Penyebaran dan Penerimaan Manifesto Komunis di Italia: Dari Asal hingga 1945

Berbeda dari perkiraan yang menyebutkan bahwa setelah 1989 Karl Marx akan terlupakan, Marx justru kembali menjadi perhatian para akademisi di dunia. Seratus enampuluh tahun setelah ditulis, Manifesto Komunis kembali dirayakan sebagai teks dengan prediksi dahsyat tentang perkembangan kaum kapitalis dalam skala dunia. Artikel ini mempertimbangkan bagaimana tulisan Marx dan Engels diterjemahkan dan diterima di Italia, dari pertama kali terbit pada tahun 1889 sampai 1945, dan lebih luas lagi, mengeksplorasi interpretasi keliru dari keberadaan karya-karya Marx di Italia. Dari pengamatan jarak dekat terhadap pers gerakan pekerja yang baru didirikan dan tulisan-tulisan kaum sosialis awal, ditemukan bukti pemalsuan dan termiskinkannya Marxisme. Esai-esai Antonio Labriola mengenai Sejarah Konsepsi Materialis, yang diterbitkan antara 1895 dan 1897, adalah satu-satunya karya di Italia yang menyuguhkan interpretasi yang teliti yang mampu mengukur/memiliki sifat tingkatan Eropa dalam Marxisme. Melalui rekonstruksi historiografi atas karya terjemahan dan perkembangan interpretasi dari Manifesto Komunis-nya Marx dan Engels, artikel ini memperdebatkan ‘krisis Marxisme’ di akhir abad ke 19 di mana Benedetto Croce adalah figur terpenting, pembatasan penyebaran teori-teori Marx dalam Partai Sosialis Italia, perjuangan antara kaum reformis dan serikat buruh revolusioner dan revisionis di awal abad ke 20 dan represi fasisme selama 20 tahun.

Kata kunci: Karl Marx; Manifesto Komunis; Antonio Labriola; Marxisme; Sejarah Gerakan Kaum Pekerja; Italia.

Prolog

Berhutang pada kejadian-kejadian politik dan perselisihan teoritis, ketertarikan pada karya Marx tak pernah berlangsung secara konsisten dan telah mengalami periode penolakan yang tak terbantahkan. Dari krisis Marxisme, hingga pembubaran International Kedua, dari diskusi tentang keterbatasan teori nilai lebih ke tragedi komunisme Soviet, kritisisme ide-ide Marx selalu tampak  terarah melampaui konsepsi cakrawala Marxisme. Namun demikian, tetap terus ada sebuah “kepulangan pada Marx.” Sebuah kebutuhan baru berkembang yang mengacu pada karyanya, entah itu berupa kritik ekonomi politik atau perumusan alienasi atau halaman-halaman yang cerdas berisi polemik politis, yang kemudian berlanjut menjadi sebuah daya tarik yang begitu kuat, baik untuk pengikut maupun penyanggahnya. Diumumkan mati pada akhir abad ke 20, Marx tiba-tiba hadir kembali dalam panggung sejarah; ada ketertarikan yang kembali hidup pada pemikirannya, dan orang lalu kembali rajin mendatangi buku-bukunya di banyak perpustakaan di Eropa, Amerika, dan Jepang.

Penemuan dan pembelajaran kembali Marx,[1] didasarkan pada kemampuan dahsyatnya yang konsisten untuk menjelaskan apa yang terjadi di masa sekarang; tentu saja, pemikirannya tetap tinggal sebagai sebuah alat yang tak bisa dibuang untuk memahami dan mentranformasikannya. Di hadapan krisis masyarakat kapitalis dan kontradiksi nyata yang menghadangnya, si penulis (baca: Marx) yang telah secara terburu-buru disingkirkan setelah 1989 ini, sekali lagi menyedot perhatian dan kembali dipertanyakan. Seperti yang ditegaskan Jacques Derrida, “adalah sebuah kesalahan untuk tidak membaca dan kembali membaca dan mendiskusikan Marx”[2] – yang cuma beberapa tahun lalu tampak sebagai provokasi usang dan terisolasi –  sebuah pernyataan yang terus mendapatkan persetujuan.

Sejak akhir tahun 1990, koran, terbitan berkala, program radio dan televisi telah berulang kali mendiskusikan Marx sebagai sosok pemikir yang paling relevan saat ini. Artikel pertama yang mengatakan ini dan memiliki daya getar yang abadi adalah “Kembalinya Karl Marx” (The Return of Karl Marx”), yang diterbitkan oleh majalah bergengi di Amerika Serikat, The New Yorker.[3] Kemudian giliran BBC yang menganugerahkan mahkota padanya sebagai pemikir terbesar milenium ini. Beberapa tahun setelahnya, mingguan Nouvel Observateur mengabdikan satu isu penuh bertema Karl  Marx- Pemikir Milenium Ketiga? (Karl Marx-le penseur du troisieme millenaire?)[4] Tak lama kemudian, Jerman memberi penghargaan pada sosok yang pernah dipaksa hidup dalam pengasingan selama 40  tahun; pada 2004, lebih dari 500 ribu penonton stasiun televisi nasional ZDF memilih Marx sebagai pribadi ketiga terpenting Jerman sepanjang masa (Marx masuk pertama pada jajaran ‘relevansi kontemporer’), dan selama pemilihan umum terakhir, majalah Der Spiegel menaruh gambarnya di sampul depan, dengan tanda kemenangan, dibawah judul Ein Gespenst kehrt zuruck atau Hantu yang Kembali.[5] Melengkapi semua itu, sebuah polling yang diadakan pada 2005 oleh stasiun radio BBC4 menempatkan Marx pada posisi terhormat, filsuf yang paling dikagumi oleh para pendengarnya.

Lebih jauh lagi, kepustakaan yang berkaitan dengan Marx yang sudah mengering 15 tahun lalu, kembali menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di berbagai negara, baik dalam bentuk formulasi ilmu-ilmu baru maupun dalam booklet dalam berbagai bahasa dengan judul, seperti Mengapa Baca Marx Hari Ini? Demikian juga dengan jurnal-jurnal yang pada akhirnya kembali membuka diri menerima kontribusi tentang Marx dan Marxisme, sebagaimana yang bisa kita lihat sekarang dalam beragam konferensi internasional, berbagai kursus dan seminar di universitas yang mengambil  tema tersebut. Pada akhirnya, biarpun masih malu-malu dan sering membingungkan, sebuah minat dan permintaan baru mengenai Marx telah membuatnya kembali bergema dalam kancah politik – dari Amerika Latin hingga Eropa, melalui gerakan globalisasi alternatif.

Sekali lagi, dari seluruh teks karya Marx, satu yang tak terbantahkan dan menjadi perhatian terbesar dari para pembaca dan komentatornya adalah Manifesto Partai Komunis. Edisi baru yang menyoal karya besar ini telah tercetak lusinan di setiap pojok planet, bahkan setelah 1989, dan dirayakan tak hanya sebagai sejarah dalam teks politis yang paling banyak dibaca, namun juga sebagai analisa dari kecenderungan kapitalisme yang paling tepat meramal masa depan.[6] Atas alasan inilah, pada perayaan penyusunannya (disusun 1848) yang ke 160, barangkali menjadi sebuah hal penting untuk melacak kembali pergantian arah dari penyebaran awalnya di satu dari sekian negara dimana karya ini mengalami kesuksesannya yang terbesar: Italia.

Karl Marx: Kesalahpahaman Italia

Di Italia, teori-teori Marx telah menikmati popularitas luar biasa. Partai-partai, serikat-serikat buruh, dan gerakan-gerakan sosial, telah terinspirasi dengan teori-teori ini yang kemudian mengubah kehidupan politik nasional jauh melebihi teori-teori lainnya. Teori Marx telah mengubah arah dan kosakata yang tersebar di setiap bidang ilmu dan kebudayaan. Teori-teori Marx juga terus menjadi alat teoritis utama dalam proses emansipasi jutaan laki-laki dan perempuan yang menyumbang pada kesadaran diri baru pada alam bawah sadar mereka.

Level penyebaran teori Marx di Italia memiliki banyak persamaan dengan beberapa negara lain. Untuk itu, adalah esensial untuk menyelidiki apa penyebabnya. Kapan orang bicara pertama kalinya tentang ‘Carlo Marx’? Kapan namanya muncul dalam jurnal-jurnal di antara berbagai karya terjemahan pertama? Kapan reputasinya tersebar dalam imajinasi kolektif para militan dan pekerja sosialis? Dan, di atas semua itu, dalam jalan yang mana dan situasi seperti apa pemikirannya terbangun dan hadir di Italia?

Terjemahan pertama-tama tentang Marx – figur yang asing selama pergolakan revolusioner pada 1848 – muncul pada akhir pertengahan 1860an. Tetapi yang muncul hanya sedikit dan punya rentang yang panjang satu sama lainnya, dan hanya berkaitan dengan ‘Petisi’ dan ‘Undang-Undang’ dari Asosiasi Pekerja Internasional (International Working Men’s Association). Keterlambatan kehadiran ini, sebagiannya karena kurangnya persentuhan Marx dan Engels dengan Italia, sebab mereka tak memiliki korespondensi di sana sampai tahun 1860 dan tak punya hubungan politik sampai tahun 1870, meskipun mereka amat sangat tertarik dengan sejarah, budaya, dan kenyataan kontemporernya.

Mula pertama ketertarikan pada figur Marx muncul dalam kaitannya dengan pengalaman revolusioner Komune Paris (Paris Commune). Hanya dalam hitungan beberapa minggu, media nasional, sebagaimana halnya surat kabar kelas pekerja yang tak terhitung jumlahnya, menerbitkan sketsa biografis “penemu dan pemimpin umum dari Internasional”[7] beserta kutipan surat- surat dan resolusi-resolusi politik (termasuk perang sipil di Prancis). Bahkan pada saat itu, daftar tulisan yang diterbitkan – yang mana, bersama dengan karya-karya milik Engels, telah mencapai total 85 tulisan dalam jangka waktu setahun saja, yaitu 1871-1872- dan secara eksklusif terfokus pada dokumen dari Internasional; perhatian utamanya awalnya politis dan hanya sesudahnya menjadi teoritis.[8] Beberapa koran juga menerbitkan deskripsi fantasi yang menggambarkan Marx dengan aura yang mistis: “Karl Marx adalah sosok yang cerdas dan pemberani dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan. Perjalanannya dari satu negara ke negara lainnya, seringkali dengan cara menyamar, membuatnya bisa menyelamatkan dirinya dari  pengamatan seluruh polisi rahasia di Eropa.”[9]

Otoritas yang mulai mengelilingi namanya sungguhlah besar dan tak terbatas.[10] Karena itu dalam periode ini, buku-buku propaganda menyebarkan gambar Marx – atau yang mereka anggap sebagai Marx – bersamaan dengan Charles Darwin dan Herbert Spencer.[11] Pemikirannya dianggap sealiran dengan legalisme atau positivisme.[12] Ia kemudian disejajarkan dengan mereka yang secara teori bertolak belakang dengannya, seperti Fourier, Mazzini, dan Bastiat. Atau, di bermacam kesalahpahaman lain, ketokohannya dibandingkan dengan Garibaldi[13] atau Schaffle.[14]

Tak ada satupun dari kenalan sambil lalu dengan Marx ini, yang secara politik menyuarakan hal yang sama dengan dirinya. Pendukung Internasional dari Italia memihak nyaris terang-terangan pada Bakunin yang melawan Marx, yang rumusan-rumusannya secara hakekat tetap tak diketahui, dan konflik di dalam Internasional lebih dilihat sebagai perselisihan pribadi antara dua orang ketimbang sebagai sebuah kontestasi teoritis.[15]

Adalah gampang bagi ide-ide anarkis untuk melakukan hegemoni pada dekade berikutnya, di sebuah negara yang ditandai dengan absennya kapitalisme industri modern, kepadatan rendah populasi pekerja, dan tradisi konspirasi yang hidup dan terikat dengan revolusi yang baru saja terjadi. Maka dari itu, analisa teoritis Marx hanya perlahan-lahan menegas di kalangan gerakan pekerja. Uniknya, analisa-analisa ini menjadi populer pertama kali justru melalui para anarkis, yang secara utuh membagikan teori-teori perjuangan kelas dan emansipasi diri para pekerja yang terdapat pada “Undang-Undang” dan “Petisi” pada Internasional. Dalam cara ini, mereka melanjutkan mencetak Marx, sering dalam bentuk polemik dengan revolusi secara verbal tetapi pada prakteknya adalah legalistik dan sosialisme yang revisionis. Inisiatif paling penting, terutama adalah publikasi pada 1879, yaitu ringkasan dari volume pertama Capital, disusun oleh Carlo Cafiero. Inilah pertama kalinya konsep teoritis Marx yang utama mulai tersebar di Italia, dalam bentuk yang mulai populer.

Tahun 1880an dan ‘Marxisme’ Tanpa Marx

Tulisan-tulisan Marx tidak diterjemahkan pada 1880an. Dengan pengecualian dari beberapa artikel media sosialis, tulisan yang muncul hanyalah dua karya dari Engels (Socialism, Utopian and Scientific pada 1883 dan The Origins of the Family, Private Property and the State pada 1885); dan ini pun hanya pada edisi-edisi yang kecil, tak tersentuh dari kerja-kerja penuh bakti dan keras kepala dari sosialis macam Benevento, Pasquale Martignetti. Di sisi lain, para elit akademis, politis dan budaya mulai tertarik pada Marx, biarpun lebih sedikit mereka yang ada di Jerman. Melalui inisiatif para penerbit dan akademisi terkemuka, Biblioteca dell’Economista yang sangat prestisius – yang mana telah Marx konsultasikan beberapa kali pada penelitiannya di British Museum – terbitlah volume pertama Capital secara berseri antara 1882 dan 1884, dan kemudian satu volume sendiri pada 1886. Satu indikasi kekosongan gerakan sosialis Italia,  bahwa inisiatif dari Biblioteca dell’Economista ini – satu-satunya karya terjemahan setelah Perang Dunia Kedua – diketahui oleh Marx hanya dua bulan sebelum ia meninggal – dan oleh Engels pada tahun 1893!

Dari berbagai keterbatasan seperti yang telah diutarakan di atas, “Marxisme” memang mulai menyebar selama periode ini. Namun, karena sedikitnya terjemahan Marx dan sulitnya melacak kembali terjemahan ini, penyebarannya hampir tak pernah bersinggungan langsung dengan sumber-sumber aslinya, selain melalui referensi-referensi tak langsung, kutipan-kutipan dari tangan kedua, atau ringkasan-ringkasan yang secara ceroboh disusun dan diterbitkan oleh para pengikut kelas dua atau yang seolah-olah seperti penerusnya.[16]

Penyerapan budaya yang sesungguhnya berkembang selama tahun-tahun ini, melibatkan tak hanya konsepsi sosialisme yang beragam hadir di Italia namun juga ideologi-ideologi yang tak punya hubungan sama sekali dengan sosialisme. Para peneliti, penghasut politik dan jurnalis menciptakan campuran mereka sendiri dengan menyilangkan sosialisme dengan seluruh ragam ide-ide teoritis untuk mereka pergunakan sendiri.[17] Dan jika ‘Marxisme’ secara cepat menegaskan dirinya sendiri di atas doktrin-doktrin yang lain, sebagiannya disebabkan karena kurangnya sosialisme Italia yang asli, dan hasil dari homogenisasi budaya ini adalah lahirnya Marxisme yang cacat dan miskin. Sebuah Marxisme tempelan. Sebuah Marxisme tanpa Marx, mengingat kaum sosialis Italia yang telah membaca teks asli bisa dihitung dengan jari dari satu tangan saja.[18]

Biarpun mendasar dan tak murni, determinis, dan terikat secara fungsional pada situasi politik masa itu, “Marxisme” jenis ini masih tetap dapat memberikan sebuah identitas pada gerakan buruh, menyatakan dirinya sendiri dalam Partito dei Lavoratori Italiani (Partai Pekerja Italia) yang didirikan tahun 1892, dan kemudian membangun sebuah hegemoni di dalam budaya dan pengetahuan Italia.

Sementara pada Manifesto Partai Komunis, masih tak ada jejak terhadapnya sampai dengan akhir 1880an. Meski demikian, bersama dengan penafsir utama Manifesto, Antonio Labriola, hal ini telah memainkan peranan penting dalam mengakhiri pemalsuan Marxisme yang telah mencirikan situasi di Italia. Sebelum menuju ke sana, ada baiknya kita mundur sejenak.

Edisi Pertama Manifesto di Italia

Kata pengantar asli pada Manifesto Partai Komunis di tahun 1848 mengatakan bahwa manifesto tersebut akan diterbitkan ke dalam bahasa “Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda dan Denmark.”[19] Kenyataannya, ambisi yang ingin dicapai itu tak terpenuhi. Atau, dalam bahasa yang lebih tepat, Manifesto menjadi satu dari sekian teks yang paling luas tersebar dalam sejarah kemanusiaan, namun tak sesuai dengan rencana kedua penulisnya.

Percobaan pertama untuk “menerjemahkan Manifesto dalam bahasa Italia dan Spanyol” dikerjakan di Paris oleh Hermann Ewerbeck, seorang anggota terkemuka dari Liga Komunis di ibukota Prancis.[20] Namun begitu, biarpun ada kekeliruan referensi pada karya Marx  beberapa tahun setelahnya di Herr Vogt edisi Italia, proyek ini tak pernah terwujud.[21] Satu-satunya terjemahan yang terencana, yang akhirnya bisa diselesaikan adalah versi bahasa Inggris di tahun 1850, yang sebelumnya telah didahului dengan versi Swedia pada 1848. Selanjutnya, mengikuti dampak kekalahan revolusi pada 1848-1849, Manifesto tenggelam dan terlupakan. Edisi terbaru hanyalah dalam bahasa Jerman (dua di tahun 1850an dan tiga di tahun 1860an), dan setelahnya harus menunggu 20 tahun untuk munculnya sebuah terjemahan baru. Versi Rusia muncul ke dalam cetakan pada 1869 dan Serbia pada 1871, sementara edisi Amerika muncul di New York pada 1871 dan terjemahan Prancis muncul pertama kali pada 1872 bersamaan dengan terjemahan pertama bahasa Spanyol. Edisi Portugis menyusul tahun berikutnya.[22]

Pada masa ini, Manifesto masih belum dikenal di Italia. Paparan singkat pertama, terdiri atas ringkasan dan kutipan, pertama kali muncul pada 1875, dalam karya Vito Cusumano Le scuole economiche della Germania in rapporto alla questione sociale [Pelajaran Ekonomi Jerman dengan mempertimbangkan Pertanyaan Sosial]. Di sini kita baca bahwa, “dari sudut pandang kaum proletar, program ini sama pentingnya dengan Declaration des droits des homme untuk kaum borjuis: ini adalah satu dari sekian kejadian paling penting dari abad kesembilan belas, satu dari mereka yang mencirikan sebuah kurun waktu, memberikannya nama dan arah.”[23] Ada beberapa referensi pada Manifesto di tahun-tahun berikutnya – meskipun pada 1883 ini dikutip dalam beberapa artikel yang melaporkan kematian Marx. Lembaran informasi kaum sosialis La Plebe menyebutnya sebagai ‘dokumen fundamental dari sosialisme kontemporer… sebuah simbol dari mayoritas kaum proletar sosialis di Barat dan Utara Amerika’[24] Harian milik kaum borjuis Gazetta Piemontese, dalam satu bagiannya, mengetengahkan Marx sebagai penulis ‘Manifesto Komunis yang terkenal, yang menjadi bendera bagi sosialisme militan, kitab tanya jawab yang diperebutkan, wahyu di mana para pekerja Jerman dan mayoritas pekerja Inggris memberikan suaranya, bersumpah, dan berjuang.’[25] Meski sedemikian apresiasi yang diberikan, tetaplah penting untuk menunggu edisi Italia-nya.

Pada tahun 1885, setelah menerima salinan Manifesto dari Engels, Martignetti menyelesaikan terjemahannya- tetapi karena kekurangan uang terjemahan ini urung diterbitkan. Terjemahan pertama akhirnya muncul, 40 tahun kemudian pada 1889, yang mana pada saat itu sudah ada 21 edisi Jerman, 12 edisi Rusia, 11 edisi Prancis, delapan edisi Inggris, empat edisi Spanyol, tiga edisi Denmark (yang pertama di tahun 1884), dua dalam versi Swedia, dan satu edisi masing-masing untuk versi Portugis, Czech (1882), Polandia (1883), Norwegia (1886) dan Yahudi (1889). Teks Italia dicetak dengan judul Manifesto dei socialisti redatto da Marx e Engels [Manifesto kaum Sosialis, Ditulis oleh Marx dan Engels], dalam sepuluh seri antara Agustus dan November di naskah demokratik Cremona, L’Eco del popolo. Tetapi kualitas dari versi ini amatlah buruk; kata pengantar dari Marx dan Engels hilang, begitu juga dengan bagian ketiga (‘Pustaka Sosialis dan Komunis’), dan beberapa bagian lain yang kalau tidak dihilangkan, hadir dalam bentuk ringkasan. Terjemahan Leonida Bissolati, yang menggunakan edisi Jerman tahun 1883 namun juga mengambil versi Prancis terjemahan Laura Lafargue, menyederhanakan pernyataan-pernyataan yang paling kompleks. Secara umum, terjemahan yang dilakukan ini bukanlah sebuah terjemahan melainkan popularisasi teks, dengan hanya beberapa bagian yang benar-benar diterjemahkan ke dalam bahasa Italia.[26]

Edisi kedua Italia, dan yang pertama muncul dalam bentuk brosur, muncull pada tahun 1891. Terjemahannya (berdasarkan versi Prancis dari Le Socialiste yang diterbitkan di Paris pada tahun 1885) dan kata pengantarnya ditulis oleh seorang anarkis, Pietro Gori. Namun teksnya tak memiliki pembukaan dengan banyak kesalahan yang fatal. Penerbitnya, Flaminio Fantuzzi, yang juga dekat dengan posisi anarkis, menampilkan Engels secara fait accompli, dan Engels, dalam suratnya untuk Martignetti, menyatakan rasa terganggunya pada ‘kata-kata pembukaan oleh karakter tak jelas dari sosok bernama Gori.’[27]

Terjemahan Italia ketiga keluar pada 1892, sebagai pelengkap majalah Milan Lotta di classe. Menyebut diri sendiri sebagai ‘yang pertama dan satu-satunya terjemahan Manifesto yang bukan berupa pengkhianatan,’[28] terjemahan ini berdasarkan pada edisi Jerman-nya Pompeo Bettini pada tahun 1883. Toh demikian, terjemahan ini tak bebas dari kesalahan dan penyederhanaan beberapa bagian, namun ia lebih bagus dari versi yang lain dan diterbitkan beberapa kali selama beberapa tahun hingga 1926; ia kemudian memulai proses pembentukan istilah Marxist di Italia. Pada tahun 1893, terjemahan ini muncul sebagai brosur dalam bentuk ribuan salinan, dengan beberapa koreksi dan pengembangan gaya, juga satu indikasi bahwa ‘versi lengkap [telah] dibuat atas dasar edisi kelima Jerman (Berlin 1891).’[29] Pada 1896, terjemahan ini dicetak kembali sebanyak 2000 kopi. Teksnya berisi kata pengantar dari tahun 1872, 1883, dan 1890 yang diterjemahkan oleh Filippo Turati, direktur Critica Sociale (saat itu adalah jurnal utama sosialisme Italia), juga berisi ‘Kepada para pembaca Italia’ yang ia dapatkan dari Engels, sehingga bisa dibedakan dari versi-versi sebelumnya. Kata pengantar versi Italia ini adalah yang terakhir yang ditulis oleh salah satu dari dua penulis Manifesto.

Dua edisi lebih jauh muncul tahun-tahun berikutnya, jelas-jelas didasari dari versi Bettini, meski tak menyebutkan penerjemahnya. Yang pertama, yang tak punya kata pengantar dan bagian ketiga, didisain untuk membuat Manifesto tersedia dalam bentuk populer yang murah. Ia muncul dalam Diano Marina (in Liguria) sebanyak 8000 kopi yang dipromosikan oleh jurnal Era Nuova pada 1 Mei 1897. Yang kedua, murni menanggalkan kata pengantarnya, terbit di Florence pada 1901 di perusahaan percetakan Nerbini.

Manifesto Antara akhir Abad ke 19 dan Periode Fasis

Pada tahun 1890, penyebaran tulisan-tulisan Marx dan Engels mengalami kemajuan  yang cukup besar. Bergabungnya struktur-struktur editorial yang kemudian menjadi Partito Socialista Italiano (Partai Sosialis Italia), bersama dengan karya berbagai jurnal dan penerbitan kecil serta kerjasama Engels dengan Critica Sociale, adalah kondisi-kondisi yang membuat tulisan-tulisan Karl Marx menjadi semakin diketahui banyak kalangan. Namun, kondisi ini tidaklah cukup untuk menghentikan proses distorsi yang telah berjalan. Percobaan untuk mengombinasikan ide-ide Marx dengan teori-teori yang sangat berbeda, sudah terlanjur jamak terjadi baik di kalangan ‘sosialis akademik’ (Kathedersozialismus) dan gerakan buruh, yang kontribusi-kontribusi teoritisnya, yang kini telah menjadi dimensi yang signifikan, tetap ditandai dengan pengenalan teks Marx yang tidak menyeluruh.

Reputasi Marx berada jauh dari sekedar perselisihan, namun ia masih tetap tak dianggap sebagai Dia yang Paling Pertama Dari Angkatannya (primus inter pares) di antara massa kaum sosialis saat itu. Di atas segalanya, Marx tak memiliki penafsir yang sempurna yang bisa mendedah seluruh pemikirannya. Para penafsirnya adalah penafsir yang sangat buruk. Salah satu contoh baik dalam soal ini adalah Achille Loria, ‘ekonom Italia yang paling sosialis, paling Marxist’[30] yang mengoreksi dan menyempurnakan seorang Marx, yang tak seorang pun cukup familiar dengannya, untuk kemudian mengoreksi dan menyempurnakannya dengan cara Loria. Loria, yang dikenal dari penggambaran Engels tentangnya dalam kata pengantar Volume Ketiga Capital – ‘kelancangan yang tak ada batasnya, dipadu dengan bakat selicin belut untuk meloloskan diri dari situasi-situasi yang mustahil; penghinaan heroik untuk tendangan-tendangan yang diterima, pemberian nilai yang ceroboh dan terburu-buru atas pencapaian-pencapaian orang lain.’[31]

Cerita anekdotal dari Filsuf Benedetto Croce tentang Loria pada 1896, memberi gambaran yang cukup bagus atas pemalsuan yang diderita Marx. Pada 1867, di Naples, pada acara pendirian pertama bagian Italia dari Internasional, sesosok individu asing, ‘sangat tinggi, sangat pirang, dengan gaya tua seorang konspirator dengan cara bicara yang misterius’, campur tangan untuk meyakinkan lahirnya sebuah kelompok. Beberapa tahun setelahnya, seorang pengacara Neapolitan (orang yang berasal dari Naples, Italia-red),  yang pada saat acara berlangsung ikut hadir, merasa yakin bahwa ‘sosok tinggi pirang itu adalah Karl Marx,’[32] dan butuh waktu yang cukup lama dan usaha yang besar untuk meyakinkannya bahwa sosok itu bukanlah Karl Marx. Begitu banyaknya konsep-konsep Marx yang diperkenalkan ke Italia oleh ‘Loria yang Agung,’[33] dapat disimpulkan bahwa dia yang pertama dikenal sebagai Marx yang menyimpang, adalah seorang Marx yang juga ‘tinggi dan pirang’![34]

Hal ihwal penyimpangan ini berubah hanya melalui karya Antonio Labriola, yang pertama kali mengenalkan pemikiran Marx dengan sungguh-sungguh di Italia. Ia  tak sekedar menafsirkan, memperbarui, atau ‘menyempurnakan‘nya melalui penulis-penulis lain.[35] Teks kunci di sini adalah Saggi sulla concezione materialistica della storia [Esai-esai tentang Konsepsi Materialis Sejarah], diterbitkan Labriola antara 1895 dan 1897, yang mana pertama, ‘In memoria del Manifesto dei comunisti’, difokuskan dengan tepat pada asal mula dari Manifesto. Persetujuan Engels kepada karyanya, beberapa saat sebelum Engels meninggal,[36] menunjukkan karya Labriola ini merupakan sebuah tafsir resmi dan komentar paling penting dari sisi ‘Marxist’.

Banyak dari keterbatasan Italia yang bisa dikonfrontasikan dengan cara ini (karya Labriola). Menurut Labriola, revolusi ‘tak bisa dimulai dari sebuah kebangkitan dari massa yang dipimpin oleh segelintir orang, namun ia harus, dan akan menjadi, kerja dari kaum proletar itu sendiri.’[37] ‘Komunisme kritis’ – yang, bagi para filsuf Neapolitan, adalah istilah paling baik untuk menggambarkan teori-teori Marx dan Engels- ‘tidak menghasilkan revolusi, tidak menyiapkan pemberontakan demi pemberontakan, tidak melengkapi senjata untuk bergerak memberontak, … pendeknya ini bukanlah sesuatu yang ditanamkan atau dikembangkan yang mana mereka yang unggul dari kaum revolusi proletar digembleng dan dilatih, melainkan sebuah kesadaran atas revolusi itu sendiri.’[38] Manifesto, kemudian, bukanlah sebuah ‘buku petunjuk revolusi kaum proletar’[39] melainkan sebuah alat untuk menunjukkan anggapan naif sosialisme yang berpikir dirinya sendiri mungkin ‘tanpa revolusi, yaitu tanpa perubahan mendasar di dalam struktur masyarakat elementer yang umum.’[40]

Dalam karya Labriola, gerakan buruh Italia akhirnya memiliki ahli teori yang mampu memberikan, dalam satu kali dan saat yang bersamaan, kehormatan ilmiah pada sosialisme, menembus dan menghidupkan kembali budaya nasional, dan berkompetisi pada tingkatan yang sama dengan para pemikir besar  Eropa dan Marxisme. Meski demikian, ketelitian pada ke-Marxisme-annya, bermasalah dengan kondisi politik yang langsung dihadapi dan kompromi-kompromi teoritik yang kritis juga memberikan karya Labriola ini sebuah karakter yang tak aktual.

Pada puncak dua abad, publikasi La filosofia di Marx karya Giovanne Gentile (sebuah buku yang Lenin nantinya sebut sebagai ‘pantas mendapatkan perhatian’),[41] tulisan-tulisan Croce yang mengumumkan ‘matinya sosialisme’[42] dan teks-teks politik militan dari Francesco Saverio Merlino dan Antonio Graziadei, menyebabkan hembusan ‘krisis Marxisme’ mulai bertiup di Italia. Namun demikian, tak seperti di Jerman, tidak ada aliran Marxist ortodoks di Partai Sosialis Italia: pertarungan diperjuangkan oleh dua ‘revisionisme’, satu reformis, dan lainnya sindikalis-revolusioner.[43]

Pada periode yang sama, dari 1899 hingga 1902, sebuah letupan terjemahan-terjemahan baru memberikan pembaca Italia akses kepada banyak karya-karya Marx dan Engels yang pada saat itu tersedia. Ini adalah konteks di mana sebuah terjemahan baru atas Manifesto muncul sebagai lampiran edisi ketiga karya Labriola, ‘In memoria del Manifesto dei comunisti’; ini menjadi versi terakhir di Italia hingga akhir Perang Dunia Kedua. Beberapa dilengkapi oleh Labriola sendiri dan lainnya oleh istrinya, Rosalia Carolina De Sprenger, versi menunjukkan beberapa kesalahan dan penghilangan dari edisi lainnya. Edisi ini juga tidak dipakai di banyak teks edisi lain.

Versi Bettini yang kemudian paling sering dipakai hingga akhir tahun 1940an. Versi ini dicetak ulang beberapa kali dari tahun 1910, banyak edisinya berada di bawah pertanda baik dari ‘Societa editrice Avanti,’ alat utama propaganda Partai Sosialis; terutama patut dicatat adalah dua yang muncul pada 1914, yang kedua yang juga berisi Pondasi Komunisme oleh Engels. Antara 1914 dan 1916 (lalu kemudian pada 1921 – 1922) versi ini masuk ke volume pertama Opere [Kerja-Kerja] oleh Marx dan Engels – sebuah koleksi yang menegaskan banyaknya kebingungan yang terjadi pada waktu itu, serta memasukkan serangkaian tulisan berbahasa Jerman oleh Lassalle. Diikuti kemudian satu edisi di tahun 1917, dua edisi di tahun 1918 dengan lampiran berisi 14 poin dari Konferensi Kienthal dan Manifesto dari Konferensi Zimmerwald. Lainnya muncul pada tahun 1920 (dicetak dua kali di 1922) dalam bentuk terjemahan revisi oleh Gustavo Sacerdote, dan edisi final pada tahun 1925. Sebagai tambahan dari edisi Avanti ini, tujuh cetak ulang dikeluarkan antara tahun 1920 dan 1926 oleh rumah-rumah penerbitan kecil.

Pada dekade pertama abad ke 20, Marxisme dihapuskan dari praktek sehari-hari Partai Sosialis Italia. Dalam sebuah debat parlementer yang terkenal di tahun 1911, Perdana Menteri Giovanni Giolitti menyatakan: ‘Partai Sosialis telah cukup banyak melunakkan program-programnya. Karl Marx telah disimpan di loteng.’[44] Ulasan mengenai tulisan-tulisan Marx, yang beberapa saat sebelumnya membanjiri pasar buku, lalu mengering dan berhenti. Dan, terlepas dari ‘kembali ke Marx’ pada studi filosofis Rodolfo Mondolfo dan beberapa pengecualian lain, trend yang sama berlanjut pada tahun 1910an. Di daerah yang lain, kaum borjuis merayakan ‘penghancuran Marxisme,’ sementara kutukan-kutukan gereja Katolik yang penuh prasangka telah lama mendominasi dibandingkan percobaan-percobaan untuk menganalisa.

Pada tahun 1922, kebiadaban kaum fasis mulai meledak, dan tahun-tahun setelahnya, semua salinan Manifesto dibuang dari perpustakaan-perpustakaan publik dan universitas. Pada 1924 semua publikasi Marx dan segala yang berkaitan dengan gerakan buruh ditaruh dan dimasukkan dalam daftar hitam. Akhirnya, hukum ‘ultra fasis’ pada 1926 memutuskan pembubaran partai-partai oposisi dan meresmikan periode paling tragis dari sejarah modern Italia.

Terlepas dari beberapa edisi-edisi yang diketik dan diduplikasi secara ilegal, beberapa tulisan Marx yang diterbitkan di Italia antara 1926 dan 1943 muncul di luar negeri; di antaranya adalah dua versi Manifesto dalam bahasa Prancis, di tahun 1931 dan 1939, dan lainnya di Moskow pada tahun 1944, dalam sebuah terjemahan baru oleh Palmiro Togliatti. Namun, tiga edisi berbeda dari Manifesto Partai Komunis adalah pengecualian pada konspirasi hening. Dua dari tiga edisi ini, ‘untuk manfaat akademis’ yang sudah diminta terlebih dahulu, keluar pada tahun 1934: yang pertama pada sebuah volume Politica ed economia yang disunting oleh Roberto Michels (yang secara pribadi merevisi terjemahan Bettini)[45] yang juga berisi teks dari Labriola, Loria, Pareto, Weber dan Simmel; yang kedua di Florence, dalam versi Labriola, dalam kerja kolektif lain, Le carte dei diritti, volume pertama dari serial ‘Sosialisme dan Liberalisme Klasik.’ Yang ketiga muncul tahun 1938, lagi dalam versi Labriola, namun kali ini disunting oleh Croce, sebagai lampiran pada esai Labriola tentang Sejarah Konsepsi Materialis. Volume ini juga berisi esai terkenal Croce dengan judul yang sangat eksplisit: Bagaimana Marxisme Teoritis Lahir dan Mati di Italia (1895- 1900). Namun filsuf idealis ini keliru. ‘Marxisme’ Italia tidak mati, melainkan dibatasi pada karya Antonio Gramsci Prison Notebooks, yang tak lama kemudian menunjukkan semua nilai politis dan teoritisnya.

Pembebasan dari fasisme berdampak pada beragam edisi baru pada Manifesto. Organisasi-organisasi daerah dari Partai Komunis Italia, telah menyelenggarakan rumah-rumah penerbitan individu yang kecil di wilayah-wilayah yang dibebaskan di bagian selatan Italia. Usaha penerbitan ini memberikan hidup yang baru atas teks-teks Marx dan Engels, mengeluarkan tiga edisi pada tahun 1943 dan delapan edisi di 1944. Fenomena ini terus berlanjut hingga beberapa tahun setelahnya, dari tahun 1945 di akhir peperangan hingga tour de force atau pencapaian yang dahsyat tahun 1948, di perayaan kelahirannya yang ke seratus.

Kesimpulan

Tinjauan sejarah ini secara jelas menunjukkan, betapa Italia tertinggal jauh dalam menerbitkan Manifesto Komunis. Sementara, di berbagai negara Manifesto Komunis ini adalah karya pertama Marx dan Engels yang keluar sebagai terjemahan, di Italia teks ini muncul hanya setelah serangkaian karya tulis yang lain.[46] Akibatnya, pengaruh politik Manifesto menjadi terbatas dan tidak pernah secara langsung membentuk dokumen besar dari gerakan buruh; pun tidak cukup jelas dalam membentuk kesadaran politik para pemimpin sosialisnya. Meski demikian, ia amat sangat penting bagi para akademisi (seperti yang telah tergambarkan dalam kasus Labriola), dan melalui berbagai edisi, ia hadir dan memainkan peranan penting di antara barisan dan bundelan berkas dan akhirnya menjadi referensi teoritis terdepan.

Seratus enam puluh tahun setelah publikasi pertamanya, dipelajari oleh para penafsir, penentang, dan pengikutnya yang tak terhitung banyaknya, Manifesto telah melewati berbagai fase yang berbeda-beda dan telah dibaca dengan cara yang paling bervariasi: sebagai tombak ‘sosialisme ilmiah’, atau karya jiplakan dari Manifeste de la democratie karya Victor Considerant; sebuah teks penghasut yang bertanggung jawab atas bangkitnya kebencian kelas di dunia atau sebuah simbol pembebasan untuk gerakan buruh internasional; sebagai karya klasik dari masa lalu atau sebuah karya yang dengan jelas memprediksi kenyataan yang terjadi hari ini, yaitu ‘globalisasi kapitalis.’ Apapun tafsiran dari masing-masing mereka pihak, satu hal yang pasti: sangat sedikit karya-karya tulis lain dalam sejarah yang bisa menghadirkan klaim pada vitalitas yang begitu hidup dan penyebaran yang begitu luas. Dan Manifesto terus dicetak dan dibicarakan, di Amerika Latin dan Jepang, di Amerika Serikat dan seluruh Eropa.

Jika keremajaan abadi dari sebuah teks ditandai dengan berisinya teks itu dengan pengetahuan tentang bagaimana tumbuh dan menjadi tua, atau selalu bisa merangsang pertumbuhan ide-ide yang baru, maka Manifesto adalah yang paling memiliki nilai-nilai ini.***

Artikel ini untuk pertama kali muncul di jurnal Critique, Vol. 36, No. 3, Desember 2008, pp. 445-456. Dimuat ulang di sini atas ijin Profesor Musto untuk tujuan Pendidikan.

Marcello Musto
Profesor Ilmu Politik di York University of Toronto, Kanada


[1] Lihat Marcello Musto, ‘The Rediscovery of Karl Marx’, International Review of Social History, 52:3 (2007), pp. 477-498.

[2] Jacques Derrida, Specters of Marx (London: Routledge, 1994), p.13.

[3] John Cassidy, ‘The Return of Karl Marx’, The New Yorker, 20-27 October 1997, pp. 248-259.

[4] Le Nouvel Observateur, October/November 2003.

[5] Der Spiegel, 22 August 2005.

[6] Lihat, khususnya, Eric Hobsbawm, ‘Introduction to Karl Marx and Friedrich Engels, The Communist Manifesto (London: Verso, 1998).

[7] Carlo Marx capo supremo dell’Internazionale’, Il proletario Italiano (Turin), 27 July 1871.

[8] Lihat Roberto Michels, Storia del marxismo in Italia (Rome: Luigi Mongini Editore, 1909), p.15, yang menitikberatkan bahwa ‘awalnya adalah Marx yang politis yang pelan-pelan mendorong orang Italia untuk menyibukkan diri mereka dengan Marx yang ilmiah juga’.

[9] ‘Carlo Marx capo supremo dell’Internazionale’, op.cit.

[10] Cf. Renato Zangheri, Storia del socialismo italiano, vol.1 (Turin: Einaudi, 1993), p.338.

[11] Satu contohnya adalah buku petunjuk oleh Oddino Morgari, L’arte della propaganda socialista, 2nd ed. (Florence: Libr. Editr. Luigi Contigli, 1908), p. 15. Buku ini menyarankan agar partai propagandis sebaiknya memakai metode instruksi yang mana pertama membaca sebuah ringkasan Darwin dan Spencer dan memberikan siswa sebuah ide umum tentang pemikiran modern, dan Marx kemudian bergabung pada ‘tiga sekawan agung’ yang dengan pantas menyempurnakan ‘wahyu dari sosialis kontemporer’. Lihat Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 102.

[12] Lihat buku yang dibaca secara luas oleh Enrico Ferri, Socialism and Positive Science (Darwin – Spencer – Marx) (London: Independent Labour Party, 1905 [1894]). Dalam kata pengantarnya, pengarangnya menulis: ‘Saya bertujuan membuktikan bagaimana sosialisme Marxist…. adalah tak lebih dari sekedar penyempurnaan praktis yang bermanfaat, dalam kehidupan sosial, dari sebuah revolusi ilmiah modern….  dibawa dan diberikan bentuk yang terarah oleh Charles Darwin dan Herbert Spencer’ (p. xi; terjemahan yang digubah).

[13] Lihat, sebagai contoh, surat dari Asosiasi Demokratik Macerata pada Marx, 22 Desember 1871. Organisasi ini mengusulkan Marx sebagai ‘tiga yang terhormat bersama dengan Warga Giuseppe Garibaldi dan Giuseppe Mazzini’: dalam Giuseppe del Bo (ed.), La corrispondenza di Marx e Engels con italiani. 1848-1895 (Milan: Feltrinelli, 1964), p. 166. Dalam laporannya pada Wilhelm Liebknecht pada 2 Januari 1872, Engels menulis: ‘Sebuah masyarakat di Macerata, di Romagna, telah menominasikan tiga presiden kehormatannya: Garibaldi, Marx dan Mazzzini. Hanya nama Bakunin yang dibutuhkan untuk membuat kekacauan ini menjadi lengkap.’ Marx Engels Collected Works [selanjutnya disingkat MECW], vol. 44 (London: Lawrence & Wishart, 1989), p. 289; Marx-Engels Werke [selanjutnya MEW], vol. 33 (Berlin: Dietz Verlag, 1966), p. 368.

[14] Lihat Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 101, yang menyatakan bahwa ‘dalam pandangan banyak orang Schaffle dihitung sebagai yang paling sungguh-sungguh dari semua Marxist’.

[15] Cf. Paolo Favilli, Storia del marxismo italiano. Dalle origini alla grande guerra (Milan: FrancoAngeli, 2000 [1996]), p. 50.

[16] Cf. Roberto Michels, Storia critica del movimento socialista italiano. Dagli inizi fino al 1911, (Florence: La voce, 1926), p. 135, yang menegaskan bahwa dalam Marxisme Italia, ‘dalam kasus atas hampir semua pengikutnya, tersebar bukan atas pengetahuan yang dalam dari karya-karya ilmiah yang unggul tetapi dari kontak yang berserakan dengan beberapa dari tulisan minor politisnya dan beberapa ringkasan ilmu ekonomi, seringnya – yang mana adalah hal terburuk – melalui karya imitasi dari Demokrasi Sosial Jerman’.

[17] Cf. Antonio Labriola, Socialism and Philosophy (St. Louis: Telos Press, 1980), p. 120: ‘Di Italia banyak dari mereka yang menganut sosialisme dan bukan semata-mata penghasut, pengajar, atau para ahli, merasakan bahwa adalah tidak mungkin untuk menerimanya sebagai keyakinan ilmiah, kecuali jika dipadukan dengan konsepsi genetik dari hal-hal lainnya, yang tergambar kurang lebih pada setiap dasar dari semua ilmu pengetahuan lain. Ini menjelaskan kegilaan dari banyak orang yang membawa ke dalam cakupan sosialisme semua ilmu pengetahuan yang lain yang mereka inginkan.’

[18] Cf. Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 99.

[19] Friedrich Engels dan Karl Marx, Manifesto of the Communist Party, MECW 6 (London: Lawrence & Wishart, 1976), p. 481; MEW 4, p. 461.

[20] Lihat, Friedrich Engels to Karl Marx, 25 April 1848, MECW 38 (London: Lawrence & Wishart, p. 1982), p. 173; Marx-Engels[-Gesamtansgabe [selanjutnya disingkat MEGA] III/2, p.153.

[21] Lihat Karl Marx, Herr Vogt, MECW 17 (London: Lawrence & Wishart, 1981), p. 80; MEGA I/18, p. 107.

[22] Pada bibliografi dan sejarah penerbitan Manifesto of the Communist Party, lihat Bert Andreas yang sangat diperlukan, Le Manifeste Communiste de Marx et Engels (Milan: Feltrinelli, 1963).

[23] Vito Cusumano, Le scuole economiche della Germania in rapporto alla questione sociale (Prato: Giuseppe Marghieri Editore, 1875), p. 278.

[24] La Plebe (Milan), April 1883, No. 4.

[25] Dall’Enza, ‘Carlo Marx e il socialismo scientifico e razionale’, Gazzetta Piemontese (Turin), 22 Maret 1883.

[26] Cf. Andreas, op. cit., p. 145.

[27] Friedrich Engels kepada Pasquale Martignetti, 2 April 1891, dalam MEW 38, p. 72.

[28] Lotta di classe (Milan), I:8, 17-18 September 1892.

[29] Carlo Marx and Friedrich Engels, Il Manifesto del Partito Comunista (Milan: Uffici della Critica Sociale, 1893), p. 2.

[30] Filippo Turati kepada Achille Loria, 26 Desember 1890, dalam ‘Appendice’ kepada Paolo Favilli, Il socialismo italiano e la teoria economica di Marx (1892 – 1902) (Naples: Bibliopolis, 1980), pp. 181-182.

[31] Friedrich Engels, ‘Preface’ to Karl Marx, Capital Volume 3 (London: Penguin/NLR, 1981), p. 109.

[32] Benedetto Croce, Materialismo storico ed economia marxistica (Naples: Bibliopolis, 2001), p. 65.

[33] Friedrich Engels, ‘Preface’ to Karl Marx, op. cit., p. 109.

[34] Croce, Materialismo storico ed economia marxistica, op. cit., p. 65.

[35] Lihat ‘Antonio Labriola a Benedetto Croce, 25-V-1895’, dalam Croce, Materialismo storico ed economia marxistica, op. cit., p. 269.

[36] ‘Semua sangat bagus, hanya sedikit kesalahan faktual dan, di bagian awal, gayanya masih sekilas terlalu terpelajar. Aku sangat ingin tahu bagaimana sisanya.’ Friedrich Engels kepada Antonio Labriola, 8 Juli 1895, MEW 39 (Berlin: Dietz Verlag, 1968), p. 498.

[37] Antonio Labriola, ‘In Memory of the Communist Manifesto’, in idem, Essays on the Materialistic Conception of History (New York: Monthly Review Press, 1966 [1903]), p. 59. Terjemahan digubah.

[38] Ibid., p. 53.

[39] Ibid., p. 40.

[40] Ibid., p. 84.

[41] Vladimir Ilyich Lenin, ‘Karl Marx: A Brief Biographical Sketch with an Exposition of Marxism- Bibliography’, Collected Works, Vol. 21 (MoscowL Progress Publishers, 1980), p. 88.

[42] Dalam kaitannya dengan hal ini, lihat esai Croce Come nacque e come mori il marxismo teorico in Italia (1895-1900), dalam Materialismo storico ed economia marxistica, op. cit., pp. 265-305.

[43] Cf. Michels, Storia del marxismo in Italia, op. cit., p. 120.

[44] Frasa ini diucapkan oleh Giolitti di parlemen, pada 8 April 1911.

[45] Perubahan pada versi Bettini yang ada pada edisi baru ini menandai sebuah percobaan yang nyata untuk mendistorsi dan menekan bagian-bagian tertentu pada teks, sehingga menjadi kurang bersifat mengancam dan senada dengan ideologi fasis.

[46] Kronologi penerbitan dalam bahasa Italia dari karya-karya utama Marx dan Engels sampai dengan Manifesto Partai Komunis adalah sebagai berikut: 1871, Karl Marx, La guerra civile in Francia [The Civil War in France]; 1873, Friedrich Engels, Dell’autorita [On Authority]; 1873, Karl Marx, Dell’indifferenza in materia politica [On Political Indifferentism]; 1879, Carlo Cafiero Il capitale di Carlo Marx brevemente compendiato da Carlo Cafiero [Karl Marx’s Capital abridged by Carlo Cafiero]; 1882 – 1884, Karl Marx Il capitale; 1883, Friedrich Engels, L’origine della famiglia, della proprieta privata e dello Stato [Origins of the Family, Private Property and the State]; 1889, Karl Marx/Friedrich Engels, Manifesto del partito comunista (terjemahan Bissolati); 1891, Karl Marx and Friedrich Engels, Manifesto del partito comunista (terjemahan Gori); 1892, Karl Marx and Friedrich Engels, Manifesto del partito comunista (terjemahan Bettini).


comments powered by Disqus