Teka-teki Das Adam Smith Problem

Print Friendly, PDF & Email

Pemecahan Melalui Pendekatan Historis terhadap The Theory of Moral Sentiments dan The Wealth of Nations

Pendahuluan

DAS ADAM SMITH PROBLEM atau The Adam Smith Problem (ASP), adalah permasalahan lama yang selalu aktual untuk dikaji dan diperdebatkan di kalangan ahli tentang Adam Smith. Inti permasalahannya, bagaimana mendamaikan dua konsepsi antropologis yang sedemikian berbeda dalam dua karya pokok Adam Smith, yaitu gagasan manusia yang self-interested dalam The Wealth of Nations (TWN) dan manusia yang didasarkan pada simpati dalam karyanya The Theory of Moral Sentiments (TMS).

Perbedaan asumsi antropologis ini seolah membelah pendekatan dan para ahli tentang Smith: di satu sisi memandang gambaran manusia yang ditopang self-interest dalam TWN adalah cermin dari diskontinuitas gagasan utama Smith sebagaimana disitir George Stigler (Mehta:2006, 246), atau dengan kata lain, ada dua gambaran tentang manusia; dan di sisi lain, melihat tidak ada permasalahan nyata dalam karya Smith baik TWN maupun TMS, karena yang ada bukanlah masalah melainkan pseudo-problem atau masalah semu yang timbul akibat kesalahan pembacaan pada karya Smith. Secara tekstual dapat diberikan contoh bagaimana dua konsepsi tentang manusia itu tampil dalam karya Smith. Dalam TMS ( I.i.1 ):


“Betapa pun egoisnya seseorang, dapat diandaikan dan juga terbukti bahwa secara kodrati ia mengharapkan keberuntungan dan kebahagiaan bagi sesamanya, yang tidak dilandasi motif apa pun kecuali memang ia senang akan keadaan ini.”

Dan dalam TWN ( I.ii.2 ) ia mengatakan:

“Tetapi manusia hampir secara rutin membutuhkan bantuan sesamanya, dan adalah sebuah kesia-siaan berharapn pada kebaikan hatinya saja. Ia akan mendapatkan bantuan jika dapat masuk dalam kepentingan sesamanya, dan menunjukkan kepadanya bahwa ini untuk kepentingan mereka semata. Cara ini dapat dilakukan pada semua orang. Berikan padaku apa yang aku kehendaki dan kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan adalah arti dari tiap tawaran…. Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman atau tukang roti kita mendapatkan makan malam kita, melainkan dari penghargaan mereka atas kepentingan dirinya. Kita mengarahkan pada diri kita, bukan pada kemanusiaannya melainkan pada kepentingan dirinya, dan tak pernah mengatakan kepada mereka mengenai kebutuhan kita, tetapi berbicara soal kebutuhan-kebutuhan mereka.”

Dua kutipan di atas telah membingungkan para ahli tentang Smith dan menyulut perdebatan hangat hingga kini, karena seolah memunculkan dua konsepsi manusia, the social individuality (TMS) dan the egoistic-individual ( TWN, Göçmen:2007, 4). Atau dalam bahasa August Oncken, dapat diajukan pertanyaan demikian,

“… apakah dua prinsip yang bekerja pada Adam Smith, di Theory of Moral Sentiments(1759) di satu sisi, dan pada the Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations(1776) di sisi lain, keduanya tak terkait, kontradiktif satu sama lain secara mendasar, ataukah kita memandang yang terkhir sebagai kelanjutan dari yang pertama…dan keduanya menghadirkan serempak paparan filsafat manusia yang utuh?”

Paparan singkat ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Strategi yang diajukan adalah pembacaan terhadap teks Adam Smith dengan pendekatan historis (historical approach), bukan tekstual-analitik sebagaimana umum dipakai. Tesis yang diajukan: tidak ada dua konsepsi manusia dalam Adam Smith, melainkan satu konsepsi manusia dan dua model manusia yang seolah terpapar secara kontradiktoris dalam dua karya utama Smith. Kontradiksi ini dengan memahami Smith dalam aras pemikir yang ingin memikirkan apa yang mungkin atau seharusnya (ought to) dalam apa yang terjadi (what it is). Analisis akan disajikan dalam beberapa langkah (i) beberapa pendekatan terhadap Das Adam Smith Problem, (ii) Gagasan tentang self dan konsepsi manusia dalam TWN dan TMS, (iii) pendekatan historis terhadap Das Adam Smith Problem, dan (iv) catatan penutup.

Berbagai Pendekatan terhadap Das Adam Smith Problem

Das Adam Smith Problem muncul pertama kali dalam review oleh Johann Georg Heinrich Feder (1740-1821), terhadap edisi bahasa Jerman TWN yang diterjemahkan Johann Friedrich Schiller. Feder menulis (Montes: 2004, 20),

“secara keseluruhan Mr. Smith terlampau memercayai harmoni kepentingan – kepentingan individu sebagai produk alamiah dari tindakan bebasnya. Sebagian besar proposisinya tidak dapat diterima sebagai prinsip universal; ia hanya bisa diadaptasi untuk bidang industri, kesehatan, dan peradaban..”

Pandangan tentang Smith dan pemikirannya – khususnya tentang Das Adam Smith Problem – menguat di Jerman dan tumbuh dalam tradisi yang kemudian diberi nama German Historical Thought, dengan Thomas Buckle (1821–1862) sebagai pionirnya. Menurut Buckle, Adam Smith membangun konsepsi dualistik tentang manusia, di mana Buckle memberi alasan bahwa Smith menempuh itu untuk mendekati dua ranah yaitu ekonomi dan etika yang nyata-nyata berbeda dan membutuhkan pemisahan yang jelas. Gagasan Buckle kemudian secara lebih konseptual dan berpengaruh dikembangkan oleh Skarzynski (1850–1910). Implikasi dari pandangan Buckle dan Skarzynzki, Smith memiliki paham dualistik dalam memandang individu dan masyarakat. Atau dengan kata lain, jika kita berbicara tentang etika bacalah TMS dan jika kita sedang membahas ekonomi, mari kita simak TWN.

Pandangan berbeda kita temukan pada era 1970-an, ketika studi tentang Smith dan juga Das Adam Smith Problem (ASP ) tumbuh subur, ditandai dengan penulisan Glasgow Edition dari The Wealth of Nations. D.D. Raphale dan Alec Macfie, editor TMS edisi 1976, menghidupkan kembali diskursus tentang ASP. Alih-alih mengikuti Buckle dan Skarzynski, Raphael mengatakan bahwa ASP lahir dari kekeliruan memahami teks Smith dan pengabaian pada beberapa gagasan dasarnya. Raphael menyebutnya ‘pseudo-problem’ (Göçmen: 2007,11; Montes:2004,39). Ia mengatakan:

“Smith mengakui keberagaman motif, tidak hanya atas tindakan umum melainkan juga tindakan bajik. Motif-motif ini termasuk self-interest atau meminjam istilah abad ke-18 self-love. Apa yang ditulisnya di TWN bukanlah ‘selfishness’. Smith membedakan dua ekspresi, memakai ‘selfishness’ dalam makna peyoratif dalam arti self-love yang menciderai atau mengabaikan orang lain. Meskipun Smith kadangkala menyandingkan selfishness dengan ‘rapacity’, dia juga memasukkan – melawan Hutcheson – bahwa ‘penghargaan yang layak pada kepentingan dan kebahagiaan sendiri’ adalah sebuah keutamaan. Karenanya mustahil menerima pandangan bahwa ada substansi yang sungguh berbeda antara motif dalam TMS dan TWN.”

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Andrew Skinner (Montes: 2004,39 ). Bahkan Donald Winch dan Knud Haakonssen lebih jauh mengatakan bahwa ASP tidak ada (Göçmen: 2007,9). Tak tuntas juga, bahkan elaborasi ASP semakin kompleks.

Keseluruhan “pertikaian” gagasan mengenai ASP di atas dapat dikelompokkan dalam pendekatan textual-analytical. Ciri dari pendekatan ini adalah meyakini masalah berasal dari teks dan dapat dipecahkan hanya dengan menganalisis teks Smith itu sendiri. Pendekatan ini dapat dibagi tiga, pertama mereka yang menerima dua asumsi antropologis Smith yang kontradiktoris (umumnya disebut ‘French connection theory’), kedua mereka yang menerima dua asumsi antropologis Smith yang kontradiktoris namun menolak menganggapnya sebagai masalah (the dualist justificatory ), dan ketiga mereka yang menolak adanya kontradiksi asumsi antropologi dalam pemikiran Smith dan menyebutnya sebagai ‘pseudo-problem’ (the defensive approach).

Yang akan kita analisis pada bagian ini adalah pendekatan yang berbeda dari pendekatan tekstual-analitik, yaitu pendekatan historis (historical-approach ). Pandangan ini masih cukup baru dan bersemi di era 1970-1980-an. Titik tolak pendekatan ini adalah:

1. Menerima Adam Smith Problem. Mereka setuju dengan ‘French connection theorists’ dan ‘the dualist justificatory approach’, bahwa terdapat kontradiksi asumsi antropologis dalam TWN dan TMS,

2. Namun berbeda dengan kedua pendekatan tersebut di atas, pendekatan historis menolak mengasalkan kontradiksi ini pada Smith, melainkan pada situasi historis ‘commercial society’ pada masa Smith.

Individualitas-Sosial dan Ketersituasian self dalam Gagasan Smith

Untuk dapat memahami gagasan Smith, kita terlebih dahulu harus menganalisis bagaimana perkembangan gagasan tentang self (diri) dalam sejarah filsafat. Sejak Descartes, gagasan tentang diri menempati posisi sentral. Secara umum dapat dikelompokkan dalam dua tradisi besar. Pertama Cogito-Tradition atau tradisi-solipsistik yang diasalkan pada Descartes. Sebagaimana diketahui, Descartes berangkat dari prinsip cogito ergo sum atau saya berpikir maka saya ada. Artinya, ia bertolak dari self bukan ‘other-self’. Aku menjadi acuan bagi segala penilaian terhadap apa pun di luar diriku. Pertanyaan sentralnya adalah apakah model self-referential Cartesian, dapat menjadi sarana dan fundamen bagi sebuah penilaian, baik akan aku dan liyan sehingga memenuhi syarat imparsialitas? Dari sini lahir tradisi kedua yang disebut Mirror-Tradition yang dirintis Leibniz. Berkebalikan dengan Cogito-Tradition, Mirror-Tradition bertolak dari hubungan self dengan ‘other-self’. Tradisi ini berpandangan bahwa secara ontologis, manusia itu sudah berada dalam hubungan sosial. Adam Smith adalah penerus tradisi ini dan dapat dilacak dari gagasannya,

“…dua manusia liar yang tak pernah diajari berbicara dan dibesarkan jauh dari bangsa manusia, akan secara alamiah memulai menciptakan bahasanya sendiri untuk dapat hidup bersama dengan sesamanya, dengan cara menentukan bunyi-bunyi khusus ketika mereka memaksudkan objek-objek tertentu.”

Hal ini juga tercermin dalam edisi keenam TMS – yang merupakan edisi terakhir yang dibuat Smith – di mana sub judulnya menyatakan “toward an Analysis of the Principles by which Men naturally judge concerning the Conduct and Character. First of their Neighbours, and afterwards of themselves”. Bertolak dari paparan singkat tentang dua titik tolak tradisi ini, kita akan menelusuri lebih dalam konsepsi Smith tentang manusia dalam dua karyanya, TMS dan TWN.

Dalam TMS, Smith mengelaborasi beberapa konsep kunci seperti simpati, impartial spectator, dan self-command. Sebagaimana telah disinggung di bagian awal, dalam TMS Smith mengacu pada prinsip simpati, yaitu kapasitas untuk memosisikan diri pada posisi orang lain. Montes (2004:47-48) memberikan tafsiran menarik atas simpati ini. Menurutnya, Smith tegas mengambil jarak dengan pengertian simpati yang diasalkan dari sumpatheia (awalan Latin ‘cum’ sama dengan awalan Yunani ‘sun’, dan makna literal sumpatheia atau simpati adalah merasakan dengan atau bersama-sama dengan). Pengertian simpati bagi Smith, lebih dekat dengan empatheia, di mana awalan Yunani ‘en’ berarti dalam, menuju atau di dalam (within) merefleksikan pergantian tempat/posisi. Di sini sudah diandaikan pertanyaan tentang ‘how’, yakni kapasitas pengetahuan atau informatif bagi self. Terkait persoalan hubungan self dan others, Smith (TMS) mengajukan gagasan bahwa kita dapat merasakan apa yang dialami liyan melalui fakultas bernama imajinasi. Di sini tampak pendekatan cermin dari Smith, bahwa ia mengonsepsikan secara imajinatif seorang pengamat yang dapat menjadi cermin bagi agen. Imparsialitas yang melekat pada diri pengamat ini memiliki dua dimensi sekaligus, eksternal yang mengacu pada hubungan sosial dan dimensi internal yang tergambar dari prinsip kebebasan suara hati (Göçmen:2007,96 ).

Hal berbeda akan tampak jika kita membaca TWN. Dalam karya ini, Smith mencoba memotret sosok konkrit manusia dalam masyarakat perdagangan (commercial society ) dalam terang prinsip etis TMS. Menurut Göçmen, Smith melakukan analisis dengan dua senjata metodologis, pertama apa yang disebutnya kaidah epistemologis “critical Common-Sense realism” yang berprinsip, subjek yang dikaji harus dianalisis dan dihadirkan dalam kondisi sesungguhnya; dan kedua, formulasi Smith mengenai “essence” dan “appearance” yang secara implisit diandaikan. Dengan dua strategi metodologis ini, kita dapat membaca karya Smith TWN dalam terang sejarah, sekaligus tarikan kaidah etis yang sudah selalu diandaikan dalam TMS. Kita akan membaginya dalam dua pembacaan:

Pertama, self dalam commercial society.

Pendekatan yang dilakukan bersifat historis. Smith mengidentifikasi relasi kausal antara pembagian kerja dengan kelahiran masyarakat pasar (market society). Pembagian kerja tidak hanya secara proporsional meningkatkan produktivitas kerja, tetapi juga pada saat bersamaan memisahkan perdagangan dan pekerjaan yang berbeda-beda satu sama lain (TWN, I.i.4). Namun, hal sebaliknya terjadi, yakni tingkat kedalaman dan perluasan pembagian kerja juga tergantung pada perluasan relasi-relasi pasar. Smith tampak mengambil begitu saja konsep kesetaraan dalam perdagangan, di mana tukar-menukar terjadi karena ada kesetaraan, misalnya tercermin pada ukuran nilai yang disepakati atau kontrak yang ditandatangani (TWN, I.ii.2). Ia masuk lebih dalam ketika dalam relasi pertukaran tidak sekedar melihat fakta adanya perbedaan dan kesetaraan (difference and equality), tetapi juga melibatkan relasi-relasi kekuasaan. Meski secara netral ia menamainya sebagai potensialitas untuk membeli dan menjual, Smith juga mengakui adanya dominasi dan relasi kekuasan yang terjadi dalam hubungan pembagian kerja dan pasar. Sebagaimana ditulisnya,

”adalah kekuatan perdagangan yang membuka kesempatan terciptanya pembagian kerja, sehingga perluasan pembagian kerja harus selalu dibatasi dengan perluasan kekuasaan, yaitu perluasan pasar.” (TWN, I.iii.1).”

Smith juga mengidentifikasi bahwa relasi perdagangan adalah relasi kekuasaan, karena pasar sebagai lembaga menjadi penopang seluruh relasi sosial akan mencerminkan kesenjangan sosial dan akhirnya akan membalik keadaan dari adanya kesetaraan menjadi dominasi – dominasi sosial (Göçmen: 2007, 101).

Dari titik ini kita dapat memahami gagasan Smith tentang self-interest sebagai penggerak relasi dalam perdagangan. Ini adalah implikasi dari pembagian kerja dan perluasan relasi pasar. Pembagian kerja yang menciptakan pemisahan perdagangan dan pekerjaan satu sama lain, akan melahirkan relasi kepemilikan pribadi. Lalu relasi kepemilikan pribadi ini berakibat terciptanya isolasi satu sama lain dikarenakan masing-masing individu bekerja untuk dirinya sendiri, dan implikasi terdalamnya adalah besaran kepemilikan pribadi ini akan menentukan model relasi dan ukuran kekuasaan. Di sinilah penjelasan terhadap asumsi self-interest muncul, bahwa konsep ini hadir justru merespon dan menjadi refleksi terhadap situasi empirik yang terjadi.

Kedua, self dalam sphere of production (ranah produksi)

Dalam keseluruhan analisis di TWN, Smith lebih menekankan pentingnya peningkatan kualitas kerja dan pekerja dibandingkan dengan mesin dan alat produksi lainnya. Ia meyakini pembagian kerja adalah sumber utama bagi peningkatan kekuatan produktif pekerja, melalui peningkatan kemampuan pekerja (TWN, I.i.1). Perhatian Smith lalu tertuju pada bagaimana pembagian kerja berdampak pada pendangkalan bagi pekerja yang hanya menghadapi hal-hal sederhana dalam kesehariannya, hingga menjadi bodoh dan abai (TWN, V.i.f.50 ). Tampak Smith begitu cemas dengan keadaan ini dan mengkhawatirkan kemerosotan bagi civilized society. Ia membedakan dua relasi pekerja. Pertama, relasi antar kelas sosial dalam commercial society dalam hubungannya dengan sarana produksi, yang dibagi antara pekerja, pemilik pabrik, dan tuan tanah. Kedua, relasi internal pabrik antara pekerja dan majikan dalam hubungan subordinatif (TWN, I.viii.12).

Dari kedua pendekatan itu kita dapat melihat pembedaan penting yang dilakukan Smith. Individu dalam commercial society atau di pasar bersifat abstrak dan relasinya kuantitatif, yang tercermin dalam pertukaran. Sebaliknya dalam ranah produksi, relasi individu jelas tidak setara dan menunjukkan stratifikasi sosial. Pekerja mewakili sebuah kelas sosial tertentu, pula para pemilik pabrik dan tuan tanah. Kesamaan kelas sosial inilah yang memungkinkan simpati tumbuh. Terkait situasi dan relasi antara individu dan kelas sosial dalam commercial society, Smith mencatat dalam TMS (VI.ii.2.7),

“…tiap negara merdeka terbagi dalam berbagai tatanan dan masyarakat, masing-masing memiliki kekuasaan partikular, privilese, dan imunitas. Tiap individu secara alamiah menjadi bagian dari tatanan partikular masyarakatnya, dibandingkan masyarakat lain. Kepentingan dirinya, kecongkakan, dan kepentingan diri dan kecongkakan teman dan sesamanya secara umum terkait satu sama lain. Dia sangat berambisi memperluas hak istimewa dan imunitasnya. Dia berjuang mempertahankannya melawan pelanggaran oleh yang lain atau oleh masyarakat.”

Di sisi lain, Smith mencermati sungguh bahwa seluruh relasi sosial dalam commercial society tidak dapat direduksi dalam relasi pertukaran semata. Manusia secara kodrati senantiasa mencari dan telah diberi jalan untuk saling bersimpati, saling mencintai, dan saling menghormati. Namun di sisi lain manusia hidup dalam situasi di mana prinsip ‘barangsiapa menawarkan kepada yang lain suatu barang, lakukan pula hal serupa. Berikan kepadaku apa yang aku inginkan, dan kamu akan mendapatkan apa yang engkau inginkan” (TWN, I.11.2.). Dan bagi Smith jelas, bahwa prinsip self-interest meski mendorong tindakan dalam perdagangan, tidak dapat dijadikan dasar bagi relasi sosial yang didirikan di atas prinsip mutual sympathy, sebagaimana dikatakan Smith (TMS, I.i.2.1),

“…mereka yang gemar mengasalkan seluruh perasaan kita dari ‘self-love’ berpikir bahwa mereka benar menurut prinsip mereka sendiri, baik suka maupun duka. Manusia menyadari kelemahan diri, dan membutuhkan bantuan sesamanya, bersukacita tatkala ia mendapati sesamanya bersedia membantu; dan ia akan bersedih ketika mendapati kenyataan sebaliknya. Tetapi baik suka maupun duka seringkali datang tiba-tiba dan timbul akibat sikap sembrono dan bukan akibat pertimbangan kepentingan-diri.”

Kritik Smith terhadap Commercial Society

Pada bagian ini akan dielaborasi pendekatan historis terhadap ASP. Tesis inti yang ingin dibuktikan adalah problem adanya dua konsep manusia dalam dua karya Smith, tidak berakar pada pemikiran atau kontradiksi internal dalam teks Smith, melainkan pada situasi historis yang dihadapi dan sekaligus ingin dilampaui Smith. Berikut ini beberapa kritik Smith:

Pertama, kritik terhadap Pembagian Kerja (division of labour).

Pendekatan yang digunakan Smith dalam menganalisis pembagian kerja bersifat sosio-historis bukan naturalis seperti Durkheim. Smith mengkritik situasi dari self yang diakibatkan pembagian kerja dalam commercial society. Pokok dari kritik Smith adalah distribusi waktu (struktur waktu) yang mengalienasi pekerja dan berpotensi mendegradasi kualitas mereka karena mengancam kesempatan memperoleh pendidikan. Ia mengusulkan bahwa usia masuk kerja paling rendah usia 18 atau 19 tahun dan sebelumnya ia berhak mendapat pendidikan (TWN, V.i.f.52.). Ia menyerukan bahwa pendidikan menjadi urusan publik, bukan urusan sekelompok orang saja, agar ada jaminan bagi semua level sosial. Bagi Smith, kelompok orang yang beruntung akan memiliki waktu lebih banyak dan kesempatan lebih luas jika dibandingkan dengan kaum pekerja. Secara keras Smith mengatakan, dalam negara-negara beradab, kerja dan waktu para buruh dikorbankan demi memelihara kenyamanan dan kemewahan orang kaya (Smith, Lectures on Jurisprudence, hlm. 340, dikutip dari Göçmen, hlm. 125). Smith bahkan memberikan ilustrasi yang cukup gamblang, bahwa 10.000 buruh diperlukan untuk menopang satu individu, yakni majikan. Kritik Smith ini sungguh tajam dan selain mengkritisi situasi zamannya, apa yang dicita-citakan Smith tentu saja masih sangat relevan hingga saat ini, ketika jumlah pengangguran meningkat dan jumlah pekerja tak berkeahlian juga bertambah.

Kedua, kritik terhadap Struktur Kelas (class structure).

Smith menentang feodalisme dan membela commercial society dalam konteks, ia memiliki harapan adanya kerjasama antara pekerja dan pengusaha (majikan) untuk meruntuhkan feodalisme. Menurut Göçmen, ada tiga hal pokok dalam pemikiran Smith terkait persoalan struktur kelas. Pertama, Smith menganalogikan hidup seperti sebuah permainan, di mana tiap individu harus bermain dengan serius dan tidak kalah agar mendapatkan kemenangan. Tiga kelas sosial, pekerja, pengusaha, dan tuan tanah juga melibati permainan sosial ini. Kedua, pertentangan antara ‘nilai guna’ dan ‘nilai tukar’ di mana keduanya menunjukkan pertentangan antara modus pemenuhan kebutuhan dan modus akumulasi kekayaan; dan ketiga, Smith meyakini kesinambungan masyarakat sebagai “ada” dalam kepentingan umum dari masyarakat (TWN, I.xi.p.8 ). ‘Kepentingan umum dari masyarakat’ menunjuk pada ekspresi prinsip imparsial yang menjadi cermin bagi individu memandu tindakannya. Menurut Göçmen, Smith menganggap hanya ada satu kelas sosial yang kepentingannya tidak pernah berkonflik dengan kepentingan masyarakat (Göçmen: 2007,133).

Ketiga, kritik terhadap Struktur Pengakuan (structure of recognition).

Secara teleologis, Smith mempertanyakan tujuan akhir dari kehidupan manusia. Baginya seluruh tindakan manusia terarah pada pengakuan timbal balik (mutual recognition, TMS,I.ii.2.1). Faktanya mutual recognition ini dirusak oleh relasi kelas sosial yang timpang akibat lahirnya pembagian masyarakat dalam “si kaya” dan “si miskin”, dan juga berakibat terbelahnya impartial spectator menjadi “impartial spectator without” dan ‘impartial spectator within”. Yang Publik – sebagai impartial spectator without – telah gagal menjadi pemandu ketika kesejahteraan kemudian dijadikan ukuran bagi pengakuan dan hanya akan dinikmati sebagian kecil orang kaya yang beruntung. Karenanya Smith berharap impartial spectator within harus diperdalam sehingga dapat dijadikan prinsip pengakuan (Göçmen:2007,137; Smith, TMS, IV.i.8).

Penutup

Paparan di atas mencoba menunjukkan sebuah pendekatan lain terhadap ASP, di luar pendekatan tekstual-analitik yang sudah jamak diketahui. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, pendekatan historis tidak mengasumsikan Smith membangun teori tentang individualitas-sosial dalam TMS dan teori tentang individualitas-egoistik di TWN. Pendekatan ini justru ingin menunjukkan bahwa Smith membangun dalam kedua karyanya itu sebuah konsepsi tentang individualitas-sosial. Artinya, TMS membangun secara konseptual individualitas-sosial ini (bdk. Mehta:2004; Mondes:2004; Vivienne Brown :1994) dan kemudian mendekati secara kritis situasi konkrit di zamannya. Secara substansial seluruh asumsi dan argumen filosofis dalam TMS mengiringi seluruh isi TWN, sebagai kritik imanen atas situasi yang dihadapi manusia dalam commercial society. Bukti empirik dari tesis ini telah dipaparkan secara ringkas, dan dapat diimbuhkan dari kutipan paling terkenal dalam TWN (I.ii.2 )

“Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman atau tukang roti kita mendapatkan makan malam kita, melainkan dari penghargaan mereka atas kepentingan dirinya. Kita mengarahkan pada diri kita, bukan pada kemanusiaannya melainkan pada kepentingan dirinya, dan tak pernah mengatakan kepada mereka mengenai kebutuhan kita, tetapi berbicara soal kebutuhan-kebutuhan mereka.”

Dapat dijelaskan, pertama frase ‘the butcher-brewer-baker’ muncul pada TWN pertama kali pada Buku I Bab II di bawah judul ‘Of the Principle which gives occasion to the Division of Labour’. Sebelum masuk ke bagian ini, Smith mengajukan beberapa pertanyaan, ‘Apa yang memungkinkan pembagian kerja dan relasi pertukaran komersial terjadi? Apakah prinsip yang memungkinkan itu terkait dengan kecenderungan kodrati manusia ataukah pada kebijaksanaan, nalar ataukah percakapan? Apakah kodrat dari relasi perdagangan itu? Dan apakah perdagangan terjadi dan bekerja di bawah prinsip kebaikan-hati ataukah kepentingan-diri?’

Pertanyaan tadi hanya dapat didekati jika dan hanya jika TMS ada dalam konsepsi kita. Tentu saja seluruh pembahasan dalam paparan ini tak menjawab seluruh problem yang ada. Akhirnya kita melihat bagaimana Smith bertolak dari prinsip epistemologisnya yaitu critical common-sense realism, mencoba menyuntikkan ‘yang seharusnya’ dan ‘yang mungkin’ dalam ‘apa yang ada’.

Seharusnya, melalui cara inilah Smith ditempatkan sebagaimana mestinya dan keseluruhan kompeksitas yang ada tidak dikaburkan begitu saja demi sebuah klaim yang kadang dirumuskan untuk diwujudkan kebenarannya, ketimbang diandaikan secara inheren menjadi prinsip yang memandu keseluruhan perjalanan sejarah individu,. Termasuk di sini, penempatan serampangan bahwa Smith adalah pembela utama kapitalisme dan sistem ekonomi pasar, tapi mengabaikan muatan pesan moralnya yang adiluhung.***

Justinus Prastowo, adalah mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF), Drijarkara, Jakarta.

Untuk memudahkan pembacaan, sejumlah catatan kaki dari artikel ini ditiadakan.

Kepustakaan:

Brown, Vivienne, Adam Smith’s Discourse, Routledge, London, 1994

Brown, Vivienne (ed.), Adam Smith Review Vol. 1, Routledge, NY, 2004

Brown, Vivienne (ed.), Adam Smith Review Vol. 2, Routledge, NY, 2006

Brown, Vivienne (ed.), Adam Smith Review Vol. 3, Routledge, NY, 2007

Brown, Vivienne (ed.), Adam Smith Review Vol. 4, Routledge, NY, 2008

Fleischacker, Samuel F. On Adam Smith’s Wealth of Nations: A Philosophical Companion. Princeton: Princeton University Press,2004

Göçmen, Dogan, The Adam Smith Problem, Tauris Academic Studies, London, 2007

Heilbroner, Robert. The Worldly Philosophers: The Lives, Times and Ideas of the Great Economics Thinkers. London: Penguin Books, [1952] 2000.

Herry-Priyono,B. “Homo Oeconomicus: Dari Pengandaian ke Kenyataan” Dalam I. Wibowo & B. Herry-Priyono (eds), Sesudah Filsafat: Esai-esai untuk Franz Magnis-Suseno. Yogyakarta: Kanisius.2006, hlm. 87-132

Herry-Priyono,B. “Adam Smith dan Munculnya Ekonomi: Dari Filsafat Moral ke Ilmu Sosial. Dalam Jurnal Diskursus Vol. 6, No.1, April 2007, hlm. 1-40

Mehta, Pratap Bhanu , “Self-Interest and Other Interests”, dalam Haakonssen, Knud (ed.), Cambridge Companion to Adam Smith, Cambridge, 2006

Montes, Leonidas, Adam Smith in Context A Critical Assessment of Some Central Component of His Thought, Palgrave MacMillan, New York, 2004

Raphael, D.D. Adam Smith. Oxford: Oxford University Press, 1985

Raphael, D.D., Impartial Spectator, Oxford University Press, NY, 2007

Smith, Adam. The Theory of Moral Sentiments. Edited bt: Knud Haakonssen. Cambridge: Cambridge University Press,[1759] 2002

Smith, Adam. The Wealth of Nations. Edited by: E.Cannan, New York: Modern Library, [1776] 2000.

 

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.