan Si Lelaki mencongkal-congkel hati gadis-gadis yang lebih muda darinya dan kebiasaan Si Perempuan mengocok-ngocok perasaan lelaki paruh baya.

Ujung rokok keduanya sudah saling memelototi, menunda waktu untuk dibakar. Sia-sia; lelaki itu menyalakan geretan di tengah-tengah dan mereka saling merapatkan wajah sehingga ujung-ujung rokok di bibir mereka bertemu di tengah-tengah, tepat di atas jilatan api. Ah, seperti ciuman penuh gelora. Sehelai tembakau memberontak, melompat dari kepompong rokok, menabrak pegangan cangkir, jatuh ke genangan air akibat embun di dinding gelas yang terkena panas. Ketika mendapati dirinya ngambang di atas air, Si Sehelai Tembakau bermimpi tentang kampung halamannya yang bahkan namanya pun tak diketahuinya.

Kedai Kopi Oriental, begitu nama setting tempat cerita kita ini terjadi, adalah sebuah tempat pertemuan, tempat mengenang pertemuan, bisa pula tempat mengulangi kembali pertemuan. Semua tempat rupa-rupanya memang punya tendensi demikian. Ini mengakibatkan Kedai Kopi Oriental kehilangan kebanggaan dirinya. Yang menjadi masalah adalah apakah tempat itu dicatat atau tidak. Terkadang lebih banyak yang tak tercatat yang lantas menghilang tak tentu rimbanya. Banyak juga yang setelah hilang baru disadari oleh manusia untuk mencatatnya. Namun semua telah terlambat.

Entah pertemuan-pertemuan yang diciptakan mau pun tidak. Ini kali kelima Perempuan dan Laki-laki itu datang ke Kedai Kopi Oriental. Kedatangan kelima adalah peristiwa yang tak disengaja lantaran mereka terlalu muak untuk mengakui bahwa di kota ini pajak sebuah kendaraan bermotor lebih menguntungkan daripada hidup seorang pengangguran. Kedatangan kedua adalah panggilan Lorerei di setiap kelindan kopi dan gula entah di rumah mereka, entah di tempat kerja mereka, atau pun di warung kecil dekat terminal bus antar kota. Kedatangan pertama dan keempat adalah usaha merapatkan kembali hubungan mereka setelah dua hal yang sempat merenggangkan hubungan mereka namun terbukti telah terlampaui oleh cinta mereka.

‘Eh, lebih baik sekarang kamu kabari Mama kalau kita tak jadi pulang ke rumah hari ini.’

‘Jadi, dari sini kita akan ke mana? Apa aku bermalam di tempatmu saja ya?’

‘Bisa begitu, bisa juga aku yang ke tempatmu.’

‘Ah, ayolah Be. Kasih satu kepastian.’

‘Hei, bukannya yang pasti itu sudah jelas ada dua hal untuk saat ini? Kita tak jadi ke rumah, itu yang pertama. Sedangkan yang kedua, aku mencintaimu dan tak akan ada nada lain lagi dalam lagu hidupku.’

‘Huh, kamu. Masih sempatnya menyelipkan rayuan. Ya sudah. Yang akan menjadi kepastian ketiga adalah aku ke tempatmu malam ini.’ Sambil menyembunyikan akir senyum di lipatan bibir bagian bawahnya, perempuan itu mengeluarkan handphone dari dalam tas tangannya.

‘Eh yayang, lihat deh. Lelaki di ujung sana sepertinya tengah berbincang dengan perempuan yang ada di iklan itu.’

‘Oh ya?’ jawab Si Perempuan antusias dan menoleh ke arah yang dimaksud si lelaki.

Di bawah meja, tangan mereka saling meremas.

Fragmen II

Waitress perempuan itu sigap melangkah meninggalkan meja Si Lelaki dan SI perempuan. Ah, kita sebut saja namanya Lina. Ia membawa nampan yang telah kosong. Lina terbiasa berjalan sigap sambil melirik ke sana ke mari, memperhatikan aktifitas para pengunjung Kedai Kopi tempatnya bekerja. Dia semakin jatuh cinta dengan tempat ini. Paling tidak, tempat inilah yang memungkinkannya masih bisa tetap hidup plus menanggung hidup ibu dan adiknya, walau pun pas-pasan. Namun kekahwatiran akir-akir ini mulai menghinggapi hatinya. Kemarin, Mira temannya disuruh pindah oleh bos mereka yang baik hati itu. Ia sempat curi-curi dengar perbincangan Mira dan bos mereka.

‘Begini Mira. Saya atas nama tempat ini berterima kasih sekali kamu sudah bekerja dengan setia dan tak pernah melakukan kesalahan apa pun di tempat ini. Tapi yah, kamu tentu tahu, pengunjung tempat ini tidak mungkin dilayani perempuan di atas 30 tahun. Kamu pasti sudah tahu tentang hal ini. Saya yah, Cuma mau mengingatkan saja.’

‘Bisa minta beberapa bulan lagi Pak? Sekitar 3 atau 6 bulan lagi? Sekarang lagi susah pak cari kerja, sedang anak-anak tak pernah peduli, bapak mereka tak pernah ada kabar dari negeri seberang.’

‘Aduh, kamu lupakan saja deh lelaki itu. Masa pergi lima tahun tak juga ada kabar? Kayaknya banyak tuh yang suka kamu. Ipang, Bimo, Darwo, pilih aja salah satu. Lumayan kan buat sama-sama bahu membahu bangun keluarga?’

‘Kepikiran juga begitu pak. Tapi ga tega saya. Kalau ada kabar sedikit aja pak, saya pasti bisa ambil keputusan.’

‘Ya sudah. Aku kasih kesempatan kamu sampai akir tahun ini ya. Itu berarti 8 tahun. Nanti saya coba cari tahu juga deh, mungkin ada lowongan lain di tempat teman-temanku buat kamu.’

Mengenang pembicaraan itu. Lina jadi kahwatir. Ia mulai menghitung usianya. Dua tahun lagi kira-kira, ia bisa bekerja di sini. Aduh, ia tak bisa membayangkan apa yang dia lakukan setelah itu. Bersuami? Oh, selalu ia tampik kemungkinan itu. Bukannya membenci lelaki atau takut berkeluarga, ia merasa selama ini setiap lelaki yang masuk ke dalam hidupnya tak ada yang bisa memahami masalahnya dan mau mengambil sebagian atau bahkan seperlima saja dari bebannya. Bayangkan, tujuh lelaki sudah diujicobakan dia. Diajaknya masuk pada realitas hidup keluarganya. Semuanya hanya bertahan tiga sampai empat bulan. Paling lama enam bulan. Bah, dia tak lagi peduli.

Fragmen Final

Kami bertemu di Kedai Oriental. Kedai Kopi itu terletak tak jauh dari tempatku magang kini. Aku seorang wartawan muda dari daerah dan seperti kebiasaan kantor berita tempatku bekerja, wartawan-wartawan daerah akan diberi kesempatan belajar di kantor pusat selama tiga bulan.

Kedai Oriental kutemukan dengan tak sengaja. Suatu sore, kira-kira di minggu kedua magangku, alih-alih dari kantor langsung aku pulang ke tempat penginapan, aku malah memutuskan untuk jalan-jalan sejenak. Lagi pula di minggu ke empat aku akan mulai bertugas di lapangan; setidak-tidaknya sedikit jalan-jalan di kota ini membuatku lebih mengenalnya lagi. Kau tahu, sebuah lagu bagus selalu diawali dengan intro yang menggemaskan pula.

Ah, lalu lintas kota ini memang bangsat. Mungkin nanti aku akan sampai pada kesimpulan bahwa lalu lintasnya bisa membuat malas menghinggapi dengan seketika semangatmu yang berkobar-kobar. Tapi tidak. Banyak penghuni kota ini biasa-biasa saja dengan lalu lintas yang demikian. Mungkin aku orang baru, butuh penyesuaian sejenak.

Aku menemukan diriku berdiri di sebuah simpangan ramai. Tak ada keramaian yang begitu ramai yang bisa kukatakan padamu untuk mengatakan ramai yang kumaksud. Satu kata mungkin; FATAAAL!!! Aku tak tahan berdiri lama di sana. Engkau harus menjadi seniman untuk bisa menikmati keramaian seperti ini. Sebatang rokokku hanya bisa kutarik dua kali. Lantas keluh, lantas kubuang begitu saja ke selokan. Aku membalikan badan, berjalan memasuki sebuah gang sempit; aku tak ingin kembali menelusuri jalan sebelumnya; sedikit tersesat dalam jalan-jalan sore ini tak mengapa untukku. Keluar dari gang sempit itu, aku tiba di sebuah jalan raya dengan dua jalur berkapasitas empat mobil. Kususuri jalan itu.

‘Kau harus menghayati menjadi Jakarta dalam segala perjalanan sejarahnya untuk bisa menikmati tempat ini,’ saran Kepala Biro Berita Luar Negeri yang pernah tanpa sengaja semeja denganku di Kedai Oriental. Hari-hari berikutnya ia tak mampir lagi di kedai itu. Aku sendirian. Tak masalah, pikirku. Lagi pula ada objek baru yang menarikku untuk terus menerus datang ke kedai itu. Bukan kopinya, bukan penganannya, bukan pula suasana Pecinan 50-an yang ditawarkannya.

Dia seorang gadis keturunan dengan bibir merah merekah dan baju khas Cina berwarna merah. Ia selalu duduk di bagian kiri kedai itu. Di atas mejanya, lima kuntum mawar merah merekah dari leher jenjang sebuah vas porselen. Cangkir kopi putih selalu ada di depannya. Bibir merahnya selalu terkatup bahkan ketika ia menyeruput kopi. Pandangannya selalu lurus ke arahku.

Bulan kedua kunjungan wajibku ke tempat itu aku sudah menemukan meja favorit. Aku juga sudah berkenalan dengan manajer kedai itu—seorang lelaki keturunan yang tambun dengan rambut tipis serta senyuman yang ramah. Kami sempat ngobrol beberapa kali. Darinyalah aku berhasil memastikan meja di dekat pintu kedai itu selalu tersedia untukku dari pukul lima sampai enam petang. Dan sejak bulan kedua itulah aku mulai memperhatikan dengan saksama perempuan itu. Ada gelang giok di tangan kanan dan kirinya. Di kedua sisi kepalanya tertempel hiasan rambut khas cina. Aku berjanji dalam hati untuk suatu hari bertanya padanya segala nama benda yang melekat di tubuhnya. Pakaiannya, gelangnya, bedaknya, dan juga merk gincunya.

Namun bukan sekarang. Aku ingin bertanya padanya seminggu sebelum kepulangannya. Ah, tidak. Di hari terakirku di kota ini saja. Aku akan membeli tiket pesawat untuk malam hari dan akan mampir di situ petangnya, berbincang dengannya, dan kembali ke rumah. Ini semacam terapi. Aku terlanjur jatuh cinta padanya dan jika berbincang dengannya ada dua kemungkinan; hati patah atau hati berbunga-bunga. Dengan berbincang di hari kepulanganku, apa pun yang terjadi bisa diatasi. Patah hati akan terobati segudang tugas liputan di kampung yang sedang berkecamuk konflik, hati berbunga-bunga mampu bermekaran dengan segala kemungkinan penciutan waktu-ruang yang dimungkinkan teknologi sekarang. AKu juga bisa dengan radikal pindah ke kota ini dan mencari pekerjaan yang baru. Aku memang sudah sangat jatuh cinta padanya.

Bulan ketiga kurasa aku sudah sangat tahu penampilannya. Bahkan ketika sedang tidur pun aku bisa dengan cermat mendeskripsikan dirinya. Bahkan dengan menutup mata pun aku bisa melukiskan potret dirinya di kanvas putih. Yah, aku mengingatnya dengan detil sekali; tatap matanya, poninya, baju merahnya, caranya memegang kipas, kopinya, gelang gioknya, gincunya, antingnya, mejanya, semuanya. Ia memang tak bergeming setiap kali aku datang ke sini dalam tiga bulan ini.

Hari terakir itu tiba. AKu akan naik pesawat jam 21.30. tiba di bandara kutaksir pukul 20.30. Berarti aku akan ke kedai itu pukul lima petang.

Aku kini di kedai itu lagi. Pukul lima, di sana masih sepi, seperti biasanya, lagi pula ini bukan akir pekan.

Ngga di tempat biasa Bung?’ Manajer bertanya.

‘Oh, aku bersama Nona itu saja.’

Manajer terbengong-bengong. Belum ada pengunjung perempuan sejak jam empat tadi. Namun ia tak peduli. Terkadang bahasa orang lain tak kau pahami, entah karena budaya metaforanya yang berbeda, entah karena pola berpikirnya pun beda denganmu. Itu sering terjadi.

Sepasang kekasih—yang biasanya sering ke kedai itu di akir pekan—muncul.

‘Tempat ngerokok kosong?’ Tanya Si Perempuan.

‘Silahkan.’

Mereka pun duduk di meja terkiri kedai itu.

‘Eh yayang, lihat deh. Lelaki di ujung sana sepertinya tengah berbincang dengan perempuan yang ada di iklan itu.’

‘Oh ya?’ jawab Si Perempuan antusias dan menoleh ke arah yang dimaksud si lelaki.

Di bawah meja, tangan mereka saling meremas.

Seorang waitres mengantar pesanan mereka. Lewat di samping lelaki hitam, waitress itu berhenti sejenak. Wajahnya tak mampu menyembunyikan keterkejutan.

Lima menit berselang, semua orang di kedai itu—15 orang—memandang heran lelaki hitam yang bermonolog di depan gambar gadis Tionghoa di dalam iklan di ujung kanan kedai itu.

2011

Berto Tukan


comments powered by Disqus